Mulut Sudah Berbusa, Melaney Ricardo Ungkit Pengalaman Mengerikan Masa Remaja: Hampir
Achmad Maudhody March 03, 2026 06:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Mulut sudah sampai berbusa, Melaney Ricardo ungkit pengalaman mengerikan masa remaja.

Sosok Melaney Ricardo dikenal sebagai salah satu presenter papan atas di tanah air.

Tak cuma di depan TV, Melaney juga sering disibukkan dengan pekerjaan membawakan acara off-air.

Meski usianya kini tak lagi muda, Melaney tetap berupaya selalu tampil dengan maksimal.

Wanita 45 tahun ini bersyukur kariernya tetap awet hingga kini.

Siapa sangka, di balik kehidupan suksesnya itu, Melaney pernah melalui masa-masa kelam. Ia bahkan pernah nyaris kehilangan nyawa.

Hal ini diungkap Melaney kala hadir di program FYP Trans 7, Selasa (3/3/2026).

Melaney Ricardo hadir dengan kedua orangtuanya, Ricardo Siahaan dan Sylvia Herawatie Boru Pardede. 

Awalnya mereka membicarakan kesehatan sang ayah yang menurun karena mengidap parkinson.

Melaney sempat menyebutkan momen-momen indah ketika dirinya dan sang sang ayah masih bisa berkomunikasi secara normal. Kini, Melaney hanya bisa mengenang kenangan-kenangan mereka, baik dan buruknya.

Rupanya, salah satu hal buruk yang sampai saat ini masih diingat Melaney adalah ketika suatu malam, Melaney remaja dan teman-temannya berpesta di sebuah kelab malam. Mereka mengonsumsi apapun yang ada di meja secara berlebihan.

Tak disangka, di malam itu tubuh Melaney lepas kendali. Melaney ambruk dan ia mengaku sempat mengalami hal-hal di luar nalarnya.

“Aku almost that experience (nyaris meninggal dunia), aku melihat seperti roh gue hampir keluar dari badan gue, tapi guenya masih hang out sama teman-teman,” kata Melaney.

Baca juga: Dokter Peringatkan soal Kondisi Rahim Lesti Kejora, Rizky Billar Diminta Tak Tambah Anak Lagi

Melaney dikenal sebagai artis yang selalu totalitas dalam mengerjakan apapun. Rupanya, ambisi itu terbawa sampai ranah pesta. Beruntung, saat itu Melaney masih bisa terselamatkan.

“Aku Puji Tuhan masih bisa hidup, karena teman banyak party hura-hura itu meninggal, gue bisa aja saat itu meninggal,” kata Melaney.

Sebenarnya, ujar Melaney, pengalaman ini tak pernah benar-benar mau ia ungkapkan. Bahkan, sang ibu sempat melarang Melaney berbicara hal ini kepada publik. Selain aib, cerita ini juga masih sering membuat sang ibu sedih bukan main.

“Bokap nyokap gue taunya gue ngekost, gak tau gue nakal. Waktu dibawa ke rumah sakit, kalau something happened to me itu masa bokap nyokap gak ada, jadi gue suruh temen gue telepon orangtua gue,” kata Melanie.

“Karena waktu itu, gue udah berbusa mulutnya,” kata Melaney.

“Sampai di rumah sakit bilang ke dokter, saya habis party, dan dokter tau itu kenapa,” kata Melaney.

Sebelum insiden itu terjadi, Melaney mengakui jika hubungannya dengan sang ayah tak melulu baik, bahkan kerap saling keras kepala. Namun, ketika sang ayah melihat putrinya terbujur lemas di ranjang rumah sakit, ia tak marah, sebaliknya, ayahanda Melaney tertunduk sedih dan muram.

“Justru papa mama pas lihat gue di rumah sakit gak marah, ya diam aja. Justru itu, gue sebagai anak ngerasa failed sebagai anak dan mengecewakan orangtua,” kata Melaney.

