Iran di Persimpangan: Politik, Agama dan Suksesi Ali Khamenei
Abdul Azis Alimuddin March 04, 2026 01:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Wafatnya Ali Khamenei memunculkan berbagai spekulasi tentang arah masa depan Iran.

Negara yang selama puluhan tahun berada di bawah kepemimpinan Rahbar dengan legitimasi politik dan keagamaan kuat itu kini dinilai memasuki fase krusial.

Topik ini menjadi pembahasan utama dalam program Ngobrol Virtual (Ngovi), disiarkan langsung melalui YouTube Tribun Timur, Senin (2/3/2026).

Tribun Timur menghadirkan pengamat Timur Tengah Dr Supa Athana dan Dr Syahrir Karim, dipandu Fiorena Jieretno.

Diskusi mengulas kondisi internal Iran, dinamika politik kawasan, hingga potensi suksesi kepemimpinan pasca-Khamenei.

Jurnalis Tribun Timur M Jabal Qubais merangkum perbincangan itu dalam bentuk wawancara khusus. Berikut petikan tanya jawabnya.

Bisa digambarkan sedikit suasana internal negara Iran?

Supa Athana: Iran secara sosial adalah masyarakat ramah dan sangat menghargai sesama umat manusia.

Bahkan, pengakuan atas persamaan hak sudah berlangsung sejak lama di Iran.

Sejarah hak asasi manusia pertama kali diperkenalkan di Iran pada masa Raja Xerxes.

Deklarasi tentang persamaan hak sangat kental di Iran.

Itu juga tercermin di gedung atau pintu gerbang masuk PBB yang menggunakan salah satu karya penyair Iran berbunyi,

"Kita ini satu ciptaan dari bani Adam. Jika kamu tidak bisa merasakan sakit orang lain, maka kamu tidak layak dikatakan sebagai manusia."

Rakyat Iran sangat menghargai persaudaraan dan tidak melihat latar belakang suku, bangsa, maupun agama.

Banyak orang hidup berdampingan dalam perbedaan keyakinan dan masing-masing dapat menjalankan ibadah dengan tenang.

Mayoritas penduduk Iran memang beragama Islam Syiah.

Namun, terdapat pula penganut Islam Sunni, Kristen, serta agama tradisi seperti Zoroastrianisme (agama penyembah api).

Dari segi budaya, Iran sangat kuat. Saya kira Iran salah satu peradaban tertua di muka bumi.

Tradisi lama masih bertahan hingga sekarang, seperti melompati api dan peringatan malam-malam khusus sepanjang musim dingin, serta berbagai budaya lainnya.

Islam di Iran saat ini merupakan perpaduan antara budaya Persia lama dengan ajaran Islam.

Dari segi ekonomi, jika diukur dengan mata uang dolar memang terlihat terpuruk.

Namun, sumber daya alamnya sangat melimpah, buah-buahan banyak, wilayah laut luas, dan sektor pertanian bagus.

Fakta di Iran, saya jarang melihat gelandangan di sana.

Dari segi pendidikan dan teknologi, Iran termasuk salah satu negara yang maju.

Posisi Iran saat konflik dengan AS-Israel?

Syahri Kasim: Iran negara yang sangat strategis dan saya kira fokus beberapa negara yang ingin membangun pengaruh besar di kawasan Timur Tengah untuk kepentingan politik luar biasa.

Motif AS-Israel serang Iran?

Syahrir Karim: Saya kira motifnya jelas.

Amerika Serikat dan Israel merasa terganggu dengan posisi Iran yang kerap menghambat atau melawan langkah-langkah strategis mereka di kawasan.

Dalam isu Palestina, Iran disebut menjadi salah satu pihak yang memberikan dukungan kepada Hamas.

Inilah yang dinilai memperkeruh ketegangan dan memperkuat rivalitas di Timur Tengah.

Ke depan, meski prosesnya masih panjang, jika terjadi perubahan rezim di Iran, ada kemungkinan sistem pemerintahan bergeser menjadi monarki konstitusional yang lebih terpusat dan cenderung otoriter.

Selama ini juga muncul wacana bahwa Amerika Serikat terlibat dalam proses politik tertentu dengan memberikan dukungan kepada figur yang dianggap dekat dengan mereka, seperti Reza Pahlavi.

Pandangan masyarakat Iran soal Ali Khamenei?

Supa Athana: Sosok Ali Khamenei figur dengan atribut tertinggi di Iran.

Dalam karier politiknya, dia pernah menjabat Presiden dan Rahbar (pemimpin tertinggi), sehingga posisinya sangat lengkap dan kuat.

Status politik itu kemudian dipadukan dengan struktur keagamaan dalam tradisi Syiah.

Kombinasi ini membuatnya tidak hanya memiliki kekuasaan politik, tetapi juga legitimasi keagamaan yang diakui dan dipatuhi oleh masyarakat Iran.

Dengan latar belakang dan kapasitas tersebut, nyaris tidak ada figur individu lebih kuat darinya.

Itulah yang membuat Ali Khamenei memiliki pengaruh besar dan dicintai oleh pendukungnya di Iran.

Pendapat Anda soal Presiden Prabowo siap jadi mediator?

Syahrir Karim: Saya agak pesimis dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan kesiapan menjadi mediator perdamaian kedua negara, terlebih dalam situasi pascawafatnya Ali Khamenei.

Menurut saya, Presiden Prabowo belum pernah secara tegas mengecam tindakan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Hal ini tentu menjadi sorotan dan dinilai sebagian pihak sebagai sikap yang kurang jelas.

Saya melihat pemerintah Indonesia belum memaksimalkan peluang untuk mendorong proses perdamaian.

Seharusnya, posisi Indonesia dapat dinyatakan secara lebih cepat dan tegas dalam konteks dinamika kawasan.

Di sisi lain, ada pandangan di masyarakat bahwa Presiden terlihat lebih dekat dengan Amerika.

Karena itu, Presiden perlu membuat terobosan dan memperjelas posisi Indonesia berada di mana dalam konflik tersebut.

Apakah Indonesia terdampak dari konflik ini?

Syahrir Karim: Tentu, secara ekonomi Indonesia terdampak jika konflik ini berkepanjangan.

Stabilitas kawasan Timur Tengah sangat berpengaruh terhadap harga energi dan perdagangan global.

Secara diplomatik, Presiden Prabowo perlu menentukan posisi strategis.

Jika tidak, Indonesia berisiko kehilangan kepercayaan dari sejumlah negara dalam percaturan politik internasional.

Supa Athana: Politik luar negeri Indonesia menganut prinsip bebas aktif.

Artinya, Indonesia tidak berpihak ke mana pun.

Namun demikian, tetap bisa muncul persepsi atau kecurigaan dari pihak tertentu, terutama jika Indonesia dianggap berada dalam lingkaran pengaruh Amerika Serikat.

Saya sepakat imbauan Majelis Ulama Indonesia kepada pemerintah agar mempertimbangkan sikap terhadap keanggotaan dalam Board of Peace.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.