Alarm Bahaya Menyala, Rupiah Terancam Jebol Rp17.000, Bank Indonesia Siaga Penuh di Pasar
Seno Tri Sulistiyono March 05, 2026 06:32 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini, Kamis (5/3/2026) berpotensi kembali melemah akibat masih tingginya sentimen negatif.

Tercatat, rupiah kemarin berakhir melemah 20 poin ke level Rp16.892 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.872 per dolar AS.

"Hari ini mata uang rupiah fluktuatif, namun diproyeksi ditutup melemah direntang Rp 16.890- Rp16.940," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi.

Baca juga: Perang Iran-AS Berpotensi Tekan Indonesia, Harga Minyak hingga Rupiah Terancam

Ia menyebut rupiah berpotensi tembus level Rp17.000 per dolar AS pada Maret 2026, dan bukan tidak mungkin trendnya akan semakin melemah di tahun ini.

"Kalau rupiah tembus di Rp17.000 bulan ini, maka target Rp17.400 tahun ini akan tercapai," ucap Ibrahim.

Faktor Menekan Rupiah

Terdapat sejumlah faktor yang membuat investor melepas rupiah dan akhirnya mata uang garuda menjadi melemah.

Faktor eksternal, masih dari konflik di Timur Tengah yang makin meluas.

Ibrahi menyebut, para pedagang mempertimbangkan risiko konflik tersebut makin memburuk dengan sikap Israel bersama Amerika Serikat yang melakukan serangan tambahan ke Iran.

Kemudian, Teheran juga menargetkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur air sempit yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global. 

Otoritas Iran bersumpah akan menyerang kapal apa pun yang melewati selat tersebut.

"Ancaman terhadap Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak mentah dari produsen utama termasuk Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, telah menyuntikkan premi risiko geopolitik yang signifikan ke dalam harga minyak," paparnya.

Sedangkan sentimen negatif dari dalam negeri, kata Ibrahim, adanya pengumuman lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings yang merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Meski demikian, peringkat kredit jangka panjang mata uang asing (Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating/IDR) tetap di level BBB.

Ia menyampaikan, revisi outlook mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan, serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi pengambilan keputusan. 

"Kondisi itu dinilai dapat menekan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, serta memberi tekanan terhadap ketahanan eksternal," ucap Ibrahim.

Fitch memproyeksikan defisit fiskal Indonesia pada 2026 akan berada di kisaran 2,9 persen PDB, lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7%. 

Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif serta peningkatan belanja sosial, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat

Pelemahan rupiah tidak boleh dianggap sesuatu yang biasa, sebab dampaknya akan menambah pengeluaran masyarakat.

"Pelemahan rupiah berdampak pada harga bahan-bahan pokok," ucap Ibrahim.

Ia mencontohkan, barang-barang yang akan naik seperti produk impor yakni bahan bakar minyak (BBM), kedelai, kacang, barang-barang elektronik, dan komoditas lainnya.

Saat rupiah melemah, biaya yang dikeluarkan untuk impor makin tinggi. Dari kondisi ini, penjual akan menaikkan harga jualnya ke masyarakat.

"Pada saat impornya mahal seperti minyak, itu pasti akan berdampak terhadap barang-barang yang lain. transportasi juga naik, kemudian barang-barang naik," paparnya.

"Lalu tempe dan tahu yang bahan bakunya kedelai impor akan lebih mahal. Bisa juga ukurannya ditipisin," sambung Ibrahim.

BI Intervensi Pasar

Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyatakan, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah. 

Menurutnya, intervensi yang tegas dan konsisten akan terus BI lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward  (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.

"Pelemahan rupiah masih aligned dgn regional, secara MTD melemah 0,51%, relatif lebih baik dibandingkan regional," ujar Destry, kemarin.

Meski BI melakukan intervensi pasar uang, Destry menegaskan, cadangan devisa Indonesia tetap terjaga di level 154,6 miliar dolar AS akhir Januari 2026.

"Kemudian arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp25,7 triliun," paparnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.