Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Indonesia Terancam
Faisal Zamzami March 03, 2026 08:03 PM

 

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Selat Hormuz resmi ditutup pada Sabtu (28/2/2026), menyusul ekskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Penutupan jalur energi vital ini langsung mengguncang pasar minyak dan gas global.

Harga minyak mentah Brent di pasar Asia pada Senin (2/3/2026) melonjak menjadi 80–81,5 dolar AS per barel (sekitar Rp 1,35–1,37 juta, kurs Rp 16.700).

Sementara itu, kapal-kapal niaga tertahan, dan perusahaan pelayaran global menghentikan operasionalnya di kawasan Teluk untuk mengutamakan keselamatan awak dan kargo.

Mengenal Selat Hormuz

Selat Hormuz adalah selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Secara geografis, selat ini berada di antara Iran di utara dan Oman di selatan.

Pada titik tersempitnya, lebar selat ini hanya sekitar 33 kilometer, dengan jalur pelayaran efektif dua arah masing-masing sekitar 3 kilometer.

Lokasi ini membuat Selat Hormuz sangat strategis sekaligus rawan.

Selat ini menjadi satu-satunya pintu keluar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar menuju Asia dan Eropa.

Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia, atau sekitar 20 juta barrel per hari, serta hampir 20 persen gas alam cair (LNG) global melewati jalur ini.

Baca juga: Selat Hormuz Milik Siapa? Ini Dampaknya Jika Ditutp, Bisa Guncang Harga Minyak Dunia

Dampak penutupan Selat Hormuz pada harga minyak dunia

Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk pelayaran internasional, setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februar 2026.

Sejumlah kapal di kawasan Teluk menerima peringatan agar tidak melintas, dan operator pelayaran besar menunda perjalanan untuk keselamatan.

Dampaknya, harga minyak mentah Brent melonjak tajam.

“Kami memperkirakan situasi akan memburuk sebelum mereda. Namun, yang belum diketahui adalah niat dan kemampuan mereka (Iran) memblokir Selat Hormuz yang akan secara tajam mendorong kenaikan harga minyak dan gas,” jelas Kepala Ekonomi Global Commonwealth Bank of Australia, Joseph Capurso, dikutip dari The Guardian, Senin (2/3/2026).

Pemblokiran selat tersebut membuat harga minyak Brent mencapai 81,57 dolar AS per barel atau sekitar Rp 1,375 juta (kurs Rp 16.700).

Analis memperkirakan, jika konflik Israel-Iran berlanjut, harga minyak dunia berpotensi menyentuh 100 dolar AS per barel atau sekitar Rp 1,686 juta.

“Ini meningkatkan inflasi secara langsung melalui harga bahan bakar yang tinggi, tetapi dapat meluas ke harga yang lebih luas. Pada saat yang sama, hal ini cenderung mengurangi pertumbuhan melalui penurunan kemampuan masyarakat untuk berbelanja,” jelas Kepala Ekonomi Barrenjoey Bank, Johnathan McMenamin.

Menurut Moody’s Analytics, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Hong Kong, yang mengimpor sekitar 80 persen energi dari luar negeri, juga akan terdampak.

“Kenyataannya situasi ini merupakan guncangan yang lebih luas bagi kawasan jika harga minyak yang lebih tinggi terus berlanjut mengakibatkan hilangnya pendapatan nasional bagi negara-negara tersebut," Kepala Ekonom ANZ Richard Yetsenga.

Gangguan pengiriman LNG dan minyak semakin diperparah dengan penghentian produksi di beberapa fasilitas Timur Tengah.

QatarEnergy, Ras Tanura Aramco Arab Saudi, dan kilang di wilayah Kurdistan Irak menunda produksi sebagai langkah mitigasi terhadap risiko konflik, meski tidak dilaporkan kerusakan langsung.

Bank Investasi Goldman Sachs memperkirakan harga LNG di Eropa bisa naik hingga 130 persen jika gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz berlangsung satu bulan.

Ketegangan Amerika Serikat–Iran meningkatkan risiko gangguan pelayaran, yang mendorong volatilitas harga LNG di pasar global.

Jika gangguan berlangsung lebih dari dua bulan, harga gas Eropa berpotensi melampaui 100 euro per megawatt hour, sementara LNG spot Asia dapat mencapai sekitar 25 dollar AS per MMBtu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.