IRGC Klaim 650 Tentara AS Tewas dan Terluka dalam Operasi True Promise 4
Muliadi Gani March 04, 2026 11:49 AM

 

PROHABA.CO, TEHERAN - Iran melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menimbulkan kerugian besar bagi militer Amerika Serikat (AS) dalam operasi balasan bertajuk True Promise 4.

Klaim tersebut disampaikan dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa (3/3/2026), di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.

Juru Bicara IRGC, Brigjen Ali Mohammad Naeini, menyebutkan bahwa lebih dari 650 tentara AS tewas atau terluka hanya dalam dua hari pertama serangan.

Operasi ini disebut sebagai respons langsung atas serangan AS dan Israel terhadap wilayah Iran sebelumnya.

Menurut Naeini, operasi militer tersebut menyasar sejumlah target strategis, termasuk pangkalan militer dan kapal perang AS di kawasan Teluk Persia.

IRGC mengklaim menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan drone tempur dalam melancarkan serangan.

Salah satu target utama yang disebut adalah markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.

Fasilitas tersebut dilaporkan menjadi sasaran serangan berulang kali.

IRGC mengklaim sekitar 160 personel menjadi korban dalam serangan di pangkalan tersebut.

Baca juga: Mossad Gelar Operasi False Flag demi Seret Arab Saudi ke Dalam Konflik, Iran Bantah  Serang Aramco

Selain itu, sebuah kapal logistik tempur milik AS disebut mengalami kerusakan berat akibat hantaman rudal Iran.

Tak hanya itu, IRGC juga menyatakan telah meluncurkan empat rudal jelajah ke arah kapal induk USS Abraham Lincoln yang saat itu berada sekitar 250–300 kilometer dari pantai Chabahar, Iran tenggara.

Setelah serangan tersebut, kapal induk itu dikabarkan mundur menuju Samudra Hindia bagian tenggara.

Namun, hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai dampak langsung dari serangan tersebut terhadap kapal induk AS tersebut.

Dalam pernyataannya, Naeini menegaskan bahwa pihak AS kemungkinan akan menyangkal jumlah korban yang diklaim Iran.

“Wajar jika Amerika menyangkal atau menyembunyikan korban jiwa ini.

Tapi intelijen Iran dan laporan medan perang telah mengonfirmasi jumlah korban tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, laporan media AS seperti CBS News mengutip keterangan militer Amerika yang menyebut jumlah korban tewas sejauh ini hanya enam orang, termasuk dua personel yang sebelumnya dinyatakan hilang.

Baca juga: Serangan Kejutan, Iran Serang Kantor Netanyahu dengan Rudal Kheibar

Perbedaan data yang sangat mencolok ini memperlihatkan adanya jurang besar antara klaim Iran dan laporan resmi AS.

Situasi ini semakin memperkeruh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama di kawasan Teluk Persia, jalur vital perdagangan energi dunia. 

Kawasan tersebut selama ini menjadi titik strategis dalam dinamika keamanan global, mengingat sebagian besar pasokan minyak dunia melintasi perairan tersebut.

Jika klaim Iran terbukti benar, dampaknya dapat mengubah strategi militer AS di kawasan dan berpotensi memicu respons lanjutan yang lebih luas.

Sebaliknya, jika klaim tersebut dilebih-lebihkan, maka hal ini bisa dipandang sebagai bagian dari perang propaganda untuk menunjukkan kekuatan militer Iran.

Dengan belum adanya verifikasi independen dari lembaga internasional maupun sumber netral, klaim IRGC masih menjadi perdebatan.

Namun yang pasti, operasi True Promise 4 telah memperburuk ketegangan antara Iran, AS, dan Israel, serta memunculkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih besar dan berpotensi memengaruhi stabilitas global.

Baca juga: Berkembang Kabar Pengganti Sementara Iran Ayatollah Alireza Arafi Meninggal Dalam Serangan Udara

Baca juga: Iran Beri Serangan Kejutan dengan Menggempur Kantor Netanyahu dengan Rudal Hipersonik Kheibar 

Baca juga: Israel Luncurkan Serangan Rudal ke Teheran, Ledakan Besar Guncang Ibu Kota Iran

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.