Dampak Penutupan Selat Hormuz Mulai Terasa di Asia Tenggara
Hari Susmayanti March 05, 2026 11:04 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Perang Iran vs AS dan Israel mulai berdampak terhadap pasokan bahan bakar minyak (BBM) ke sejumlah negara di Asia Tenggara.

Beberapa negara pun sudah mulai menaikan harga BBM di dalam negerinya dan pembatasan pembelian.

Bahkan di Laos, sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sudah mulai tutup karena terjadi kepanikan sehingga warga menyerbu untuk membeli BBM.

Dikutip dari Tribunnews, negara-negara di Asia Tenggara selama ini memang banyak yang menggantungkan pasokan BBM dari impor.

Kapal-kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak, sebagian besar menggunakan Selat Hormuz sebagai jalur pendistribusian.

Namun dengan adanya perang AS, Israel vs Iran, Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia ditutup oleh Iran.

Kondisi itu berpengaruh terhadap pasokan minyak ke sejumlah negara, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Di Thailand, penutupan Selat Hormuz mulai terasa dampaknya.

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul  memerintahkan pembekuan harga minyak diesel di angka 29,94 baht per liter selama 15 hari.

Sementara itu dikutip dari Bangkok Post, Kamis (5/3/2/2026), di SPBU diperkirakan akan terjadi kenaikan harga BBM.

Selain stok yang berkurang saat ini terjadi kenaikan lebih dari 10 persen pada harga minyak mentah dunia sejak meletus perang Iran Vs AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu.

Menteri Energi Thailand Auttapol Rerkpiboon mengatakan pemerintah berencana membeli minyak mentah dari Afrika Barat dan Amerika Serikat, dengan pengiriman diperkirakan pada akhir April.

Thailand masih bergantung pada Qatar untuk pengiriman LNG dan minyak mentah melalui Selat Hormuz. 

 Tujuh pengiriman dijadwalkan antara sekarang hingga akhir Mei, dua sudah dalam perjalanan dan lima lainnya menunggu pengiriman.

Namun pengiriman minyak belum jelas karena ancaman Iran akan "membakar kapal apa pun" yang mencoba melintasi selat tersebut.

Sementara kondisi di lapangan, di sejumlah SPBU di Thailand warga mulai terlihat antre membeli BBM beberapa waktu terakhir.

Kebijakan soal pendistribusian BBM yang mulai dilaksanakan oleh Junta Myanmar.

Per Rabu (3/3/2026) kemarin, Junta Myanmar mulai membatasi pembelian BBM untuk kendaraan pribadi.

 Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional (NDSC) Myamnar seperti dikutip dari Reuters menjelaskan aturan itu berlaku efektif mulai 7 Maret 2026.

Hal ini sebagai respon atas pasokan pengiriman minyak ke Myanmar karena Selat Hormuz ditutup Iran.

Aturan penjatahan itu adalah menggunakan skema "genap-ganjil".

Pelat nomor genap hanya diperbolehkan mengisi BBM pada tanggal genap dan pelat nomor ganjil  mengisi BBM di kendaraannya pada tanggal ganjil.

NDSC memperingatkan pelaku usaha dan individu untuk tidak menimbun bahan bakar untuk dijual kembali dengan harga yang dinaikkan, dan menyatakan bahwa para pelanggar akan dituntut.

Myanmar sangat bergantung pada impor bahan bakar olahan dari Singapura dan Malaysia, yang berfungsi sebagai pusat pengolahan regional untuk minyak mentah Timur Tengah.

Di Laos, sejumlah SPBU bahkan sudah tutup sejak dua hari terakhir.

Pengelola menutup usahanya karena para pengendara berlomba-lomba mengisi BBM khawatir akan gangguan pasokan berkurang.

“Selama dua hari terakhir, orang-orang panik membeli barang. Antrean panjang ada di mana-mana, dan harga solar naik,” kata Chanthee Sipaseuth, seorang pengemudi taksi wisata di Luang Prabang dikutip dari SCMP.

“Namun setelah pemerintah Thailand meyakinkan kami bahwa mereka tidak akan berhenti mengekspor minyak ke Laos, situasinya menjadi lebih baik saat ini.”

Dia mengatakan harga solar telah naik dari 19.060 kip (88 sen AS) per liter sebelum perang menjadi sekitar 19.650 kip sekarang.

Laos mengimpor minyak dan gas dari Thailand, Cina, dan Vietnam.

Sedangkan di Indonesia, Presiden Prabowo memanggil sejumlah menteri ke Istana Presiden Jakarta, Senin (2/3/2026) lalu.

Presiden menggelar rapat terbatas, hadir antara lain Menteri ESDM Bahlil Lahadalia

Rapat membahas antisipasi pasokan minyak dunia imbas penutupan Selat Hormuz Iran.

Bahlil menyebut hingga saat ini pasokan minyak dalam negeri tak terganggu dan cadangan minyak nasional masih cukup hingga 20 hari ke depan.

Namun tak dipungkiri potensi lonjakan harga minyak global akan terjadi. 

Baca juga: Siapa Mojtaba Khamenei, Calon Pemimpin Tertinggi Iran yang Didukung IRGC?

Mengenal Selat Hormuz

Selat Hormuz adalah selat sempit yang terletak di antara Iran di sebelah utara dan Oman serta Uni Emirat Arab di sebelah selatan, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan selanjutnya ke Laut Arab.

Lebar selat ini sekitar 33 km pada titik tersempitnya, dengan jalur pelayaran yang bahkan lebih sempit karena dibagi menjadi jalur masuk dan keluar kapal.

Lokasi geografisnya menjadikan Selat Hormuz sebagai jalur laut strategis yang sangat penting bagi perdagangan global, khususnya transportasi energi dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara di dunia.

Selat Hormuz memiliki arti ekonomi yang sangat besar karena merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.

Sejumlah negara penghasil minyak besar di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Qatar mengirimkan sebagian besar ekspor minyak dan gas alam cair mereka melalui selat ini.

Diperkirakan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap hari menggunakan kapal tanker besar.

Karena itu, stabilitas dan keamanan jalur ini sangat memengaruhi harga energi global serta kestabilan ekonomi internasional.

Selain penting secara ekonomi, Selat Hormuz juga memiliki nilai geopolitik dan militer yang sangat tinggi.

Ketegangan politik di kawasan, terutama yang melibatkan Iran dan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, sering kali membuat selat ini menjadi fokus perhatian dunia.

Dalam beberapa situasi konflik, Iran pernah mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap sanksi atau tekanan politik.

 Jika hal tersebut benar-benar terjadi, dampaknya bisa sangat besar terhadap perdagangan energi global dan keamanan maritim internasional, sehingga banyak negara menempatkan kekuatan angkatan laut di sekitar kawasan tersebut untuk menjaga kebebasan pelayaran. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.