TRIBUN-MEDAN.COM - Ketersediaan stok senjata dalam perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran di wilayah Teluk akan menjadi pembeda dalam eskalasi tahun 2026 ini.
Gelombang serangan drone oleh Iran memberikan tekanan pada pertahanan AS dan para sekutunya dari Bahrain hingga Uni Emirat Arab, yang menghabiskan persediaan stok senjata.
Hasil pertempuran mungkin bergantung pada pihak mana yang kehabisan amunisi terlebih dahulu.
Hingga Selasa (3/3/2026), drone jelajah murah dan sederhana jenis Shahed-136 milik Iran terus menghujam berbagai target di Timur Tengah, mulai dari pangkalan militer hingga infrastruktur sipil.
Ketimpangan nilai harga senjata sistem pertahanan udara Patriot buatan AS memang sangat efektif dengan tingkat intersepsi di atas 90 persen.
Namun, biaya untuk menjatuhkan satu unit drone Shahed milik Iran seharga 20.000 dollar AS (sekitar Rp 337 juta) membutuhkan satu rudal Patriot AS seharga 4 juta dollar AS (sekitar Rp 67,5 miliar).
Ini menggambarkan masalah yang telah menghantui para perencana militer Barat sejak awal perang Ukraina, yakni senjata murah dapat menghabiskan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk ancaman yang jauh lebih kompleks.
Akibatnya, baik Iran maupun AS mungkin akan kehabisan senjata dalam hitungan hari atau minggu.
Siapa pun yang dapat bertahan lebih lama akan mendapatkan keuntungan serius.
Proksi regional Iran sangat melemah akibat perang di Gaza dan kemampuan rudalnya rusak akibat serangan Israel-AS sebelumnya dalam perang 12 hari pada Juni 2025.
"Strategi pelemahan (attrition strategy) masuk akal secara operasional dari perspektif Iran,” kata peneliti senior di lembaga think-tank Stimson Centre, Kelly Grieco, dikutip dari SCMP, Selasa (3/3/2026).
“Mereka memperhitungkan bahwa pihak bertahan akan kehabisan rudal pencegat mereka dan kemauan politik negara-negara Teluk akan runtuh, serta menekan AS dan Israel untuk menghentikan operasi sebelum mereka kehabisan rudal dan drone,” sambungnya.
Krisis Persediaan Senjata di Negara Teluk
Menurut analisis internal yang dilihat oleh Bloomberg News, persediaan rudal pencegat Patriot Amerika Serikat di Qatar akan bertahan selama empat hari dengan tingkat penggunaan saat ini.
Karena itu, Doha secara pribadi telah mendesak agar konflik segera diakhiri.
Di sisi lain, Iran diperkirakan masih memiliki sekitar 2.000 rudal balistik setelah konflik tahun lalu dengan Israel.
Sehingga, rudal balistik ini akan diluncurkan, setelah rudal pencegat Patriot AS yang berada di kawasan Teluk sudah menipis, karena gempuran drone Shahed yang jauh lebih banyak dan murah.
Kepala pertahanan di Bloomberg Economics, Becca Wasser mengungkapkan, Rusia mampu memproduksi Shahed dengan kecepatan beberapa ratus unit per hari.
AS dan mitra regionalnya terutama menggunakan sistem pertahanan udara Patriot buatan Lockheed Martin Corp yang menembakkan rudal PAC-3.
Meskipun Pentagon telah mendorong peningkatan produksi, hanya sekitar 600 rudal PAC-3 yang dibangun pada tahun 2025, menurut Lockheed.
Berdasarkan jumlah rudal dan drone yang dilaporkan ditembak jatuh, ribuan pencegat kemungkinan besar telah ditembakkan di Timur Tengah sejak Sabtu (28/2/2026).
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga mengoperasikan THAAD, sistem Lockheed yang dirancang untuk menghantam rudal yang lebih canggih dan bergerak lebih cepat di tepi atmosfer.
Rudal-rudal tersebut kemungkinan besar tidak akan digunakan untuk melawan apa pun selain Iran, dengan nilai lebih mahal, sekitar 12 juta dollar AS atau sekitar Rp202,5 miliar per rudal.
Teheran telah menembakkan lebih dari 1.200 proyektil sejak awal konflik tahun ini, dengan banyak di antaranya adalah rudal drone Shahed.
Wasser menilai, hal itu menunjukkan bahwa mereka mungkin menyimpan rudal balistik yang lebih merusak untuk serangan berkelanjutan/susulan.
Di sisi lain, militer Iran tampaknya bertindak tanpa koordinasi yang erat atau sering dengan kepemimpinan sipil, termasuk kementerian luar negeri.
“Unit militer kita sekarang sebenarnya independen dan agak terisolasi, mereka bertindak berdasarkan instruksi, instruksi umum yang diberikan kepada mereka sebelumnya,” kata Menteru Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera pada Minggu (1/3/2026).
Secara defensif, Iran hanya memiliki sedikit amunisi yang tersisa untuk berperang.
Serangan udara pada jam-jam awal perang menghantam baterai rudal permukaan-ke-udara Iran, yang paling modern di antaranya adalah S-300 buatan Rusia.
Pesawat tempur AS dan Israel telah beroperasi di wilayah udara Iran tanpa kesulitan yang dilaporkan sejak saat itu. AS juga telah menggunakan patroli jet tempur yang dilengkapi rudal Advanced Precision Kill Weapon System (APWS), yang masing-masing berharga 20.000-30.000 dollar AS ditambah biaya operasional jet tersebut.
Penggunaan laser, meriam otomatis, atau bahkan drone lain dapat menjadi cara yang lebih murah untuk melindungi kota-kota dan instalasi, sehingga sistem yang mahal dapat digunakan untuk masalah yang lebih besar.
