Curhat Petugas Damkar Salatiga Sering Kecele Jika Ada Kebakaran, 90 Persen Hidran Rusak
deni setiawan March 05, 2026 01:54 AM

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA – Kabid Damkar Satpol PP Kota Salatiga, Ponco Margono Hasan buka-bukaan mengenai kondisi hidran yang tersebar di wilayahnya.

Disebutkannya, meskipun sudah cukup banyak hidran yang tersedia, mayoritas dalam kondisi tidak bisa digunakan alias mangkrak.

Bahkan dikatakan Ponco, petugas Damkar beberapa kecele saat hendak menggunakannya untuk memadamkan api kebakaran. Hidran terdekat lokasi ternyata rusak.

Sesuai catatan terakhir, setidaknya 90 persen hidran di Kota Salatiga dalam kondisi tidak layak pakai.

Baca juga: Pelajar 14 Tahun Jadi Korban Pengeroyokan Perang Sarung di Salatiga

• Kepala BGN Dadan Hindayana: Jateng Penyumbang Terbesar Kasus Keracunan MBG

Temuan tersebut berdasarkan hasil inspeksi yang dilakukan petugas di beberapa titik rawan kebakaran di Kota Salatiga.

Ponco mengatakan, survei dilakukan di beberapa lokasi seperti pasar dan kawasan permukiman.

“Kami survei ke beberapa lokasi rawan yang terdapat hidran seperti di pasar dan sekitar permukiman, sebagian besar hidran tidak layak, bahkan mencapai 90 persen,” ungkapnya seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis (5/3/2026).

Dia menyebut, kerusakan paling parah ditemukan pada hidran di area pasar.

 “Kalau beberapa hidran kebakaran yang di area pasar itu tingkat kerusakannya sudah parah. Meski ada ground tank, tapi jaringan airnya tidak berfungsi,” kata Ponco.

Komponen Banyak yang Hilang

Selain rusak, banyak komponen hidran yang hilang.

Beberapa di antaranya tidak memiliki kantong air atau tekanan airnya tidak mencukupi.

“Banyak yang diambil orang. Di hidran itu ada kuningan, sehingga dinilai ada nilai ekonomi."

"Selain itu tidak terawat dan dibiarkan begitu saja,” kata Ponco.

Menurutnya, pengelolaan hidran kebakaran berada di bawah tanggung jawab PDAM Kota Salatiga.

Sementara Damkar berperan sebagai pengguna saat terjadi kegawatdaruratan, khususnya dalam penanganan kebakaran.

Namun karena kondisi hidran tidak layak, Damkar harus mengambil pasokan air langsung dari kantor Cebongan.

“Ini sebenarnya tidak efektif mempertimbangkan jarak dan waktu kalau membutuhkan pasokan tambahan saat penanganan,” ungkapnya.

Baca juga: Penyidik KPK Giring Pejabat Pemkab Pekalongan Masuk Bus Menuju Jakarta, Ini Daftar Namanya

• Bupati Fadia Arafiq Catut Nama Ahmad Luthfi, Terjaring OTT saat Bertemu Gubernur di Semarang

Jika membutuhkan tambahan pasokan air, Damkar akan berkoordinasi dengan BPBD Kota Salatiga untuk suplai menggunakan mobil tangki.

Saat ini Damkar Kota Salatiga memiliki tiga kendaraan ransus dengan kapasitas 3.000 liter dan 5.000 liter.

Ponco mengatakan, pihaknya juga mencari sumber air alternatif yang bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu.

Dari hasil peninjauan sementara, sumber air di Kalitaman dan Kaliwedok berpotensi digunakan.

“Meski begitu tidak bisa serta-merta, tetap harus ada sosialisasi dan komunikasi ke masyarakat serta lingkungan,” ungkapnya.

Pernah Gagal Saat Darurat

Ponco mengungkapkan, petugas Damkar pernah hendak memanfaatkan hidran saat memadamkan kebakaran.

Namun ketika akan digunakan, hidran tersebut tidak berfungsi.

“Padahal setiap detik itu sangat berharga untuk petugas."

"Kalau terlambat bisa berdampak lebih besar."

"Jadi kami seperti kena prank karena ternyata tidak berfungsi,” kata dia.

Pihaknya berharap masyarakat ikut menjaga keberadaan hidran karena fasilitas tersebut sangat dibutuhkan dalam kondisi darurat.

Menurut Ponco, hidran merupakan bagian dari fasilitas umum yang perlu dikelola dan dirawat bersama, tidak hanya oleh penanggung jawab dari PDAM, pemangku wilayah, dinas terkait, dan Damkar, tetapi juga oleh masyarakat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.