TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Salah satu pemilik usaha jasa transportasi pariwisata di Bali atau Mr. Bali Tour, Gustu Kompyang mengeluhkan pembatalan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pasca perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran memanas.
Gustu memaparkan, dari total pemesanan travel yang sudah masuk untuk bulan ini, sekitar 60–70 persen mengalami pembatalan.
Angka ini masih berpotensi meningkat karena sebagian tamu memilih untuk menunda (postpone) perjalanan mereka.
“Pembatalan mulai terjadi sejak minggu lalu dan terus berlangsung hingga saat ini,” ungkapnya, Rabu 4 Maret 2026.
Baca juga: Imigrasi Bali Terbitkan Kebijakan ITKT dan Overstay Bagi WNA Terdampak Perang Timur Tengah
Disinggung apakah ada kekhawatiran pariwisata akan kembali sepi seperti saat Pandemi Covid-19?
Gustu tak menampik hal tersebut. Tentu ada kekhawatiran, meskipun Bali dikenal sebagai destinasi wisata dunia, situasi perang tetap berdampak secara global, baik dari sisi penerbangan maupun kondisi ekonomi.
“Beberapa tamu yang telah melakukan pemesanan untuk bulan Maret, termasuk dari Malaysia dan India, juga membatalkan atau menunda perjalanan mereka,” kata dia.
“Namun demikian, kami tetap berharap situasi ini justru dapat berbalik menjadi peluang, di mana wisatawan memilih Bali sebagai destinasi yang aman dan damai untuk berlibur, sehingga roda perekonomian masyarakat tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.
Gustu memaparkan saat ini merupakan periode low season. Berdasarkan grafik tahunan, biasanya masih terdapat pergerakan wisatawan yang stabil.
Namun, saat ini terjadi penurunan yang cukup drastis, bahkan sebelum situasi perang berlangsung.
Setelah adanya konflik, penurunannya terasa semakin signifikan.
Biasanya sekitar 90 persen wisatawan Timur Tengah menggunakan jasa transportasi dan paket tur.
“Mereka umumnya sangat antusias untuk menjelajahi Bali secara lebih luas, termasuk menikmati keindahan alam, kehidupan masyarakat, adat istiadat, serta tradisi budayanya,” pungkasnya.
Dampak lain dari perang antara AS-Israel dan Iran berdampak pada jumlah wisatawan masuk Bali di Tahun 2026.
Terlebih, berdasarkan data di Tahun 2025 pasar Timur Tengah masih menunjukkan kontribusi yang cukup bagi pariwisata Bali.
Menurut data kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2025, tercatat sebanyak 69.852 wisatawan dari 13 negara kawasan Timur Tengah berkunjung ke Bali.
Tiga besar negara penyumbang kunjungan tertinggi yakni Arab Saudi sejumlah 28.580 kunjungan, Uni Emirat Arab sejumlah 7.553 kunjungan, Yordania sejumlah 7.243 kunjungan.
Arab Saudi menempati posisi pertama dengan jumlah kunjungan yang sangat dominan, hampir empat kali lipat dibandingkan peringkat kedua.
Uni Emirat Arab berada di posisi kedua dengan kontribusi signifikan, disusul Yordania di posisi ketiga dengan selisih tipis dari UAE.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, menjelaskan ia masih mencermati perkembangan situasi geopolitik yang terjadi di kawasan tersebut.
“Kita lihat perkembangan situasi dulu. Harapan kita pasar Timur Tengah tetap lebih baik dari sebelumnya,” katanya, Rabu 4 Maret 2026.
Menurutnya, pasar Timur Tengah selama ini dikenal memiliki karakter tinggal lebih lama (long stay) dan belanja yang relatif tinggi, sehingga menjadi salah satu pasar potensial bagi Bali.
Namun dinamika keamanan dan stabilitas kawasan tentu dapat berdampak terhadap keputusan perjalanan wisatawan.
