SURYA.co.id, SURABAYA – Dunia pewayangan yang identik dengan tradisi Jawa tak membatasi langkah Christopher Jason Santoso untuk turut melestarikannya.
Mahasiswa S1 Studi Pembangunan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini membuktikan bahwa seni wayang adalah warisan budaya yang terbuka bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang etnis.
Pemuda berdarah Tionghoa kelahiran 26 Agustus 2004 itu mulai tertarik pada wayang sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Saat itu, ia mendapat tugas menampilkan pagelaran wayang sederhana. Pengalaman tersebut menjadi titik awal ketertarikannya pada dunia pedalangan.
“Dari awal, saat mengerjakan tugas itu saya merasa ini adalah sesuatu yang unik dan menarik untuk dipelajari. Saya seperti menemukan dunia baru,” kenangnya kepada SURYA.co.id, Rabu (4/3/2026).
Dukungan keluarga mendorong Christopher memperdalam ilmu pedalangan dengan bergabung di salah satu sanggar di Surabaya.
Namun, perjalanannya tak selalu mulus. Ia sempat menerima celaan karena mengalami rhotasisme atau kesulitan melafalkan huruf R.
Selain itu, perbedaan etnis juga membuatnya pernah merasakan penolakan saat masih belia.
“Saya pernah dianggap tidak cocok menjadi dalang karena cadel dan karena saya bukan dari latar belakang Jawa. Itu sempat membuat saya minder,” ungkapnya.
Situasi tersebut membuatnya sempat menjauh dari dunia wayang. Meski demikian, tekadnya untuk kembali mendalang tak surut.
Ia belajar secara otodidak melalui buku dan media sosial hingga akhirnya kembali tampil di berbagai kesempatan.
“Saya sempat berhenti, tapi saya sadar wayang adalah warisan budaya Indonesia untuk semua tanpa memandang perbedaan apa pun. Dari situ saya bangkit lagi dan belajar lebih serius,” tegasnya.
Pada acara See You Soon 2023 di Tower 2 ITS, ia membawakan pertunjukan wayang dalam tiga bahasa, yakni Inggris, Jawa, dan Mandarin.
Baginya, penggunaan tiga bahasa menjadi simbol bahwa wayang bisa menjangkau audiens yang lebih luas.
“Saya ingin menunjukkan bahwa wayang bisa dikemas secara inklusif dan relevan dengan generasi muda, bahkan lintas budaya,” tambahnya.
Tak hanya aktif di panggung seni, Christopher juga menaruh perhatian besar pada riset sosial dan budaya.
Tugas akhirnya berjudul "Pembangunan Inklusi Sosial di Kota Surabaya, Studi Fenomenologi Diskriminasi Interseksionalistik terhadap Penutur dengan Rhotasisme" membahas pengalaman individu dengan rhotasisme dalam konteks inklusi sosial di perkotaan.
“Penelitian itu sangat personal bagi saya. Saya ingin memahami bagaimana pengalaman diskriminasi bisa diubah menjadi kekuatan untuk mendorong inklusi sosial,” jelasnya.
Salah satu penelitiannya bahkan mengantarkannya menjadi pembicara dalam International Symposium on Javanese Culture 2024.
“Kesempatan berbicara di forum internasional membuat saya semakin yakin bahwa isu budaya dan inklusi dari Indonesia bisa didengar dunia,” ujarnya bangga.
Di bidang kewirausahaan, calon wisudawan ITS periode ke-133 April 2026 ini juga mengembangkan startup jamu modern bernama Herbits.
Usaha tersebut memperoleh pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023 serta ITS Youth Technopreneur (IYT) 2023–2024.
“Anak muda sekarang jarang minum jamu karena dianggap kuno. Kami mencoba mengemasnya lebih modern tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya,” tandasnya.
Kiprahnya juga meluas ke forum internasional. Ia pernah mewakili ITS dan Indonesia sebagai Champion of ASEAN Future Innovators Challenge di Malaysia, serta terlibat dalam berbagai forum global lainnya.
Meski aktif di berbagai bidang, Christopher tetap konsisten mendalang.
Ia mengidolakan sejumlah tokoh seperti Ki Nartosabdo, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Tristuti Rachmadi.
Ia juga sempat tampil dalam TEDxITS 2024 Special Performance di Milieu Space, Surabaya.
“Selama kita mau berusaha dan berani mencoba, perbedaan bukan penghalang. Justru dari perbedaan itu kita bisa memberi warna baru,” pungkasnya.