Laser Iron Beam yang dikembangkan oleh perusahaan pertahanan Israel, Rafael Advanced Defense Systems, dimaksudkan untuk mengatasi masalah ini.
Akan tetapi, Angkatan Pertahanan Israel mengatakan bahwa laser tersebut belum digunakan dalam konflik.
Jika intensitas serangan Iran saat ini terus berlanjut, persediaan PAC-3 di wilayah tersebut dapat menipis dalam beberapa hari, menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut dengan syarat anonim.
Jika senjata ofensif juga berkurang, kebuntuan dapat terjadi. “Sementara itu, persediaan rudal dan drone Iran mungkin akan berkurang dan rezim itu sendiri mungkin dapat tetap utuh, meskipun dalam kekacauan,” kata peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, Ankit Panda.
“Ini tampaknya merupakan hasil yang mungkin terjadi berdasarkan 60 jam pertama perang ini,” sambungnya.
Pangkalan AS Rawan Jadi Sasaran Empuk Iran
Sementara, Pakar rudal dari Universitas Oslo, Fabian Hoffmann, memperingatkan bahwa intensitas penggunaan rudal pencegat saat ini sulit untuk dipertahankan dalam jangka panjang.
"Intensitas penggunaan pencegat yang kita lihat selama beberapa hari terakhir tidak dapat dipertahankan lebih dari satu minggu, mungkin hanya beberapa hari saja, dan kemudian mereka akan merasakan dampak dari kekurangan rudal pencegat," ujar Hoffmann.
Data menunjukkan besarnya skala serangan yang dihadapi negara-negara Teluk, sebagaimana dilansir Wall Street Journal.
Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan bahwa hingga Senin (2/3/2026) malam, wilayahnya telah menjadi target 174 rudal balistik, delapan rudal jelajah, dan 689 drone dalam tiga hari.
Sementara itu, Bahrain melaporkan adanya 70 rudal balistik yang masuk ke wilayah mereka.
Di Kuwait, serangan drone Iran menghantam Kedutaan Besar AS. Sementara di Qatar, pembangkit listrik utama dan kilang gas alam cair (LNG) turut menjadi sasaran.
Secara teknis, dibutuhkan dua hingga tiga rudal pencegat, seperti sistem Patriot atau THAAD, untuk melumpuhkan satu rudal balistik.
Pejabat Barat memperkirakan Iran memiliki lebih dari 2.000 rudal yang mampu menjangkau negara-negara Teluk. Sebaliknya, data sumber terbuka menunjukkan stok yang terbatas.
Hoffmann mengalkulasi bahwa UEA hanya memesan kurang dari 1.000 rudal pencegat, Kuwait sekitar 500, dan Bahrain kurang dari 100 unit.
Meski demikian, pemerintah UEA membantah kekhawatiran tersebut.
Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan bahwa mereka memiliki sistem pertahanan udara berlapis yang mampu menangkal spektrum ancaman udara dengan efisiensi tinggi.
"UEA memelihara cadangan amunisi strategis yang kuat, memastikan kemampuan intersepsi dan respons yang berkelanjutan dalam jangka waktu lama, sembari menjaga kesiapan operasional penuh untuk melindungi keamanan nasional," tulis pernyataan resmi tersebut.
Senada dengan UEA, Qatar juga menegaskan bahwa inventaris rudal Patriot mereka masih mencukupi.
Di sisi lain, Pentagon pun mulai kehabisan stok rudal Patriot karena sebagian besar dialokasikan untuk membantu Ukraina menghadapi Rusia.
Kondisi ini memaksa negara-negara Teluk untuk mulai melakukan penjatahan.
Becca Wasser, peneliti di Center for a New American Security, memprediksi akan ada perubahan taktik yang berisiko.
"Kita akan melihat penggunaan rudal pencegat yang jauh lebih bijaksana, di mana mereka hanya digunakan untuk target bernilai paling tinggi seperti rudal balistik," kata Wasser.
Menurutnya, pergeseran taktik ini berarti membiarkan beberapa drone lolos. "Hal ini akan berdampak buruk pada stabilitas yang selama ini dijajakan negara-negara Teluk untuk menarik investasi dan pariwisata," tambahnya.
Analis keamanan Israel, Michael Horowitz, menyoroti bahwa fasilitas energi sangat sulit dipertahankan dari serangan drone Shahed milik Iran.
Berbeda dengan rudal, drone lebih mudah disembunyikan dan dapat menyebabkan kerusakan fatal pada instalasi yang mudah terbakar seperti kilang minyak.
"Dalam hal konsekuensi geostrategis utama, drone sebenarnya jauh lebih berdampak daripada rudal. Dan Iran dapat terus melakukan serangan drone dalam waktu yang sangat lama," tutur Horowitz.
Selain itu, tantangan lainnya adalah kurangnya sistem pertahanan titik yang murah, seperti tim bersenjata senapan mesin, untuk melumpuhkan drone berbiaya rendah.
Dara Massicot dari Carnegie Endowment for International Peace menilai, AS dan mitra Teluknya harus segera mengadopsi pelajaran dari perang di Ukraina.
"Sangat menyakitkan melihat kurangnya pertahanan titik di instalasi militer kita. Perang di Ukraina bukan sekadar perang darat di Eropa; ada revolusi dalam cara perang dilakukan yang perlu dipertimbangkan oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut," tegas Massicot.
(*/Tribun-medan.com)
Baca juga: Menlu RI Akhirnya Berhasil Hubungi Pihak Iran, Siap Mainkan Peran Konstruktif Hentikan Perang
Baca juga: Pantas Ikut Serang Iran Habis-habisan, Ternyata Presiden AS Donald Trump Punya 4 Tujuan Ini