Oleh: M. Qasim Mathar
Guru Besar UIN Alauddin Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - "Kapan, ya bang, umat Islam punya posisi kekuatan berimbang?", seorang teman akrab bertanya kepada saya.
Saya menjawabnya sebagai tertulis berikut.
"Kalau saya, bung, itu baru terjadi ketika ada satu negeri Islam yang iptek dan disiplin sosialnya selevel dengan negeri non-Islam yang dikenal sebagai negeri adikuasa (superpower).
Beberapa negeri Islam itu, menurut pendapatku, ialah Iran dan Turki.
Tapi, Turki belum ke level setara dengan negeri adikuasa non-Islam yang ada saat ini.
Adapun Iran, mari kita lihat akhir perangnya dengan AS dan Israel.
Negeri Islam Indonesia, apa menurut anda sudah di atas Turki dan Iran, dalam dua faktor penting tadi: iptek dan disiplin sosial?
Bagaimana Pakistan? Negeri Islam ini, meskipun ipteknya tetap berkembang, tetapi dalam hal disiplin sosial, Pakistan kurang lebih sama dengan Indonesia.
Tegasnya, keduanya belum tergolong sebagai negeri yang maju (modern).
Apalagi selevel dengan negeri adikuasa (superpower).
Setujukah anda kalau penilaian saya seperti itu? Ya, bagaimana menurut anda?
Karib saya itu menjawab: "Iya, saya sepakat, bang! Tambahan di bawah pemerintahan Prabowo tampaknya masih tetap stagnan.
Karena beliau sepertinya belum punya visi yang pas untuk memajukan Indonesia.
Atau bagaimana, ya, bang? Karena beberapa kebijakannya saat ini sepertinya kurang memuaskan publik".
"Saya sepakat", kataku seraya merenung: sayang negeri Muslim yang besar ini belum tergolong sebagai negeri modern.
Bagaimana Iran, ipteknya dan disiplin sosialnya?
Sekali lagi kita lihat perangnya membalas serangan AS dan Israel.
Perang asimetris sedang dilakukan oleh Iran.
Bendera merah sebagai tanda tindakan balas dendam sudah dikibarkan di atas sebuah kubah di Teheran.
Kematian pemimpin negara dan spiritual Iran oleh serangan AS dan Israel, adalah martil dan syahid, yang meniup bara peperangan muslim Syiah.
Iran siap perang tahunan.
Bukan selesai lusa, atau dalam dua pekan, atau satu bulan. Benarkah?
Perang asimetris adalah menyerang lawan dari titik lemahnya, karena melawannya satu peluru lawan satu peluru, satu tank lawan satu tank, satu pesawat lawan satu pesawat, bukan cara yang tepat.
Perang asimetris membuat daya tahan lawan menurun dan terus menurun, lemah.
Bukan perang “tank lawan tank” atau “pesawat lawan pesawat” secara seimbang.
Tetapi perang dengan cara menghindari kekuatan utama musuh dan menyerangnya lewat titik lemah.
Tentu saya tetap berpendapat: tergantung pada seunggul apa iptek dan disiplin sosial Iran untuk mendukung perang asimetris saat ini.(*)