TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara mulai merasakan dampak dari perang Iran Vs AS-Israel.
Seperti diketahui perang di Timur Tengah itu berimbas pada penutupan Selat Hormuz.
Selat Hormuz sebuah selat sempit yang terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, menjadi jalur penghubung menuju Laut Arab.
Selat Hormuz dikendalikan Iran merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.
Sekitar 20 persen jalur perdagangan minyak dunia melintasi Selat Hormuz sehingga jika ditutup oleh Iran akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Thailand sedang berupaya mengamankan pasokan bahan bakar alternatif untuk mengimbangi dampak dari penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran utama untuk transportasi minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Menteri Energi Thailand Auttapol Rerkpiboon mengatakan pemerintah berencana membeli minyak mentah dari Afrika Barat dan Amerika Serikat, dengan pengiriman diperkirakan pada akhir April.
Thailand masih bergantung pada Qatar untuk pengiriman LNG dan minyak mentah melalui Selat Hormuz.
Tujuh pengiriman dijadwalkan antara sekarang hingga akhir Mei, dua sudah dalam perjalanan dan lima lainnya menunggu pengiriman.
Namun pengiriman minyak belum jelas karena ancaman Iran akan "membakar kapal apa pun" yang mencoba melintasi selat tersebut.
Dikutip dari Bangkok Post, Kamis (5/3/2/2026), di SPBU diperkirakan akan terjadi kenaikan harga BBM.
Selain stok yang berkurang saat ini terjadi kenaikan lebih dari 10 persen pada harga minyak mentah dunia sejak meleutus perang Iran Vs AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memerintahkan pembekuan harga minyak diesel di angka 29,94 baht per liter selama 15 hari.
Di sejumlah SPBU di Thailand warga mulai terlihat antre membeli BBM beberapa waktu terakhir.
Junta Myanmar mengeluarkan aturan penjatahan BBM untuk kendaraan pribadi mulai Rabu (3/3/2026) kemarin.
Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional (NDSC) Myamnar seperti dikutip dari Reuters menjelaskan aturan itu berlaku efektif mulai 7 Maret 2026.
Hal ini sebagai respon atas pasokan pengiriman minyak ke Myanmar karena Selat Hormuz ditutup Iran.
Aturan penjatahan itu adalah menggunakan skema "genap-ganjil".
Pelat nomor genap hanya diperbolehkan mengisi BBM pada tanggal genap dan pelat nomor ganjil mengisi BBM di kendaraannya pada tanggal ganjil.
NDSC memperingatkan pelaku usaha dan individu untuk tidak menimbun bahan bakar untuk dijual kembali dengan harga yang dinaikkan, dan menyatakan bahwa para pelanggar akan dituntut.
Myanmar sangat bergantung pada impor bahan bakar olahan dari Singapura dan Malaysia, yang berfungsi sebagai pusat pengolahan regional untuk minyak mentah Timur Tengah.
Di Laos, warga dari Vientiane hingga Luang Prabang, mengatakan bahwa SPBU telah tutup setelah para pengendara berlomba-lomba mengisi BBM khawatir akan gangguan pasokan berkurang.
“Selama dua hari terakhir, orang-orang panik membeli barang. Antrean panjang ada di mana-mana, dan harga solar naik,” kata Chanthee Sipaseuth, seorang pengemudi taksi wisata di Luang Prabang dikutip dari SCMP.
“Namun setelah pemerintah Thailand meyakinkan kami bahwa mereka tidak akan berhenti mengekspor minyak ke Laos, situasinya menjadi lebih baik saat ini.”
Dia mengatakan harga solar telah naik dari 19.060 kip (88 sen AS) per liter sebelum perang menjadi sekitar 19.650 kip sekarang.
Laos mengimpor minyak dan gas dari Thailand, Cina, dan Vietnam.
Presiden Prabowo memanggil sejumlah menteri ke Istana Presiden Jakarta, Senin (2/3/2026) lalu.
Presiden menggelar rapat terbatas, hadir antara lain Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Rapat membahas antisipasi pasokan minyak dunia imbas penutupan Selat Hormuz Iran.
Bahlil menyebut hingga saat ini pasokan minyak dalam negeri tak terganggu dan cadangan minyak nasional masih cukup hingga 20 hari ke depan.
Namun tak dipungkiri potensi lonjakan harga minyak global akan terjadi.