Berubah Sikap, Kini Kanada Ikut dalam Barisan Sekutu Bantu AS Berperang Lawan Iran
Ansari Hasyim March 05, 2026 12:40 PM

SERAMBINEWS.COM – Pemerintah Kanada memberi sinyal perubahan sikap terkait konflik yang sedang memanas antara Amerika Serikat dan Iran.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengatakan negaranya tidak menutup kemungkinan ikut serta dalam upaya sekutu Barat jika konflik tersebut semakin meluas.

Pernyataan itu disampaikan Carney saat melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, di Canberra.

Ia menegaskan bahwa Kanada tetap berada dalam barisan negara-negara sekutu dan akan mempertimbangkan berbagai opsi yang ada.

“Seseorang tidak akan pernah bisa mengesampingkan partisipasi,” kata Carney kepada wartawan seperti dilansir Al Jazeera, Kamis.

Baca juga: BREAKING NEWS - Pagi Ini, AS dan Israel Bombardir Teheran, Iran Balas Hujani Tel Aviv dengan Rudal

Sebelumnya, Carney sempat mengkritik serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Ia menilai tindakan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan hukum internasional dan berpotensi memperbesar ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Namun dalam pernyataan terbarunya, Carney menekankan bahwa Kanada memiliki komitmen kuat terhadap kerja sama dengan negara-negara sekutu, terutama dalam menjaga stabilitas global dan keamanan internasional.

Meski belum memastikan bentuk dukungan yang akan diberikan, pernyataan Carney menandakan bahwa Kanada membuka kemungkinan untuk terlibat, baik melalui dukungan militer, logistik, maupun kerja sama strategis lainnya bersama negara-negara Barat.

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sendiri terus meningkat dalam beberapa hari terakhir, memicu kekhawatiran akan meluasnya perang di kawasan Timur Tengah dan potensi keterlibatan lebih banyak negara sekutu.

Prancis, Jerman, dan Inggris pada Minggu menyatakan kesiapan mereka untuk membela kepentingan nasional serta sekutu di kawasan Teluk jika diperlukan, termasuk dengan mengambil “tindakan defensif” terhadap Iran.

Dalam pernyataan bersama, para pemimpin ketiga negara tersebut mengaku terkejut dengan serangan rudal tanpa pandang bulu dan tidak proporsional yang dilancarkan Iran terhadap negara-negara di kawasan itu, termasuk negara-negara yang tidak terlibat dalam operasi militer awal AS dan Israel.

“Serangan sembrono Iran telah menargetkan sekutu dekat kami dan mengancam personel militer serta warga sipil kami di seluruh wilayah,” demikian bunyi pernyataan itu.

Mereka juga menyerukan agar Iran segera menghentikan serangan tersebut.

Baca juga: Mojtaba, Putra Ayatollah Khamenei, Terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru

“Kami akan mengambil langkah-langkah untuk membela kepentingan kami dan sekutu kami di kawasan ini, berpotensi melalui pengaktifan tindakan defensif yang diperlukan dan proporsional untuk menghancurkan kemampuan Iran menembakkan rudal dan drone ke sumbernya,” lanjut pernyataan tersebut.

Ketiga negara itu juga menyatakan telah sepakat bekerja sama dengan Amerika Serikat dan sekutu kawasan dalam menghadapi situasi ini.

Iran sebelumnya melancarkan serangkaian serangan rudal dan pesawat tak berawak ke beberapa negara Teluk, dengan mengklaim menargetkan pangkalan militer AS, sebagai balasan atas serangan rudal gabungan AS-Israel sejak Sabtu.

Serangan Iran dilaporkan menghantam pangkalan militer multinasional di dekat Arbil, Irak utara, serta sebuah kamp tentara Jerman di timur Yordania. Seorang juru bicara militer Jerman membenarkan laporan tersebut kepada AFP dan menyatakan tidak ada korban jiwa.

