Teori Cermin Imam Al-Ghazali dan Puasa Ramadhan
mufti March 05, 2026 09:38 AM

Prof Dr M Hasbi Amiruddin MA, Guru Besar Islamic Studies UIN Ar-Raniry, anggota Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh, dan Direktur LSAMA Banda Aceh

DALAM sebuah hadis Rasulullah saw menyatakan bahwa, “Sesungguhnya dalam tubuh kita ada segumpal daging. Jika ia sehat sehatlah seluruh tubuh apabila rusak rusaklah seluruh tubuh, dia itu adalah hati (H.R. Bukhari Muslim). Menurut Imam Al-Ghazali hati kita itu bagaikan cermin (cermin muka). Cermin itu jika masih bersih, jika ada sinar dia dapat menangkap sepenuhnya sehingga dia memiliki kekuatan (menyimpan) cahaya di dalamnya.

Bahkan cahaya itu bukan hanya dapat ditangkap tetapi juga dia mampu mengirim cahaya ke mana saja. Seperti cermin muka setelah menangkap cahaya itu ketika kita pancarkan ke arah lain maka ruang itu juga bisa terang.

Begitu juga hati kita (bukan dalam arti fisik), ketika dia ada cahaya yang terkirim dari langit yaitu sinar Ilahi (ilmu untuk kebajikan), jika hati kita masih bersih dia akan dapat menangkapnya sepenuhnya dan kemudian mengirim cahaya itu ke seluruh tubuh. Dengan adanya cahaya Ilahi yang dipancarkan oleh hati kita ke setiap anggota tubuh kita, maka setiap anggota tubuh kita akan memancarkan kebajikan-kebajikan.

Ketika otak berpikir selalu menghasilkan pikiran-pikiran yang bermanfaat untuk kebaikan hidup, baik untuk dirinya maupun untuk masyarakat lain.

Bermanfaat hasil pikir dari hati yang bersih bukan hanya bermanfaat untuk kehidupan dunia saja tetapi sekaligus sejalan dengan ketentuan Allah swt yang dapat membahagiakan hidup kita di yaumil mahsyar, seperti apa yang sering kita doakan selama ini: Rabbana atina fiddunya hasanah  wa fil akhirati hasanah.

Begitu juga ketika sinar Ilahi itu telah dikirim ke lidah kita, maka akan muncul bicara yang penuh hikmah. Bicara yang selalu bermanfaat pada yang mendengarnya. Mungkin juga akan menjadi kata hikmah yang dapat memperbaiki citra hidup seseorang. Bahkan bisa sampai dapat membantu para penderita yang membutuhkan bantuan.

Ketika sinar Ilahi itu sudah terkirim ke tangan kita, tangan kita selalu bergerak yang dapat membantu manusia, termasuk makhluk-makhluk lainnya. Jika sinar Ilahi sudah berada dalam ruh tangan kita, Insyaallah kita akan terhindar dari menanda tangani sesuatu yang dapat merusak kehidupan orang lain atau membuat orang lain menderita. Kaki kita yang selalu membawa kita ke mana saja kita ingin pergi selalu terbimbing sehingga langkah kita selalu mengarah ke arah kebaikan. Kalau ke kantor murni ke kantor ingin menyelesaikan tugas-tugas yang telah diwajibkan kepada kita. Kalau ada dinas luar apalagi ke kota-kota besar, kaki kita terhindar dari menyalah-gunakan kesempatan.

Persoalannya adalah tidak semua hati kita bisa selalu dalam keadaan bersih. Menurut Imam Al-Ghazali, setiap  seseorang berbuat dosa maka akan terjadi titik noda hitam di hati. Jika dilakukan berulang-ulang maka semakin banyak titik noda yang dapat menutup hati. Jika hati kita sudah mulai tertutup dengan noda dan dosa, maka akan semakin melemah kekuatan hati dalam menangkap sinar Ilahi, sehingga sinar Ilahi itu tidak dapat ditangkap sepenuhnya. Dengan demikian ketika hati mengirim ke anggota tubuh kita tidak cukup kuat, sehingga anggota tubuh kita tidak memiliki sinar Ilahi sepenuhnya.

