TRIBUNPEKANBARU.COM, KUANSING – Nasib guru honorer di daerah masih memprihatinkan.
Inke, seorang guru honorer di salah satu SD Negeri di Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), mengaku telah lama harus bertahan dengan gaji Rp 700 ribu per bulan.
Sudah tujuh tahun ia mengabdikan diri mengajar di sekolah yang tak jauh dari rumahnya.
Perjalanan panjangnya sebagai tenaga pendidik berstatus honor tidak selalu berjalan mulus.
Setelah gagal lolos CPNS beberapa waktu lalu, ia memilih kembali mengajar sebagai guru honorer.
Ibu dua anak ini juga sempat mendaftar sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) penuh waktu.
Namun harapannya pupus lantaran datanya tidak tercantum di Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Meski kecewa, ia mengaku hanya bisa pasrah.
Baca juga: Harga Karet di Kuansing Tembus Rp 16.125 per Kg, Naik Rp 540 dari Pekan Lalu
Baca juga: Guru Honorer di Riau Berkurang, Banyak yang Sudah Diangkat Jadi PPPK
Untuk menambah penghasilan, Inke pernah membuka les privat di rumahnya.
"Saat itu ada empat anak yang mengikuti les dengan tarif Rp 50 ribu per bulan per anak, dengan empat kali pertemuan dalam sepekan," ungkap Inke.
Namun, penghasilan tambahan itu dinilai masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara itu, suaminya bekerja sebagai sopir travel.
Meski usaha travel tersebut milik sendiri, Inke menyebut pendapatan keluarga mereka tetap belum memadai di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat.
“Kami hanya bisa berhemat,” ujarnya.
Secercah harapan datang pada Januari 2026 lalu. Inke dinyatakan lulus sebagai PPPK paruh waktu.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, gaji PPPK paruh waktu sebesar Rp 1,9 juta per bulan.
Menanggapi besaran gaji PPPK paruh waktu yang disebut-sebut jauh lebih kecil dibanding relawan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Inke tidak mempermasalahkannya.
Baginya, setiap pekerjaan memiliki risiko dan rezeki masing-masing.
“Alhamdulillah, bagi saya besaran itu sudah sangat bersyukur,” tuturnya.
( Tribunpekanbaru.com / Guruh BW )