TRIBUNJAKARTA.COM - Keluarga korban tragedi di Perumahan Prima Lingkar Asri, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, memohon keadilan Presiden Prabowo Subianto terkait kematian sang ayah, Ermanto Usman (65), yang ditemukan tewas sementara istrinya, Pasmilawati (60) dalam kondisi kritis pada Senin (2/3/2026).
Putra sulung korban, Fiandy A Putra (33), menduga kuat kejadian ini bukan sekadar perampokan.
Ia pun berharap agar kasus kematian ayahnya yang masih diselimuti awan kelabu dapat tersingkap.
Bahkan, Putra sampai berharap agar Presiden Prabowo Subianto dapat membantu mengungkap kasus itu.
"Kami dari keluarga memohon keadilan kepada Bapak Presiden, semoga kasus ayahanda kami bisa terungkap siapa pelakunya. Karena menurut kami ini lebih mengarah kepada kasus pembunuhan," ungkap Putra kepada awak media, Selasa (3/3/2026) dikutip Kompas.com.
Putra menjelaskan, ayahnya merupakan pensiunan dari PT Jakarta International Container Terminal (JICT), anak perusahaan Pelindo.
Ia meyakini pekerjaan ayahnya memiliki risiko tinggi, yang kemungkinan ada kaitannya dengan insiden itu.
"Apa yang dilakukan ayah saya adalah suatu hal yang kami tahu bersama seperti apa risikonya," kata Putra.
Meski tidak mengetahui secara detail aktivitas ayahnya, Putra meyakini peristiwa tersebut bukan murni perampokan.
"Menurut kami ini lebih mengarah kepada kasus pembunuhan. Karena ayah saya coba untuk membuka kebenaran dan mementingkan semua orang-orang di lapangan yang susah," ujar Putra.
Kondisi rumah, kata Putra, saat kejadian menunjukkan tanda-tanda tak wajar.
Lantai dua rumah dalam keadaan steril saat diperiksa polisi.
Dokumen penting keluarga pun tetap utuh di tempat penyimpanan meskipun beberapa barang dilaporkan hilang.
Adiknya, Dinda Nada Alifah, tidur di kamar lantai dua saat kejadian.
"Barang penting yang saya dan keluarga tahu itu tidak diambil oleh pelaku. Walaupun kunci mobil itu diambil, apa fungsinya kalau mobilnya tidak diambil?" ujarnya.
Selain itu, Putra menekankan bahwa orangtuanya tidak pernah menerima ancaman sebelumnya, dan tidak pernah menceritakan masalah yang sedang dihadapi. Meski begitu, keluarga tetap menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian dan berjanji mengikuti proses hukum yang berlaku.
"Tapi kami tunggu klarifikasinya langsung dari kepolisian, pihak yang berwajib. Dan kami akan mengikuti proses hukum yang ada di Indonesia," ujar Putra.
Keluarga korban sangat terpukul melihat kondisi sang ayah dan ibu ditemukan dalam keadaan mengenaskan.
Putra berharap kasus ini segera menemukan titik terang.
"Ayah saya mudah-mudahan mati sebagai pejuang, mati syahid di jalan Allah," ucapnya.
Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Andi Muhammad Iqbal mengatakan, anak bungsu korban berinisial Dinda terakhir berinteraksi dengan kedua orangtuanya sekitar pukul 22.00 WIB.
"Anak korban tidak mendengar suara keriuhan. Yang bersangkutan tidur jam 01.00 WIB dan itu belum ada suara-suara," ujar Andi saat ditemui di TKP, Senin.
Peristiwa terungkap saat Dinda terbangun untuk sahur.
Biasanya ia dibangunkan sekitar pukul 03.00 WIB, namun pada hari kejadian tidak ada yang membangunkannya. Alarm kemudian berbunyi pukul 04.15 WIB dan ia turun ke lantai bawah.
"Akhirnya korban inisiatif ke lantai bawah membangunkan ibunya. Di situ tidak ada jawaban. Yang terdengar suara seperti orang suara mendengkur," ujar Andi.
Keluarga yang datang kemudian membuka paksa kaca jendela untuk masuk ke rumah.
"Kemudian keluarganya datang dan kaca dibuka paksa. Di situ dilihatlah korban sudah tergeletak kedua-duanya," kata Andi.
Untuk mengungkap kasus tersebut, Direktorat Polisi Satwa menurunkan anjing pelacak (K-9).
Berdasarkan pantauan di lokasi, anjing menyisir bagian dalam rumah hingga ke Jalan Raya Kalimalang yang berbatasan langsung dengan pagar depan rumah korban.
Hingga kini, kasus dugaan perampokan disertai penganiayaan tersebut masih dalam penyelidikan.
Penanganan melibatkan Polsek Pondok Gede, Polres Metro Bekasi Kota, serta Jatanras Polda Metro Jaya guna mengungkap pelaku dan motif kejadian.