Oleh ; Prof. Dr. H. Zayadi Hamzah, M.Ag
Guru Besar Sosiologi Agama pada fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Syaik Abdurrahman Sidiq Bangka Belitung, dan Ketua Dewan Pembina Pondok Pesantren Al Islam Kemuja Mendo Barat Bangka
Ramadhan tidak hadir dalam ruang hampa yang kosong tetapi selalu datang membawa nuansa yang berbeda.
Berbeda itu ditandai dengan lahirnya beragam fakta empiris, misalnya beberapa insitusi sosial dan keagamaan menampilkan biner atau spanduk bertuliskan ucapan "Marhaban ya Ramadhan".
Nuansa kantor menjadi berbeda bahkan jam kerja menjadi lebih singkat dalam rangka menghormati Ramadhan.
Penjual makanan bertambah tanpa kendali dengan bermacam citarasa yang khas dan menggoda selera.
Perokonomian masyarakat secara faktual meningkat drastis dengan indikator mendadak tinggi daya beli masyarakat.
Wal hasil berlimpahan keberkahan dunia datang dengan hadirnya bulan Ramadhan.
Demikian juga religiusitas masyarakat, masjid yang tadinya sepi dari ritual dan seremonial keagamaan mendadak ramai,
Lantunan ayat suci al-Qur'an menggema lebih sering dari biasanya, baik pada siang maupun malamnya.
Tangan-tangan yang biasanya sibuk dengan urusan dunia mulai terangkat memohon ampunan.
Ritual sholat berjamaah bertambah secara kuantitas menjadi simbol syiar yang membanggakan Islam.
Dengan Ramadhan, Tuhan menurunkan keberkahan, keridoan dan rahmat serta ampunanNya dengan melipatgandakan ganjaran pahala ibadah kita baik secara ritual maupun sosial.
Ibadah Puasa dan Emotional Intelligence
Ibadah puasa dapat dipelajari dalam beragam perspektif.
Tulisan ini fokus pada dimensi spritualitas Ramadhan dalam kaitannya dengan emotional intelligence atau self control ketika orang melakukan puasa.
Mauer & Slovey menyebutkan emotional intelligence dengan himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.
Sedangkan menurut Daniel Goleman emotional intelligence adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui ketrampilan kesadaran diri, pengendalian diri, memotivasi diri, empati dan ketrampilan sosial.
Lebih jauh Goleman menyebutkan dengan kemampuan mengenali, mengelola emosi diri, memotivasi diri, berempati serta membangun hubungan sosial.
Emotional intelligence memuat lima aspek penting yaitu kesadaran, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial.
Kelima aspek ini bermuara pada akal dan nafsu yang ada pada diri manusia.
Dalam perspektif Islam, Tuhan telah memberikan kita akal untuk menuntun nafsu kita.
Kombinasi akal dan nafsu hanya ada pada manusia dan tidak diberikan pada mahluk lain.
Malaikat sebagai mahluk yang ghaib tidak memiliki nafsu tetapi memiliki akal sekalipun secara fungsional statis
yang hanya tunduk pada perintah Allah.
Sedang mahluk Tuhan yang lain seperti binatang tidak memiliki akal tetapi memiliki nafsu.
Kombinasi akal dan nafsu ini telah menempatkan manusia sebagai mahluk mulia yang dideskripsi Tuhan dalam firmanNya surah 95 ayat 4 "Lakod kholaqnal-insaana fii ahsani taqwiim" yaitu sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya".
Akan tetapi pada ayat selanjutnya ayat 5 dan 6 Allah menegaskan "Summa rodatnahu asfala saafiliin, illa allazina aamanu wa amilus shoolihati ...." kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. "
Karena secara fungsional akal pada satu sisi dapat membimbing nafsu dan pada sisi yang lain dapat tunduk kepada nafsu. Ketika akal dikalahkan nafsu, maka manusia jatuh dalam kehinaan (asfala saafiliin).
Ketika orang berpuasa tidak mampu mengalahkan nafsunya, maka puasa menjadi sia-sia yaitu hilang pahala puasanya dan bahkan batal.
Nabi menggambarkan puasa sia-sia itu dengan sabdanya 5 ("tidak sedikit orang yang berpuasa hanya memperoleh lapar dan dahaga."
Meraih Hasil Maksimal Puasa
Untuk mencapai hasil puasa maksimal sesuai perintah nabi, orang berpuasa harus mampu mengendalikan hawa nafsu yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Hal tersebut terkait dengan hakekat puasa itu sendiri yaitu pengendalian diri, baik dari aspek nafsu maupun emosi.
Puasa melatih diri kita mengendalikan nafsu dan emosi yang melekat pada diri kita sebagai anugerah Tuhan.
Puasa merupakan media bagi orang berpuasa untuk melatih diri dan proses pengendalian diri.
Kontrol terhadap nafsu biologis seperti makan minum membutuhkan pembatasan secara syariah.
Kontrol terhadap nafsu ekonomis juga butuh dilatih, seperti perintah memperbanyak infaq dan sodaqoh dalam beragam bentuk dan momen. Sementara itu kontrol terhadap emosi juga dilatih.
Emosi itu adalah ekspresi normal manusia atas berbagai hal yang terjadi ketika kita berpuasa.
Misalnya, ketika kita merasa senang terhadap sesuatu, merasa kesal terhadap seseorang atau merasa sedih tertimpa suatu masalah.
Menahan marah, sabar, dan mampu mengelola emosi sehingga berdampak pada perilakunya terhadap orang lain.
Perilaku yang terbentuk sebagai manipestasi wujud kesabaran dan pengendalian emosi akan melahirkan akhlak yang terpuji mulia secara vertikel kepada Allah dan horizontal sesama manusia.
Pengendalian diri ketika berpuasa memuat keseluruhan pancaindra kita, semisal manahan mata dari pandangan yang tidak baik, menahan pendengaran dari gunjingan dan lainnya.
Ketika seseorang telah mmpu mengelola emosinya dengan baik dan berdampak pada perilakunya terhadap orang lain, maka dia telah mencapai emotional intelligence yang kuat.
Menurut Cardon, kuatnya emotional intelligence pada akhirnya terciptalah apa yang disebut dengan good interpersonal skill.
Terciptanya good interpersonal skill menunjukkan puasa melatih kita untuk mengelola emosi diri yang pada akhirnya dapat menciptakan hubungan sosial yang baik dan harmonis.
Selain terciptanya hubungan sosial yang baik secara sosiologis, kuatnya emotional intelligence dapat pula menciptakan hubungan vertikal secara teologis dengan Tuhan melalui spiritualitas puasa sesuai dengan tujuan dari puasa itu sendiri yaitu meraih derajat takwa.
Dalam firmanNya di ujung ayat surat ke 2 ayat 183 " laallakum tattaquun" semoga kamu menjadi orang yang bertakwa.
Berpuasa secara biologis akan membawa kita kepada puasa psikologis bersumber dari emotional intelligence
(ruhani) untuk mencapai derajat takwa sebagai tujuan akhir dari puasa.
Semoga Ramadhan dapat membawa kelahiran baru secara spiritual bagi kita menuju kelahiran baru sebagai orang menyandang gelar muttaqin. Wallahu a'lam bis showab.