SBY Peringatkan Ancaman Perang Dunia III dan Bahaya Jebolnya APBN Imbas Konflik Timur Tengah
Adrianus Adhi March 03, 2026 07:32 PM

SURYA.co.id - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas.

Dalam wawancara di podcast perdana "SBY Standpoint" bersama anggota Komisi I DPR RI, Rizki Natakusumah, SBY memperingatkan bahwa konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran berpotensi meluas menjadi Perang Dunia III serta membawa dampak mengerikan bagi perekonomian Indonesia.

Dalam analisis geopolitiknya, SBY menyebut bahwa ketegangan saat ini bukan lagi sekadar konflik bilateral, melainkan telah menjadi perang regional yang melibatkan banyak aktor.

"Sekarang sudah meluas. Tidak lagi hanya Israel bersama Amerika berperang melawan Iran, tetapi yang lain juga nimbrung. Pasukan proxy seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, dan Houthi di Yaman sudah melibatkan diri," ungkap SBY.

Baca juga: Kondisi Terakhir Bupati Trenggalek Mas Ipin Kepulangan Umrah Tertunda, Imbas Perang Iran Israel

Ancaman Perang Dunia III dan Keterlibatan NATO

SBY secara khusus menyoroti serangan terhadap pos militer Inggris di Siprus. Ia memperingatkan tentang potensi aktifnya Pasal 5 NATO (Article 5 of NATO), di mana serangan terhadap satu anggota NATO dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.

"Jika anggota NATO nimbrung di situ (berperang bersama Inggris melawan penyerang),"

"Bagaimana dengan Rusia? Bagaimana dengan Tiongkok? Bagaimana dengan Korea Utara? Ini sangat berbahaya."

"Saya sering mengatakan, Perang Dunia III bisa terjadi meskipun sebenarnya bisa dicegah," tegas SBY.

SBY juga mengkritik narasi "pergantian rezim" (regime change) di Iran yang digaungkan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Berdasarkan sejarah kelam intervensi militer di Irak, Afghanistan, dan negara-negara Arab Spring (Mesir, Libya), SBY menegaskan bahwa menggulingkan pemerintahan dari luar tidak akan pernah membawa kedamaian, justru akan menimbulkan penderitaan luar biasa bagi warga sipil yang tidak berdosa.

Baca juga: IHSG: Perang AS-Israel vs Iran dan Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasar

Dampak Mengerikan Bagi Ekonomi RI: APBN Bisa Jebol

Lebih jauh, SBY memperingatkan pemerintah Indonesia untuk bersiap menghadapi skenario terburuk secara ekonomi jika perang di Timur Tengah terus berlanjut. Ancaman terbesar ada pada pasokan energi global.

Ia menjelaskan bahwa Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi 20 persen pasokan energi dunia (minyak dan gas), bisa tersumbat akibat perang. Jika hal itu terjadi, harga minyak mentah dunia akan meroket tajam.

Hal ini akan menjadi pukulan telak bagi Indonesia yang saat ini berstatus sebagai negara net importer (pengimpor neto) minyak.

"Kita ini bukan lagi negara pengekspor minyak. Kita pengimpor. Produksi kita hanya sekitar 600.000 barel per hari, padahal kebutuhan kita jauh di atas itu. Kalau harga BBM dan gas dunia naik, siap tidak kita?" tanya SBY.

SBY menjabarkan dua pilihan sulit yang akan dihadapi pemerintah: menaikkan harga BBM dan Gas di dalam negeri yang akan memicu inflasi dan menyusahkan rakyat, atau menahannya dengan subsidi yang sangat besar.

"APBN kita ruang fiskalnya tidak lebar. Kalau harus menomboki subsidi karena harga minyak tembus 100 hingga 150 dolar per barel, defisit kita yang ratusan triliun bisa makin membengkak."

"Pemerintah harus siap-siap, karena tekanannya akan sangat nyata," jelas tokoh militer dan negarawan tersebut.

Baca juga: Imbas Perang AS-Israel Vs Iran, 4 Tokoh Desak Indonesia Keluar BoA Bentukan Donald Trump karena Ini

Seruan Diplomasi untuk Pemimpin Dunia

Di akhir perbincangannya, SBY menyayangkan tatanan dunia saat ini yang seolah membiarkan "hukum rimba" berlaku, di mana negara kuat bisa berbuat semaunya tanpa mengindahkan hukum perang dan hukum kemanusiaan internasional.

Lemahnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat konflik berlarut-larut seperti yang terjadi di Gaza, Palestina.

Ia mendesak agar para pemimpin dunia tidak tinggal diam dan kembali mengedepankan jalur diplomasi dan negosiasi.

"Lebih bagus mencegah perang daripada memulai perang. Perang harus selalu menjadi jalan terakhir (the last resort), bukan pilihan pertama," pungkas SBY

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.