Garda Revolusi Iran mengumumkan serangan “berskala besar” pada Minggu. Ledakan terdengar di Riyadh, Dubai, Abu Dhabi, Doha, Manama, Yerusalem, dan Tel Aviv. Layanan penyelamatan Israel melaporkan sedikitnya sembilan orang tewas di kota Beit Shemesh.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut pembunuhan Khamenei sebagai “deklarasi perang terhadap umat Muslim” dan menegaskan bahwa Iran menganggap sebagai kewajiban serta hak sahnya untuk membalas para pelaku dan dalang kejahatan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu mengatakan, “Kami membela diri dengan cara apa pun, dan kami tidak melihat batasan bagi diri kami sendiri untuk membela rakyat kami, untuk melindungi rakyat kami.”

Iran ke Eropa: Membantu AS dan Israel Berarti Perang

Iran memperingatkan negara-negara Eropa bahwa jika mereka bergabung dengan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayahnya, Teheran akan menganggap langkah tersebut sebagai keterlibatan langsung dalam perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Menanggapi pernyataan sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang menyebut pengeboman instalasi rudal Iran sebagai tindakan “pertahanan”, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pada Selasa menegaskan bahwa bergabung dengan serangan AS-Israel akan dianggap sebagai “tindakan perang”.

“Bertahan adalah sinonim untuk menyerang. Apakah itu masuk akal? Apakah mereka ingin merampas kemampuan dan kapasitas Iran untuk melawan para agresor?” ujarnya dalam bahasa Inggris.

“Akan sangat disayangkan jika negara-negara ini berpihak pada para agresor. Mereka sudah cukup berbuat melawan Iran,” tambahnya.

Peringatan tersebut muncul ketika pemerintah Eropa tengah menimbang peran mereka dalam konflik yang kian memanas, antara memenuhi permintaan dukungan militer dari AS dan kekhawatiran terseret langsung ke dalam perang.

Serangan balasan Iran juga dilaporkan menghantam pangkalan militer yang menempatkan tentara Eropa. Prancis pada Senin menyatakan akan memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah. Serangan terhadap bangunan sipil dan infrastruktur di negara-negara Teluk turut memicu kekhawatiran, mendorong sejumlah negara Eropa mempercepat evakuasi warga mereka.

Dalam pernyataan Minggu lalu, para pemimpin Prancis, Jerman, dan Inggris menegaskan kemungkinan “mengaktifkan tindakan defensif yang diperlukan dan proporsional untuk menghancurkan kemampuan Iran menembakkan rudal dan drone ke sumbernya.”

Juru bicara Kanselir Jerman, Friedrich Merz, pada Senin menyebut redaksi pernyataan tersebut dapat diinterpretasikan berbeda oleh masing-masing negara.

Sebagai contoh, Starmer pada Minggu menyatakan akan mengizinkan AS menggunakan pangkalan Inggris untuk melancarkan serangan terhadap Iran, selama bertujuan untuk “pertahanan khusus dan terbatas”, yakni menyerang kemampuan rudal Iran.

Belum jelas apakah langkah tersebut akan dianggap Iran sebagai ambang keterlibatan langsung dalam perang. Tak lama setelah pernyataan Starmer, serangan pesawat tak berawak menghantam fasilitas militer Inggris di Akrotiri, Siprus.

Siprus, negara anggota Uni Eropa yang paling dekat dengan Iran, menegaskan bukan bagian dari konflik. Pemerintah di Nicosia mengecam susunan kata dalam pernyataan Starmer. Yunani dan Prancis kemudian mengirimkan aset militer ke Siprus untuk membantu melindungi pulau tersebut dari potensi serangan lanjutan.

“Bantuan yang diminta adalah bantuan yang diperlukan,” ujar juru bicara pemerintah Siprus, Konstantinos Letymbiotis, pada Selasa. “Ini sama sekali bukan tindakan yang mengindikasikan partisipasi Siprus dalam operasi militer apa pun. Kami terus mengulanginya, dan kami akan mengulanginya lagi hari ini.”

Kedutaan Besar Iran di Siprus juga berupaya menenangkan situasi dengan menegaskan bahwa hubungan bilateral tetap kuat dan tidak terpengaruh oleh meningkatnya konflik regional, sembari menyatakan bahwa Teheran tidak pernah memulai agresi, sebagaimana dilaporkan media lokal.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.