bisa menghubungi nomor 0821-2603-0038

Bandung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) resmi membuka kanal aduan khusus (hotline) untuk memantau dan menjamin keselamatan warga daerah itu di Timur Tengah (Timteng), menyusul konflik bersenjata di kawasan itu.

"Pak Gubernur, peduli terhadap keselamatan warga Jawa Barat yang ada di Timur Tengah. Itu menjadi perhatian serius," ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat Adi Komar di Gedung Pakuan Bandung, Selasa.

Ia menjelaskan, respon ini merupakan instruksi langsung Gubernur Dedi Mulyadi, menyusul serangan udara ke sejumlah kota di Iran dan aksi balasan ke pangkalan militer AS di negara-negara Teluk yang mengakibatkan penutupan wilayah udara secara masif.

Ia menyebutkan, warga Jabar yang berada di kawasan konflik maupun keluarga di tanah air yang membutuhkan informasi mendesak, bisa menghubungi nomor 0821-2603-0038.

Ia menyebutkan layanan ini dikelola secara kolaborasi oleh tim Humas dan Diskominfo Jabar untuk memetakan kondisi riil warga di lapangan.

"Untuk sementara disiapkan kanal aduan melalui 'hotline'. Warga Jawa Barat di Timur Tengah bisa menyampaikan kondisinya dan apa yang diperlukan, nanti akan kami tindak lanjuti," kata Adi menjelaskan mekanisme pelaporan itu.

Adi menyebutkan, pendataan warga terus diperbarui mengingat sebaran mereka yang luas, mulai dari pekerja migran, mahasiswa, hingga jemaah umrah yang tertahan.

"Beberapa sudah menyampaikan kondisi mereka kepada kami dan komunikasi terus kami lakukan secara bertahap," ucapnya.

Laporan melalui nomor itu akan dikoordinasikan secara intensif dengan pemerintah pusat untuk menentukan langkah evakuasi, mengingat proses keluar dari zona konflik saat ini tidak mudah akibat sebagian besar wilayah udara telah ditutup untuk penerbangan komersial.

Sebelumnya, operasi gabungan antara AS dan Israel melancarkan serangan skala besar ke Iran sejak Sabtu (28/2) pagi waktu setempat sehingga menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta beberapa petinggi militer Iran tewas.

Menanggapi serangan itu, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah pangkalan militer serta aset milik AS di beberapa negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Arab Saudi.

Setelah menyerang pangkalan militer AS di Arab Saudi, Iran memperluas target serangan dengan menyasar fasilitas AS lainnya di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Arab Saudi menyatakan, pada Selasa pagi bahwa Kedutaan Besar AS di Riyadh diserang dua pesawat nirawak (drone) dan menyebabkan kebakaran terbatas dan kerusakan kecil.

Sejumlah negara kemudian meminta warganya untuk keluar dari Arab Saudi. Namun proses evakuasi tidak mudah dilakukan karena sebagian besar wilayah udara ditutup sehingga banyak orang terjebak.