Oleh: Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel, Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora
TRIBUN-TIMUR.COM - Puasa itu adalah titah kemanusiaan.
Tuhan Maha Tahu bahwa banyak orang tak menjadi manusia.
Agar mampu menjadi manusia, puasa diturunkan sebagai perintah kemanusiaan.
Disini puasa berfungsi laksana mesin cuci; membersihkan segala kotor dan onak pada manusia.
Untuk apa? Agar kita sebenar-benarnya menjad manusia.
Kita tahu, struktur manusia terbagi dua; yang tampak dan yang tak tampak.
Maka pada puasa organ tubuh dimanusia sebagai sesuatu yang tampak sasarannya; tenggorokan dan perut.
Adapun yang tak tampak, adalah nafsu dan ego.
Maka puasa yang esensial adalah puasa yang mampu menjaga tenggorokan, perut, nafsu dan ego.
“Menjaga” disini bermakna mesin cuci.
Tenggorokan dicuci, perut dicuci, nafsu dicuci, ego dibersihkan.
Itulah mengapa dalam dunia sains kesehatan, puasa disebut menyehatkan.
Dan dalam disiplin ilmu psikologi, menjaga nafsu dan ego menyehatkan/menormalisasi jiwa.
Dalam konteks ini puasa sebenarnya adalah “bengkel kemanusiaan”.
Allah SWT tahu bahwa banyak manusia muslim yang bermasalah tenggorokannya.
Allah SWT pun tahu banyak muslim yang bersoal perutnya.
Dan memang, banyak manusia meneguk minuman yang bukan haknya.
Banyak pula manusia memakan sesuatu yang bukan haknya.
Lalu kita paham bahwa nafsu dan ego menguasai diri kita.
Nafsu dan ego selalunya mengendalikan kita.
Kita tak pernah merefleksikan apakah pencapaian yang kita temukan bukan bagian dari nafsu dan ego.
Kadang-kadang kita merasa pencapaian itu adalah sesuatu yang wajar.
Kita lupa bahwa nafsu sebagai bagian dari pengalaman manusiawi yang kompleks, rapuh, dan sering kali sia-sia.
Begitu kompleksnya, kita seringkali susah membedakan ambisi dan nafsu/ego.
Ambisi, seringkali kita letakkan sebagai motivasi, bahkan inspirasi. Ia ditanam sejak dini, bahkan disemaikan dalam jenjang pendidikan.
Sejak kecil kita didik berambisi.
Kita ingat pribahasa yang diajarkan di bangku SD; “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.
Pribahasa itu adalah bibit penumbuhan ambisi sejak dini.
Karena langit tak mungkin digapai dengan keadaan manusia.
Memang kedengarannya bernada inspirasi, tetapi inspirasi itu dekat dengan ambisi.
Maka mentalitas ambisius merebak dan terwariskan.
Kita lalu tumbuh menjadi bangsa dengan nafsu dan ego yang meluber.
Disitulah puasa menjadi penting dimakanai sebagai solusi untuk penataan kemanusiaan kita yang setiap kali retak oleh nafsu dan ego.
Puasa dititahkan oleh Allah SWT agar kita selamat dari jeratan nafsu dan ego—sebuah jeratan manusiawi yang sebenarnya tak memanusiakan kita.(*)