TRIBUNMANADO.CO.ID - Perayaan Cap Go Meh atau Goan Siau 2577 Kongzili (2026) di Manado, Sulawesi Utara, Selasa 3 Maret 2026 sangat meriah.
Ribuan orang menyaksikan perayaan yang memadukan atraksi budaya dan ritual keagamaan ini.
Mereka memadati Kawasan Pertokoan 45 (Pecinan) Manado. Jalan-jalan yang jadi rute arak-arakan seperti Jalan DI Panjaitan, Jalan Soetomo dan Jalan Walanda Maramis dipadati warga.
Perayaan Cap Go Meh tidak sekadar ritual keagamaan. Ini menjadi momen akulturasi budaya Sulawesi Utara.
Sejumlah atraksi budaya turut mewarnai perayaan Cap Go Meh kali ini.
Barisan Penari Kabasaran membuka arak-arakan barisan non ritual. Para penari perang tampil paling depan. Seolah menjadi pembuka Jalan bagi rombongan Cap Go Meh.
Selain Kabasaran, musim Bambu Klarinet mengambil bagian memberi warna budaya pada perayaan ini.
Selain itu, tampil juga barisan Paskibraka Kota Manado, drumband pelajar, BKSAUA, siswa SMP Sekolah Rakyat Manado, atlet dansa IODI (Ikatan Olahraga Dansa Indonesia) dan atlet wushu.
Atraksi barongsai yang berkolaborasi dengan Tarian Naga menjadikan perayaan ini semakin meriah.
Setiap perkumpulan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) hadir dengan barongsai dan Tari Naga. Ada juga yang membawa kelompok musim bambu bersama dalam rombongan.
Tentu saja, penampilan para tangshin (tanci) menjadi daya tarik utama perayaan Cap Go Meh ini.
Sebanyak 11 tangshin tampil dalam arak-arakan barisan ritual. Para tangshin ini berasal dari sembilan klenteng di Manado.
Mereka diarak di atas kio (tandu) yang dipikul umat berbaju putih. Alunan musik dan tabuhan tambur serta nyanyian khas nan seragam mengiringi tangshin beraksi.
Komisariat Perhimpunan TITD Sulawesi Utara, Ferry Sondakh mengatakan, Perayaan Cap Go Meh (Goan Siau)
Komisariat Perhimpunan TITD Sulawesi Utara, Ferry Sondakh mengungkapkan, perayaan Cap Go Meh kali ini istimewa karena bertepatan di Bulan Ramadan.
Selain itu, bersamaan di Minggu Sengsara saat umat Nasrani menghayati pengorbanan Yesus Kristus.
Bukan sebuah kebetulan, tema perayaan Cap Go Meh tahun ini adalah Harmoni Nusantara
"Peracayaan Cap Go Meh jatuh pada tanggal 15 bulan pertama setelah Imlek. Ini spesial karena bersamaan dengan dua momen keagamaan, Bulan Puasa dan pra-Paskah. Ini momen memperkuat kerukunan Sulawesi Utara yang cinta damai," kata Sondakh.
Katanya, selain ritual keagamaan dan budaya, Cap Go Meh Manado menjadi ikon pariwisata daerah ini.
Lebih dari itu, Sondakh mengungkapkan, Cap Go Meh memiliki pengertian bahwa Tuhan sebagai penguasa alam semesta.
"Perayaan ini mengandung makna semua mahluk hidup hidup selaras dengan alam.
Mengembalikan semua ciptaan kepada ikhwalnya," katanya.
Perayaan Cap Go Meh berlangsung hingga malam hari. Ribuan warga rela menyaksikan perayaan itu hingga selesai.
Pesta kembang api menutup rangkaian Cap Go Meh. Langit Pecinan Manado terang benderang. Ribuan warga pun bersorak.(ndo)