Respons Fabregas saat Como Disandingkan dengan Sampdoria Era 90-an
Febri Prasetyo March 04, 2026 10:57 PM

TRIBUNNEWS.COM - Pelatih Como Cesc Fabregas merespons perbandingan proyek timnya dengan era emas UC Sampdoria di era 1990-an.

Ia tak menampik ambisi besar klub, namun menegaskan bahwa Como tetap harus berjalan dengan kaki menapak tanah.

Como baru saja menahan Inter Milan 0-0 pada leg leg pertama semifinal Coppa Italia, Rabu (4/3/2026). 

Dalam laga yang berlangsung taktis, yang disebut Fabregas layaknya "permainan catur", Como justru menciptakan peluang lebih bersih.

Fabregas memilih skema False 9 dengan Nico Paz sebagai pusat permainan, sementara Inter tampil berbeda dari biasanya untuk meredam kekuatan tuan rumah.

Como nyaris mencetak gol lewat peluang emas Alex Valle dari jarak dekat, sedangkan Inter hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran.

"Melawan tim paling dominan di Serie A dalam lima tahun terakhir, mereka hanya punya satu shot on target."

"Kami solid dan punya dua atau tiga peluang sangat bagus. Rasanya pahit karena kami merasa setidaknya bisa menang 1-0," kata Fabregas.

Leg kedua akan digelar di San Siro di kandang Inter Milan pada 23 April. Dengan agregat yang masih sama kuat saaat ini, semuanya masih terbuka.

Baca juga: Hasil Como 0-0 Inter di Coppa Italia, Kelakar Fabregas: Kami Pantas Menang

Bukan Sekadar Kejutan, Como Konsisten Naik Level

Musim ini, Como menjelma menjadi salah satu kejutan terbesar di Italia. Performa mereka meningkat signifikan dibanding dua tahun lalu.

Pada 2023/2024, Como masih bermain di Serie B. Tapi kini mereka sudah bersaing di lima besar Serie A dan menembus semifinal Coppa Italia.

Meski sempat dihajar Inter 0-4 di liga pada Desember lalu, perkembangan performa mereka terlihat jelas. 

Struktur permainan makin matang, pressing lebih terorganisir, dan keberanian memainkan taktik fleksibel menunjukkan identitas yang mulai terbentuk.

Fabregas menegaskan bahwa kritik adalah bagian dari proses. 

"Balas dendam itu untuk pecundang. Kami rendah hati dan terbuka untuk belajar," ujarnya.

Cesc Fabregas memberikan pidato di ruang ganti usai tim arahannya, Como 1907, promosi ke Serie A. Fabregas menjanjikan timnya liburan ke Ibiza. (Tangkap Layar Twitter)

Disandingkan dengan Sampdoria Era Emas

Progres Como musim ini membuat sebagian pihak membandingkan mereka dengan Sampdoria era 1990-an.

Era tersebut menjadi masa keemasan bagi Sampdoria di bawah kepemimpinan Presiden Paolo Mantovani.

Klub asal Genoa itu meraih scudetto pertama—dan satu-satunya dalam sejarah mereka—pada musim 1990/1991.

Mereka sukses mendapatkan scudetto pertama pada 1990/91 yang merupakan satu-satunya sepanjang sejarah mereka.

Setahun sebelum meraih scudetto, mereka memenangkan trofi Eropa pertama mereka dengan mengalahkan Anderlecht di final Piala Winners Eropa.

Pada 1992, Sampdoria juga menembus final Piala Champions (kini Liga Champions), namun kalah tipis 0-1 dari Barcelona.

Sebelum itu, Sampdoria melalui proses transformasi panjang dari tim papan tengah menjadi kekuatan baru di Italia. Mereka masih di Serie B pada 1979, sebelum kemudian perlahan berubah di era 90an.

Baca juga: Hasil Como vs Inter - Chivu Muak Final Masih Abu-abu, Cari Pelarian Tanpa Lautaro di Derby Milan

Perbandingan dengan Sampdoria era 90-an memang terdengar ambisius. Namun Como memiliki fondasi finansial kuat dan visi jangka panjang yang jelas.

Meski begitu, Fabregas sendiri memilih untuk membumi. Ia terus berusaha untuk mencapai standar tinggi untuk timnya.

"Ini kata-kata besar untuk masa depan. Itu memang ide sejak hari pertama kami memulai proyek ini dua tahun lalu," ujar Fabregas, dikutip dari Football Italia.

"Kami adalah tim yang datang dari Serie B, kami membuat perubahan penting pada bulan Januari, dan setelah setahun kami melihat peningkatan besar." 

"Saya tidak bisa berbohong, mimpi kami adalah terus berkembang dan suatu hari menantang sesuatu yang lebih besar," ujar mantan pemain Arsenal ini.

"Kami harus ingat dari mana kami berasal. Ini baru dua tahun proyek berjalan. Kami menaikkan standar sedikit demi sedikit. Kita akan lihat di mana kita berakhir suatu hari nanti," katanya.

Dengan 12 laga Serie A tersisa dan satu leg semifinal di depan mata, Como bukan lagi sekadar tim promosi yang mengejutkan. 

Mereka mulai dipandang sebagai proyek serius—dan jika konsistensi ini terjaga, mimpi besar itu mungkin tak lagi terdengar berlebihan.

(Tribunnews.com/Tio)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.