Dispar Provinsi Bali akan terus memantau perkembangan global sekaligus memperkuat promosi di berbagai pasar alternatif guna menjaga stabilitas kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sepanjang 2025. (sar)
20 Penerbangan dan 5.905 Penumpang Bandara Ngurah Rai Terdampak
Pembatalan penerbangan masih berlanjut di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang mengakibatkan penutupan ruang udara di sejumlah negara.
Meskipun otoritas negara setempat telah mengizinkan operasional penerbangan secara terbatas namun tujuan dari dan menuju Bali masih belum beroperasi.
“Hingga sore ini (kemarin) pukul 15.00 WITA, terdapat total 35 jadwal penerbangan rute internasional dengan rincian 20 keberangkatan dan 15 kedatangan yang mengalami pembatalan penerbangan,” kata Communication and Legal Division Head PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi, Rabu 4 Maret 2026.
Namun demikian operasional penerbangan dan pelayanan kebandarudaraan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali secara umum tetap berjalan dengan normal dan optimal.
Manajemen PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali secara berkesinambungan terus melakukan pemantauan situasi ruang udara di kawasan Timur Tengah.
Selain itu juga terus melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi, utamanya dengan maskapai penerbangan.
Hal ini untuk melakukan pembaharuan jadwal penerbangan dan penanganan calon penumpang yang telah berada di bandara, dengan AirNav Indonesia untuk memantau ruang udara yang terdampak, serta dengan aparatur keamanan untuk antisipasi situasi keamanan di bandara.
“Berdasarkan data dari maskapai penerbangan, jumlah calon penumpang dari penerbangan yang mengalami penyesuaian jadwal penerbangan tersebut berjumlah 5.905 penumpang, di mana data tersebut merupakan jumlah calon penumpang keberangkatan,” imbuh Eka Sandi.
Adapun penanganan terhadap seluruh penumpang tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan kebijakan masing-masing maskapai.
Ia menambahkan pihaknya juga telah mengantisipasi rencana pengaturan parking stand dari pesawat dari penerbangan yang terdampak, yang dialokasikan untuk 5 pesawat udara dari 3 maskapai penerbangan yang terdampak.
Pihaknya juga menyediakan area pelayanan help desk maskapai dan melakukan koordinasi dengan Kantor Imigrasi untuk penyediaan konter pelayanan imigrasi untuk pengurusan Izin Tinggal Keadaan Terpaksa (ITKT) bagi penumpang terdampak.
Adapun area pelayanan help desk dan konter pelayanan keimigrasian tersebut berlokasi di Lantai 2 Terminal Keberangkatan Internasional.
Pihaknya juga mengimbau kepada calon penumpang pesawat udara untuk terus berkomunikasi dengan maskapai penerbangan untuk pembaharuan informasi jadwal penerbangan.
“Kami juga menyediakan makanan ringan dan minuman secara gratis setiap hari kepada para penumpang terdampak, serta layanan contact center yang dapat diakses melalui sambungan telefon dengan nomor 172 untuk pembaharuan informasi,” jelasnya. (zae)
Disnaker Kabupaten Intensif Pantau PMI
Dampak konflik perang antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat, menjadi perhatian serius Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) kabupaten yang ada di Bali.
Kepala Disnaker Buleleng, Putu Arimbawa, mengatakan berdasarkan data tahun 2024-2025 tercatat ada 327 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Buleleng bekerja di sejumlah negara Timur Tengah. Dari jumlah tersebut paling banyak bekerja di Turki.
“Rinciannya meliputi Arab Saudi sebanyak 18 orang, Yordania 37 orang, Kuwait 57 orang, Qatar 6 orang, serta Uni Emirat Arab 13 orang. Paling banyak sasarannya negara Turki dengan 196 orang,” sebutnya didampingi Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja, Transmigrasi dan ESDM, Gede Geriadana Putra, Rabu 4 Maret 2026.
Dikatakan jika pihaknya secara intensif melakukan pemantauan terhadap kondisi para PMI Buleleng, melalui koordinasi dengan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Bali.
Disinggung terkait kemungkinan adanya PMI yang mengajukan permohonan untuk kembali ke tanah air akibat meningkatnya tensi konflik, Arimbawa menyebut hingga saat ini belum ada laporan atau pengajuan resmi.
