Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia Daop 1 Jakarta menambah 30 personel petugas pemeriksa jalan rel untuk memperkuat pengawasan lintas menjelang masa Posko Angkutan Lebaran 2026 seiring volume perjalanan yang diproyeksikan meningkat secara signifikan.

"Penambahan ini bertujuan meningkatkan intensitas patroli dan mempercepat penanganan apabila ditemukan potensi gangguan prasarana," kata Manager Humas PT KAI Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta, Franoto Wibowo di Jakarta, Rabu.

Daat ini, di wilayah KAI Daop 1 Jakarta, terdapat sebanyak 96 personel petugas pemeriksa jalan rel (petugas reguler) bertugas memeriksa prasarana rel sepanjang 895.667,5 meter spoor untuk memastikan setiap perjalanan kereta api berlangsung selamat.

Franoto mengatakan, pemeriksaan dilakukan melalui dua metode. Yaitu patroli jalan kaki untuk memastikan kondisi detail setiap komponen prasarana serta menggunakan Kendaraan Pemeriksa Jalan Rel (KPJ) untuk menjangkau lintasan yang lebih panjang secara efektif dan efisien.



Melalui metode ini, potensi gangguan seperti kelonggaran penambat, retak rel, kondisi bantalan, ketebalan bahu balas, hingga fungsi wesel dapat terdeteksi sejak dini sebelum berdampak terhadap operasional.

Petugas memeriksa secara menyeluruh seluruh elemen jalur, mulai dari rel, sambungan rel, penambat, bantalan, ballast (balas) hingga komponen wesel.

"Setiap temuan dicatat dan segera ditindaklanjuti melalui mekanisme perawatan untuk mencegah terjadinya gangguan perjalanan," katanya.

Di Daop 1 Jakarta, pemeriksaan difokuskan pada lintas-lintas strategis dengan frekuensi perjalanan tinggi, antara lain Jakarta Kota-Cikampek, Manggarai-Cikampek, Tanah Abang-Merak, Duri-Basuta, Duri-Tangerang, Jakarta Kota-Tanjung Priok serta lintas Loop Line.



Jalur-jalur tersebut melayani perjalanan kereta api jarak jauh maupun komuter dengan tingkat kepadatan yang tinggi, sehingga pengawasan prasarana dilakukan secara ketat dan berkelanjutan.

“Pemeriksaan jalur dilakukan secara rutin dan menyeluruh, bahkan pada jam-jam dengan risiko operasional yang rendah seperti tengah malam hingga dini hari, agar proses pengecekan dapat berlangsung optimal tanpa mengganggu perjalanan kereta,” ujar Franoto.

Dia menambahkan, pola pemeriksaan yang adaptif terhadap kepadatan perjalanan merupakan bagian dari manajemen risiko untuk memastikan tidak ada celah dalam pengawasan keselamatan jalur.