Karena itu kebajikan-kebajikan yang dihasilkan oleh anggota tubuh kita juga tidak begitu banyak.
Situasi ini yang sering kita lihat dalam masyarakat kita. Kadang-kadang kita lihat seseorang seperti suka beribadah, rajin ke masjid, bahkan mungkin ilmu agamanya juga memadai, tetapi ditemukan kadang-kadang dia berbuat yang tidak pantas. Baik bicaranya yang kurang bermanfaat, bisa menyakiti orang lain, bahkan merusakkan, atau terlibat maksiat, sampai pada tindakan yang dapat merugikan masyarakat umum, seperti tindakan korupsi. Ini karena sinar Ilahi yang dapat ditangkap oleh hati melemah, bukan hanya tidak menghasilkan banyak manfaat, tetapi juga sinar Ilahi yang dimilik oleh anggota tubuh kita tidak cukup untuk mencegah tindakan mungkar kita.

Kita juga kadang-kadang mendapat seseorang yang tindakannya hampir tidak pernah ada yang bermanfaat, baik bicaranya, pikirnya bahkan sampai pekerjaan hari-hari selalu yang mengarah pada maksiat. Seperti para muncikari yang kerjanya hari-hari melayani orang berbuat maksiat. Mungkin dalam golongan ini juga dapat kita golongkan ada oknum-oknum yang hari-harinya kerja agen sogok-menyogok. Ini karena hatinya sudah penuh tertutup noda dari dosa-dosa yang dia lakukan.

Membersihkan hati

Bagaimana cara agar hati kita bersih dan dapat menangkap sinar Ilahi yang kemudian bisa membagikan ke seluruh anggota tubuh kita sehingga semua anggota tubuh kita dapat menghasilkan kebajikan-kebajikan. Ini kita sedang berada di bulan Ramadhan, bulan yang penuh pengampunan. Dalam sebuah hadis, Nabi saw bersabda: “Barang siapa yang dapat menghidupkan bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan ikhtisaban, maka akan diampuni dosa-dosanya pada masa lalu.”(H.R.Ibnu Majah)

Ada kata kunci yang perlu kita pahami secara sempurna sehingga mungkin kita akan dapat mengikutinya.
Pertama, makna dari menghidupkan bulan Ramadhan yang diterjemahkan dari kata “qama” maknanya adalah kita mengambil kesempatan penuh untuk melaksanakan semua ibadah yang telah diistimewakan dalam bulan ini. Mulai dari ibadah wajib seperti shalat wajib sampai amalan-amalan sunah lainnya seperti shalat tarawih dan shalat-shalat sunat lainnya, bersedekah, berzikir dan berdoa.

Dalam hadis lain Nabi saw menjelaskan bahwa di bulan Ramadhan, jika kita melakukan amalan-amalan sunah nilainya sama dengan kita melakukan amalan wajib pada bulan-bulan lainnya. Ketika kita melaksanakan amalan-amalan wajib, nilainya seperti kita telah melaksanakan 70 kali pada bulan-bulan yang lain (Diriwayatkan dari Salman). Berdoa di bulan Ramadhan juga berbeda nilainya dengan berdoa pada bulan-bulan lain, karena pada bulan ini seperti diistimewakan oleh Allah (Al-Baqarah:86). Para mufasir melihat ayat ini masih dikelompokkan pada ayat kewajiban berpuasa. Ayat ini oleh kaum sufi dianggap sebagai undangan sepesial dari Allah kepada hamba Nya yang ingin mendekatkan dirinya dengan Allah (takarub ilallah).

Yang kedua, kata ikhtisaban, dimaksudkan adalah kita melakukan amalan-amalan dalam bulan Ramadhan dengan sepenuh hati, ikhlas, benar-benar ajakan dari hati kita sendiri dengan niat memenuhi panggilan Allah, bukan karena malu dengan tetangga, atau tidak enak dengan bawahan. Jika kita dapat melakukan ibadah secara sempurna dengan sepenuh hati sehingga terlihat seperti menghidupkan bukan Ramadhan, maka seperti sabda Nabi saw, akan terampunkan semua dosa-dosa kita masa lalu.

Dengan demikian berarti kita telah suci dari dosa. Ketika kita sudah suci dari dosa, berarti hati kita sudah bersih dari titik noda hitam. Ketika situasi seperti inilah hati kita dapat menangkap sinar Ilahi secara sempurna dan dapat mengalirkan ke seluruh anggota tubuh kita yang kemudian setiap gerakan anggota tubuh kita selalu dalam bimbingan sinar Ilahi.

Semoga saja semua kita dapat mencapai tingkat kebersihan sebagaimana sabda Rasulullah, sehingga seluruh gerakan dari anggota tubuh kita benar-benar selalu menghasilkan kebaikan-kebaikan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.