Pembatalan penerbangan akibat konflik di Timur Tengah berdampak langsung pada sektor pariwisata Thailand. Ribuan wisatawan dari pasar jarak jauh yang biasanya transit di kawasan tersebut membatalkan perjalanan mereka demi menghindari rute penerbangan yang melintasi wilayah konflik.
Di sejumlah destinasi utama seperti Bangkok, Phuket, dan Koh Samui, turis tertahan karena penerbangan pulang dibatalkan.
Sekretaris Jenderal Kehormatan Asosiasi Agen Perjalanan Thailand, Adith Chairattananon, mengatakan pihaknya bergerak cepat membantu para anggota yang memiliki tamu terdampak. Mereka berkoordinasi dengan hotel dan otoritas terkait agar wisatawan tetap mendapatkan tempat tinggal dan layanan dasar sembari menunggu kepastian jadwal penerbangan.
Adith mengungkapkan, pemesanan dari pasar jarak jauh yang mengandalkan hub Timur Tengah dibatalkan sepenuhnya. "Segmen ini mencakup sekitar 50% dari seluruh perjalanan jarak jauh ke Thailand," ujarnya dikutip dari , Selasa (3/3/2026).
Menurutnya jika konflik berlarut-larut, maka pelaku usaha khawatir dampaknya akan terasa hingga periode Songkran bulan depan. Ia menilai pemerintah perlu mempercepat diversifikasi pasar, terutama dengan menggarap wisatawan jarak pendek untuk menutup kekosongan dari pasar Timur Tengah.
Sejak Minggu, berbagai asosiasi perhotelan dan pariwisata mengambil langkah darurat. Di antaranya Asosiasi Bisnis Pariwisata Phangnga, Asosiasi Hotel Krabi, dan Asosiasi Pariwisata Phuket yang membantu wisatawan terdampak pembatalan penerbangan.
Sejumlah maskapai besar rute Timur Tengah-Thailand juga menghentikan layanan sementara. Salah satunya Thai AirAsia X yang membatalkan penerbangan ke Riyadh. Sementara itu, Tourism Council of Thailand (TCT) meminta seluruh operator anggotanya ikut membantu wisatawan guna menjaga citra Thailand sebagai destinasi yang aman.
"Sebagai perwakilan operator swasta, kami menyadari bahwa situasi ini di luar kendali kami. Namun, hal ini dapat menghambat kepercayaan wisatawan mancanegara jika tidak dikelola dengan baik," kata Presiden TCT, Chai Arunanondchai, dalam surat resminya.
TCT mendorong anggotanya menghapus biaya penjadwalan ulang, membebaskan biaya pembatalan dengan bukti gangguan penerbangan, serta menawarkan tarif kamar khusus bagi wisatawan yang harus memperpanjang masa tinggal. Pelaku usaha juga diminta aktif memberikan informasi terbaru dan membantu koordinasi dengan instansi terkait.
Presiden Dewan Pariwisata Phuket, Rangsiman Kingkaew, mengatakan wisatawan yang tiba melalui penerbangan dari Timur Tengah menyumbang sekitar 10% dari total kedatangan harian di Phuket. Hingga Senin, lebih dari 5.000 turis terlantar setelah lebih dari 30 penerbangan dibatalkan.
Menurutnya, tidak banyak wisatawan yang bisa mengalihkan penerbangan melalui Bangkok karena kursi sudah penuh di musim ramai. Meski begitu, ketersediaan kamar hotel masih mencukupi lantaran banyak calon tamu baru membatalkan atau menunda perjalanan.
Rangsiman menilai situasi ini mengkhawatirkan karena konflik telah meluas ke sejumlah negara Teluk yang menjadi pusat penerbangan global, sehingga melemahkan sentimen perjalanan internasional.
Wakil Presiden TCT, Ratchaporn Poolsawadee, memperkirakan lebih dari 1.000 wisatawan akan memperpanjang masa tinggal di Samui atau Koh Phangan akibat pembatalan penerbangan. Mayoritas berasal dari Timur Tengah, Israel, Eropa, dan Amerika Serikat yang menggunakan jalur transit di kawasan tersebut.
Lebih dari setengah wisatawan Samui datang dari pasar-pasar itu. TCT juga berkoordinasi dengan otoritas, termasuk Biro Imigrasi, untuk membantu wisatawan yang berpotensi melewati masa berlaku visa.
Di sisi lain, pesta bulan purnama di Koh Phangan tetap digelar. Aparat setempat menyiapkan pengamanan ketat untuk memastikan keselamatan wisatawan dan mencegah potensi gesekan antarwarga negara di tengah konflik.
Dalam jangka menengah, pelaku industri memperkirakan minat bepergian bisa menurun dan harga tiket berpotensi naik akibat kenaikan biaya bahan bakar. Namun dalam jangka panjang, Thailand dinilai memiliki peluang untuk memperkuat citra sebagai destinasi aman bagi wisatawan tinggal lama maupun investor asing.
Sekretaris Tetap Kementerian Pariwisata dan Olahraga, Natthriya Thaweevong, menambahkan pemerintah bersama sektor swasta telah melakukan survei di sejumlah destinasi populer guna memastikan kebutuhan wisatawan yang masih tertahan dapat segera ditangani.







