Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 di Surabaya: Gagal Terlihat Akibat Awan Tebal
Cak Sur March 03, 2026 11:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Fenomena gerhana bulan total yang terjadi bertepatan dengan waktu berbuka puasa, Selasa (3/3/2026), tidak dapat disaksikan warga Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

Langit yang tertutup awan tebal, membuat kemunculan bulan tak terlihat sejak magrib hingga fase gerhana hampir berakhir.

Dosen Astronomi Fakultas Studi Islam dan Peradaban Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Andi Siti Maryam, mengatakan secara astronomis bulan seharusnya sudah memasuki fase total saat magrib.

“Mestinya saat maghrib tadi, karena ini bulan purnama. Dia akan terbit bersamaan dengan terbenamnya matahari. Jadi, mestinya saat kita buka puasa, bulan sudah terbit di timur,” ujar Andi kepada SURYA.co.id.

GERHANA BULAN - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) saat berusaha melihat gerhana bulan dari atas Gedung At-Tauhid Tower di Surabaya, Jawa Timur, memakai teleskop refraktor berdiameter 71 mm, Selasa (3/3/2026).
GERHANA BULAN - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) saat berusaha melihat gerhana bulan dari atas Gedung At-Tauhid Tower di Surabaya, Jawa Timur, memakai teleskop refraktor berdiameter 71 mm, Selasa (3/3/2026). (istimewa)

Jadwal Fase Gerhana Bulan

Andi menjelaskan, bahwa secara perhitungan astronomis, terdapat rentang waktu spesifik terjadinya fenomena ini. Berikut adalah rincian waktu fase gerhana bulan yang seharusnya teramati:

  • Fase total dimulai: 18.04 WIB
  • Puncak fase total berakhir: 19.02 WIB
  • Fase sebagian berakhir: 20.17 WIB

Pada fase total tersebut, bulan seharusnya tampak berwarna merah atau blood moon sepenuhnya akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi.

“Kalau fase total itu terlihat merah semuanya,” katanya.

Setelah pukul 19.02 WIB, gerhana memasuki fase sebagian dan benar-benar berakhir pada pukul 20.17 WIB.

Namun, kondisi cuaca di Surabaya tetap tidak mendukung pengamatan hingga waktu tersebut.

“Sampai sekarang belum kelihatan. Tadi sempat ada secercah cahaya di posisi bulan, tetapi masih belum bisa diamati jelas,” jelas Andi.

Kendala Cuaca dan Alat Pengamatan

Menurut Andi, berdasarkan pemantauan di lingkungan kampus Umsura, fenomena tersebut tidak dapat terlihat karena awan yang cukup tebal menutupi langit.

“Di Surabaya, khususnya di Universitas Muhammadiyah Surabaya, kali ini tidak terlihat karena awannya cukup tebal,” ucapnya.

Dalam upaya pengamatan ini, tim sebenarnya telah menyiapkan peralatan yang mumpuni. Tim menggunakan teleskop refraktor berdiameter 71 mm serta kamera DSLR.

Secara teknis, peralatan tersebut dinilai sangat memadai untuk mengamati detail permukaan satelit alami bumi tersebut.

“Refraktor 71 mm sebenarnya cukup mampu untuk melihat detail bulan, termasuk kawah-kawah dan perbedaan terang-gelap permukaannya, tetapi karena tertutup awan, pengamatan tidak maksimal,” pungkas Andi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.