Akui Salah Menilai Presiden, Pandji Puji Kebijakan MBG Prabowo, Ada Benarnya Ketika Perang Terjadi
Azis Husein Hasibuan March 04, 2026 10:54 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Gegara prediksi terjadinya Perang Dunia 3, komika Pandji Pragiwaksono yang biasanya melempar kritik ke pemerintah berbalik memuji tiga kebijakan Presiden Prabowo Subianto, termasuk program Makan Bergizi Gratis alias MBG.

Pendapat yang diutarakan Pandji ini sebenarnya sudah ia ucapkan sejak Agustus 2025 lalu ketika hadir sebagai bintang tamu di podcast BigThinkers ID.

Namun pernyataan itu kini kembali relevan karena memanasnya konflik di Timur Tengah.

Perang yang pecah antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel membuat tensi ketegangan meningkat sejak Sabtu (28/2/2026).

Kondisi ini kembali memicu prediksi bahwa dunia bakal segera menghadapi Perang Dunia 3. 

Melihat situasi ini, Pandji mengakui kemungkinan kesalahannya dalam membaca kebijakan-kebijakan pemerintahan Prabowo.

"Nggak percaya saya mengucapkan ini, tapi Prabowo mungkin saja benar," ucap Pandji sambil tertawa.

PANDJI PRAGIWAKSONO PRABOWO - Komika Pandji Pragiwaksono dan Presiden Prabowo Subianto. (TRIBUN MEDAN)

Pandji menyoroti Prabowo yang sudah sejak lama meyakini akan ada perang meletus dan menganggu kestabilan geopolitik global.

"Prabowo bertahun-tahun bilang sama orang ini mau ada perang dunia ini, makanya beli senjata, ingat nggak?

Waktu jadi menteri dia beli senjata, memperbarui senjata karena dia punya keyakinan mau ada perang ini.

Orang bilang apaan sih lu? Lu doang kali karena lu tentara lu berpikir semua serba perang.

Ngapain kita beli jet baru, beli senjata baru, dulu dikritik, oleh gue juga termasuk," lanjutnya.

Tak hanya soal pembelian senjata, Pandji juga menyoroti program lain seperti food estate dan MBG.

Pandji mengaku baru menyadari apa yang disasar Prabowo dari program-program tersebut.

"Sekarang salah satu yang dia pengen dengan food estate, dengan makanan bergizi gratis, sebenarnya kan semua ini dipastikan bahwa kalau ada apa-apa, kalau kita terputus dari dunia luar kita masih aman nih. 

Makanan punya, duit punya dengan perputaran dan segala macam, senjata punya, pokoknya kita aman lah.

Nah, dikritik oleh masyarakat. Tapi dengan perang yang sekarang terjadi, ada benarnya juga," tambah Pandji.

Pandji mengakui langkah-langkah yang diambil Prabowo ini mungkin adalah antisipasi ketika perang dunia benar-benar meletus.

Ia pun secara terbuka mengakui penilaian awalnya soal Prabowo dulu mungkin saja salah.

"Pada titik ini gue cukup terbuka untuk bilang saya mungkin salah penilaian saya terhadap Pak Prabowo.

Bisa jadi benar, bisa jadi dia ngelihat, ada orang-orang yang memang bisa ngelihat lebih dulu daripada orang lain.

Belum tentu terjadi, tapi sekarang nggak ada salahnya untuk bersiap," ungkap Pandji.

Prabowo Berniat Jadi Juru Damai Iran dan Amerika Serikat

Di tengah memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, sinyal diplomasi dari Indonesia kembali mencuat.

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan untuk mengambil peran sebagai penengah dalam konflik yang kian membara tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Kalla usai menerima kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di kediamannya di Jakarta Selatan pada Selasa (3/3/2026).

“Presiden Prabowo siap untuk menjadi penengah dalam konflik ini. Namun tentu dibutuhkan persetujuan kedua belah pihak. Ini hal yang selalu dipikirkan oleh mereka,” kata Kalla dalam siaran pers, Selasa (3/3/2026).

Dukungan Indonesia untuk Perdamaian

Dalam kesempatan tersebut, Kalla menegaskan bahwa baik masyarakat maupun pemerintah Indonesia pada prinsipnya mendukung setiap upaya perdamaian.

Indonesia, menurutnya, selalu berpijak pada semangat diplomasi dan penyelesaian konflik melalui dialog.

Namun demikian, ia menekankan bahwa wacana mediasi itu masih harus dibicarakan lebih lanjut dengan pemerintah, serta sangat bergantung pada kesediaan seluruh pihak yang terlibat dalam konflik.

"Ya tentu itu telah disampaikan, tentu dibutuhkan persetujuan kedua belah pihak. Dan ini tentu hal yang sedang dipikirkan oleh mereka," jelas Kalla.

Pernyataan itu menegaskan bahwa peran Indonesia sebagai penengah tidak bisa berjalan sepihak, melainkan harus atas dasar persetujuan bersama dari negara-negara yang berkonflik.

(*/ Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.