“Sampai saat ini belum ada informasi terkait PMI yang ingin pulang. Namun apabila ada perkembangan, tentu akan kami tindaklanjuti sesuai prosedur dan berkoordinasi dengan instansi terkait,” tandasnya.
Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Jembrana juga terus melakukan koordinasi BP3MI untuk memonitor perkembangan terkini para PMI.
Di sisi lain, karena timur tengah dianggap menjadi daerah rawan konflik, pihaknya bakal lebih memperketat pengawasan calon PMI yang hendak berangkat ke negara timur tengah tersebut.
Menurut data yang berhasil diperoleh, jumlah total PMI asal Bali yang berada di Timur Tengah saat ini sebanyak 187 orang.
Sementara khusus warga Jembrana tercatat 17 orang.
Jumlah tersebut menurun jauh dibandingkan tahun 2025 lalu. Yang mana, warga Jembrana di Timur Tengah mencapai 254 orang.
“Sesuai dari BP3MI, warga kita asal Jembrana yang ada di Negara Timur Tengah saat ini sebanyak 17 orang. Belum ada laporan warga kita yang terancam atau lainnya," jelas Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Jembrana, Kadek Mirah Ananta Sukma Dewi saat dikonfirmasi, Rabu 4 Maret 2026.
Dia menyebutkan, dengan kondisi saat ini, pihaknya intens berkomunikasi dengan perwakilan Indonesia di luar negeri terutama di negara yang bersinggungan langsung dengan wilayah rawan konflik seperti Uni Emirat Arab (UAE), Turki, Kuwait dan di sekitarnya.
Selain itu, kata dia, pihaknya juga bakal lebih memperketat pengawasan tujuan keberangkatan PMI asal Jembrana dengan cara pendataan.
Langkah tersebut dinilai untuk lebih mudah berkoordinasi dengan PMI langsung serta bisa segera mungkin mengambil tindakan penanganan jika situasi memburuk.
Ke depan, tentunya keberangkatan PMI ke daerah rawan konflik mungkin bakal ditunda sementara untuk mengantisipasi hal terburuk terjadi.
“Ketika situasi terburuk, kita bisa memantau mereka secara langsung dan mungkin melakukan evakuasi pemulangan jika memang nantinya diperlukan. Pendataan ini penting sebagai dasar antisipasi kita ke depan,” tandasnya.
Disnaker Karangasem juga mengintensifkan pemantauan terhadap PMI tersebut.
Berdasarkan data terbaru Dinas Ketenagakerjaan Karangasem, saat ini terdapat 19 PMI asal Karangasem yang bekerja di sejumlah negara Timur Tengah.
Rinciannya, 2 orang berada di Arab Saudi, 9 orang di Uni Emirat Arab, dan 7 orang di Kuwait.
Kepala Disnaker Karangasem I Ketut Mertadina memastikan, hingga kini seluruh PMI tersebut dalam kondisi aman.
“Koordinasi ke pihak keluarga juga kami sudah lakukan, terkait keberadaan PMI tersebut. Mudah-mudahan mereka aman dan tidak ada masalah dari perkembangan di negara tempat mereka bekerja saat ini,” ujar Mertadina, Rabu 4 Maret 2026.
Dengan situasi di Timur Tengah yang tidak menentu, Mertadina mengaku terus berkoordianasi dengan BP3MI. Setiap perkembangan terhadap keselamatan PMI di Timur Tengah terus dipantau.
Himbauan juga telah dikeluarkan masing-masing negara, seperti PMI diminta meningkatkan kewaspadaan, agar aktif mengikuti arahan dari otoritas setempat maupun perwakilan Indonesia.
Selain itu, para pekerja migran diimbau menyimpan dan mencatat nomor penting, terutama kontak darurat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara masing-masing.
Langkah ini dinilai penting sebagai jalur komunikasi cepat apabila terjadi kondisi darurat.
“Jika ada situasi mendesak, segera hubungi perwakilan resmi pemerintah Indonesia. Ini juga sudah kami sampaikan melalui Medsos Disnaker Karangasem,” kata Mertadina. (mer/mpa/mit)