TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia masih termasuk negara tiga besar dunia dengan jumlah kasus bibir sumbing dan celah langit-langit mulut terbanyak setelah China dan India.
Setiap tahun, ada sekitar 7.000 – 7.500 bayi lahir di Indonesia dengan kondisi ini.
Tanpa penanganan dini, bibir sumbing dapat mempengaruhi kemampuan makan, berbicara, tumbuh kembang, hingga kondisi psikologis anak.
Hal inilah dirasakan Ahmad (32) dan istrinya Heni (26), warga Cileungsi, Jawa Barat.
Kelahiran anak kedua yang sudah dinanti-nanti menjadi momen campur aduk yang dirasakan keduanya.
Pada November 2025 lalu, Heni melahirkan. Di tengah kebahagiaan itu, keduanya harus menerima kenyataan putri yang diberi nama Amara ini lahir dengan kondisi bibir sumbing.
Baca juga: Perusahaan Jamu ini Dorong Semangat Berkontribusi lewat Operasi Gratis Bibir Sumbing untuk 50 Anak
Kondisi Amara ini ini sempat menghadirkan kekhawatiran besar.
Ahmad membayangkan ada tantangan yang mungkin dihadapi putrinya saat dewasa, termasuk risiko perundungan dari lingkungan sekitar.
“Saya itu lebih besar khawatirnya kalau dia besar dijulid-in orang-orang. Daripada saya melihat dia sejak bayi harus dioperasi,” urai dia saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa (3/3).
Bermula dari rasa khawatir, muncul tekad yang besar untuk berjuang mencari pengobatan terbaik.
Ahmad memutuskan untuk mencari tahu sebanyak mungkin informasi mengenai bibir sumbing dan penanganannya.
“Saya dan istri banyak mencari tahu informasi di internet, apa itu bibir sumbing, penyebabnya, hingga info operasi gratis,” kata buruh harian lepas ini.
Sejak hari-hari pertama kelahiran Amara, Ahmad proaktif menggali informasi mengenai prosedur operasi dan tahapan perawatan yang diperlukan.
Dari proses pencarian tersebut, ia mendapatkan informasi mengenai program operasi bibir sumbing gratis yang didukung oleh Smile Train Indonesia.
“Awalnya saya mencari di media sosial Instagram dan Facebook. Sempat saya dilempar suruh menghubungi ini itu. Sampai saya dapat jadwal operasi di Aceh. Tapi karena jauh saya tidak mengambil dan ditawarkan operasi di Bekasi,” ungkap dia.
Informasi itu menjadi titik terang bagi keduanya. Mereka segera mencari tahu prosedur pendaftaran dan berkonsultasi dengan tenaga medis.
Setelah menjalani tahapan pemeriksaan, pada Desember lalu, Amara menjalani operasi bibir pada usia 3 bulan di RS Helsa Jatirahayu, Bekasi. Operasi tersebut berjalan dengan baik.
Momen pasca operasi menjadi momen mengharukan bagi keduanya.
“Saya melihat, senyum Amara semakin cantik,” haru dia.
Sesuai rencana medis, Amara akan menjalani operasi langit-langit mulut ketika berusia satu tahun.
Setelah itu, pada usia sekitar empat tahun, dilakukan koreksi lanjutan agar memastikan fungsi bicara dan pertumbuhan wajahnya berkembang optimal.
“Semoga dengan operasi ini Amara bisa makin percaya diri dan tumbuh seperti anak lainnya,” harap dia.
Dari sisi medis, dokter spesialis bedah plastik, dr. Yantoko, Sp.BP-RE menjelaskan, operasi sumbing sebaiknya memang dilakukan sedini mungkin untuk mencegah komplikasi lanjutan.
Selain prosedur yang aman dan terstandar, pemantauan pascaoperasi menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Keberhasilan penanganan tidak hanya diukur dari perubahan fisik, tetapi juga dari kemampuan anak untuk menjalani tumbuh kembang secara optimal.
“Karena itu, perawatan lanjutan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pemulihan,” kata dia dalam diskusi bertajuk Harmoni Ramadan Ciptakan Senyuman.
Umumnya, operasi bibir sumbing berlangsung sekitar 45 menit dengan standar keselamatan yang ketat.
Country Manager Smile Train Indonesia, Deasy Larasati menjelaskan, sejak 2002, pihaknya mendukung ribuan operasi bibir sumbing setiap tahun, sebagai bagian dari jutaan operasi yang difasilitasi secara global. Operasi menjadi tahap awal penanganan, yang dilanjutkan dengan pemantauan serta layanan seperti ortodontik dan pendampingan psikologis.
Kegiatan ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperluas akses layanan kesehatan, terutama di wilayah dengan tantangan geografis, agar lebih banyak anak memperoleh penanganan yang dibutuhkan.
Secretary Yayasan Smile Train Indonesia sekaligus Partner di Dentons HPRP, Andre Rahadian, menyampaikan, kolaborasi ini lahir dari nilai kepedulian yang sama.
“Kami dapat mengambil peran nyata dalam membantu anak-anak dengan kondisi sumbing. Secara pribadi, saya memiliki panggilan jiwa dan meyakini bahwa kita harus giving back to society. Kami percaya setiap dukungan yang diberikan berarti membuka masa depan yang lebih baik bagi mereka,” ungkapnya.
Kisah Ahmad dan Heni menunjukkan bahwa akses informasi dan penanganan tepat waktu sangat berperan dalam membuka peluang masa depan yang lebih baik bagi anak dengan bibir sumbing.