“Itu terakhir kali aku ikut party dan segala macam, berhenti total. Sebenarnya, ada beberapa kejadian yang bikin gue hampir traumatik, sama Tuhan dicolek gue bodo amat, gitu terus, dan saat itu gue ditampar, ya sudah,” kata Melaney.

“Gue juga alami masalah mental lumayan lama. Gue selalu merasa ketakutan, paranoid.”

“Otak gue terus mikir, capek, ketakutan, kejang-kejang, efek dari kejadian sebenarnya 2-3 tahun, tapi orang gak pernah tau, masih on off gue sakitnya. 

“Mungkin saat itu gue udah lewat, tapi mama papa gue itu doa sih,” katanya.

Cara Melaney dan Tyson Lynch Jaga Anak dari Risiko Pergaulan

Pasangan suami istri Melaney Ricardo dan Tyson Lynch membagikan cara mereka menjaga anak-anak di tengah kekhawatiran soal lingkungan dan pergaulan. Mereka menilai tantangan orang tua saat ini semakin besar, terutama ketika anak mulai memasuki usia remaja.

Keduanya sepakat bahwa fondasi terpenting dalam hubungan orang tua dan anak adalah komunikasi. Hal ini dianggap menjadi kunci agar anak tetap terbuka dalam berbagai situasi.

"Ya menurut saya harus komunikasi. Komunikasi untuk hal sesuatu yang baik atau sedang bingung (sulit), yang penting komunikasi," ujar Tyson di kawasan Margonda, Depok, dikutip dari Grid.id, Selasa (24/2/2026).

Ia menambahkan, faktor komunikasi juga penting karena perkembangan teknologi membuat anak mudah terhubung dengan siapa saja. Menurutnya, orang tua perlu sadar bahwa dunia anak sekarang jauh lebih luas dibanding dulu.

"Dan ada beberapa sosial media atau beberapa caranya untuk bisa hubungan sama siapapun dari bukan Indonesia, Australia atau Amerika, apapun jadi harus komunikasi," katanya.

Melaney juga menekankan pentingnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Ia percaya hubungan yang hangat membuat anak merasa aman untuk bercerita.

"Yang penting sama anak-anak tuh dekat ya, apalagi Chloe kan sudah mulai teenager, sudah mulai ABG. Supaya kalau dia punya crush, sekarang sebutnya bukan gebetan, crush, bisa cerita" jelas Melaney.

Ibu dua anak ini mengatakan kedekatan itu sangat membantu ketika anak menghadapi masalah. Dengan begitu, orang tua bisa mengetahui kondisi anak lebih cepat.

"Mereka punya pergaulan atau masalah di sekolah, ada bullying mungkin di sekolah ataupun di sosial media, mereka akan selalu bisa cerita sama orang tuanya," tuturnya

Melaney juga mengungkapkan bahwa putrinya termasuk anak yang cukup terbuka. Meski demikian, ia memahami bahwa setiap anak tetap memiliki ruang privasi.

"Chloe ini memang terbuka sama aku, tapi tentu pasti mereka ada hal-hal yang di-keep untuk diri sendiri dan aku mengerti itu," katanya.

Ia merasa bersyukur karena sang anak masih sering berbagi cerita keseharian. Hal tersebut membuatnya merasa lebih dekat sekaligus lebih tenang sebagai orang tua.

"Cuma sebagian besar dia naksir siapa, dia hari ini seperti apa, dia pasti cerita terutama ke aku ya dan ke bapaknya, tapi paling dekat pasti ke ibunya," ungkapnya.

Dalam hal percintaan remaja, pasangan ini menerapkan aturan yang tegas namun tetap realistis. Mereka ingin anak memahami batasan tanpa merasa dikekang.

"Sekarang pacaran belum boleh, tapi kalau naksir-naksiran mereka cerita. Cuma kalau pacaran in relationship ke mana-mana berdua, belumlah, masih 14 tahun," pungkasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Grid.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.