Viral Tradisi Unik Ramadan di Desa Jantur Kukar, Menyalakan Laduman sebagai Penanda Buka Puasa
Amalia Husnul A March 03, 2026 11:11 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Masyarakat di Desa Jantur, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mempunyai tradisi Laduman yang hanya dilaksanakan di bulan Ramadan.

Hingga Ramadan 2026 ini, masyarakat Desa Jantur, Kukar masih menjaga tradisi Laduman.

Tahun ini, ada 3 Laduman atau meriam raksasa yang dibuat masyarakat Desa Jantur, Muara Muntai, Kabupaten Kukar.

Saat Ramadan, menyalakan Laduman dipakai sebagai pertanda waktu berbuka puasa.

Baca juga: Budayawan Soroti Perubahan Tradisi Ramadan di Samarinda, Laduman Sudah Jarang Terdengar

Video momen saat Laduman di Desa Jantur yang diunggah akun Instagram, @info_kukar terlihat Laduman yang dibuat di dermaga sungai dengan latar belakang Masjid  Jam’iyatut Taqwa.

Suasana terkesan syahdu hingga kemudian terdengar suara dentuman seiring waktu buka puasa.

Video ini sudah diunggah 3 hari yang lalu, namun masih banyak yang menyukai unggahan ini.

Ada 2.399 likes hingga hari ini, Selasa (3/3/2026).

Lihat videonya melalui link berikut ini >>>  

Suara 'Dum' yang Ditunggu

Muhriadi, tokoh agama sekaligus panitia pembuatan meriam kayu, menjelaskan bahwa tradisi tersebut lahir dari kebutuhan masyarakat di masa lalu.

“Budaya ini sudah lebih 50 tahun. Dulu desa terpencil, tidak ada radio, tidak ada jam. Orang sering ketinggalan waktu berbuka,” tuturnya Rabu (18/2/2026).

Pada masa ketika akses informasi belum menjangkau desa-desa di tepian Sungai Mahakam, warga membutuhkan tanda yang bisa terdengar luas dan serempak. 

Dari situlah muncul gagasan membuat meriam kayu besar yang diarahkan ke dua sisi sungai, ke hulu dan ke hilir.

Dentumannya berat dan menggulung, lalu memantul di permukaan air.

Suara khas “dum” itu menjadi momen yang paling ditunggu, terutama anak-anak yang telah bersiap menyambut waktu berbuka.

Dari pelataran Masjid Jam’iyatut Taqwa Desa Jantur, tempat Laduman mengapung, suaranya mampu menjangkau desa-desa sekitar. 

Bahkan bunyinya terdengar hingga wilayah Muara Muntai ke arah hilir dan sampai Penyinggahan di Kutai Barat ke arah hulu.

“Makanya dibuat dua arah. Supaya semua dengar,” ujar Muhriadi.

Kayu Nangka Air

Pembuatan Laduman bukan perkara sederhana.

Kayu yang digunakan harus jenis Nangka Air dengan diameter batang mencapai 80 sentimeter hingga lebih dari satu meter dan panjang 7-8 meter.

“Kalau bukan Nangka Air, tidak kuat,” tegasnya.

Batang kayu dibelah dua dan bagian tengahnya dikeruk hingga membentuk rongga besar.

Setelah itu disatukan kembali, dilapisi ambal atau karpet pada bagian sambungan, lalu diperkuat menggunakan potongan drum besi yang dipaku rapat agar kedap udara.

Proses pengerjaan memakan waktu sekitar 10 hari dan dilakukan secara gotong royong oleh lebih dari 10 warga setiap sore. 

Di sela aktivitas, suara kapak dan mesin pemotong kayu berpadu dengan canda tawa warga yang terlibat.

Biaya pembuatannya pun tidak sedikit, mencapai sekitar Rp20 juta.

Dana tersebut dihimpun secara swadaya dari masyarakat per RT dan dikelola panitia.

Untuk membunyikannya, karbit dan air dimasukkan ke dalam rongga kayu sekitar 15 menit sebelum magrib. 

Reaksi kimia menghasilkan gas yang kemudian disulut hingga menimbulkan ledakan sebagai penanda berbuka.

Tradisi Lebih dari 50 Tahun

Selama lebih dari 50 tahun, Laduman hampir tak pernah absen.

Muhriadi mencatat hanya sekali tradisi ini tidak dijalankan, yakni saat pandemi Covid-19. 

Kala itu warga sempat mencoba menggunakan sirine, namun suaranya tidak menjangkau jauh.

Musyawarah desa akhirnya memutuskan kembali ke meriam kayu.

Perjalanan Laduman juga tidak selalu mulus.

Pada 2015, salah satu meriam kayu pernah pecah akibat daya ledak terlalu kuat. 

Jika sudah retak, meriam kayu ini tak bisa lagi digunakan sehingga warga hanya mengandalkan satu Laduman karena waktu pembuatan tidak mencukupi.

Tahun ini, panitia menyiapkan tiga Laduman sekaligus dua baru dan satu dari tahun sebelumnya yang masih layak pakai.

“Tahun ini tiga Laduman, kalo bisanya dua ini tiga. Karen ternyata pas di coba Laduman dari tahun lalu masih bisa dipakai,” sebutnya.

Meski antusiasme warga tetap tinggi, tantangan kini datang dari ketersediaan bahan baku.

Pohon Nangka Air semakin sulit ditemukan. 

Pada tahun-tahun sebelumnya, panitia bahkan harus menyusuri Sungai Mahakam hingga Muara Pahu di Kutai Barat selama sebulan hanya untuk mencari kayu yang sesuai.

Tahun ini, kayu didapat dari Muara Kedang, Kutai Barat, dengan harga sekitar Rp2-2,5 juta untuk dua batang.

Di tengah kemajuan teknologi dan mudahnya akses informasi waktu berbuka melalui gawai, masyarakat Desa Jantur tetap mempertahankan Laduman sebagai penanda magrib. 

Bagi mereka, dentuman meriam kayu bukan sekadar penunjuk waktu, tetapi simbol kebersamaan dan warisan budaya yang terus dirawat lintas generasi.

(TribunKaltim.co/Patrick Vallery Sianturi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.