Kisah Annisa Tungkagi, Eks Nakes Gorontalo Rintis Kedai Kopi Jalanan
Fadri Kidjab March 05, 2026 09:58 AM

 

(Penulis: Putri Salsabilah, Mahasiswa Bahasa Indonesia UNG)

TRIBUNGORONTALO.COM – Nomma, kedai kopi di kawasan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) tampak ramai. 

Kedai dirintis oleh Annisa Tungkagi bersama sang suami, Yayat Mohina, kini menjadi salah satu tongkrongan favorit mahasiswa.

Tak banyak yang tahu, Annisa Tungkagi sama sekali tak memiliki basic barista.

Ia merupakan alumnus Poltekkes Kemenkes Gorontalo. Annisa mengawali pendidikannya di SD 1 Mongkonai. Selanjutnya SMP MTS Darul Ulum, hingga SMA 2 Kotamobagu.

Setelah lulus, ia sempat mengabdi sebagai tenaga medis di Puskesmas selama dua hingga tiga tahun.

Annisa kemudian meninggalkan dunia kesehatan dan memilih wirausaha. Melalui pertimbangan matang, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan banting setir berjualan kopi.

“Saya memilih jualan kopi karena hasilnya bisa dirasakan setiap hari. Tidak perlu menunggu gaji bulanan lagi,” ungkap Annisa penuh keyakinan.

Baca juga: Daftar Alokasi Anggaran THR ASN 2026 Se-Gorontalo, Kabgor Paling Tinggi

Awal merintis kedai kopi

Yayat bersama Annisa Tungkagi
KEDAI KOPI -- Yayat bersama Annisa Tungkagi. Keduanya merintis kedai kopi di kawasan Universitas Negeri Gorontalo. (handover)

Awalnya, Annisa bersama suami menyewa lahan di area Kampus 1 UNG yang dinilai terjangkau. 

Ternyata, insting bisnisnya tepat. Kopi susu racikan Annisa dan roti bakar segera menjadi menu best seller, disambut hangat oleh mahasiswa yang membutuhkan asupan kafein di tengah padatnya kuliah.

Yayat Mohina turut berperan besar. Meski awalnya tidak tertarik dengan dunia kopi, lulusan S1 Manajemen Ekonomi ini akhirnya menjadikan Nomma sebagai “mesin bertahan hidup” keluarga.

Keunikan Nomma terletak pada sentuhan visual Yayat. Dengan hobi fotografi, ia kerap mengabadikan interaksi pelanggan dalam gaya street photography estetik.

Dokumentasi itu diunggah ke Instagram, menciptakan “kenangan digital” sekaligus menjadi strategi pemasaran organik yang efektif.

Memasuki Ramadan, Nomma menyesuaikan jam operasional. Jika biasanya buka siang hingga malam, khusus Ramadan kedai ini beroperasi pukul 21.00–00.00 Wita, menjadi destinasi favorit setelah salat tarawih.

Harga yang ramah kantong, Rp10.000–Rp15.000, membuat Nomma digemari mahasiswa.

“Suasana malam di sini sangat nyaman untuk bersantai setelah berpuasa,” ujar Gio Hasana (21) saat ditemui di kedai kopi.

Sementara itu, Wisnu Kurniawan (19) pun memuji kopi buatan Nomma.

“Kopinya enak, harganya worth it untuk mahasiswa," ungkapnya.

Meski kerap ramai pengunjung, tantangan terbesar bagi pemilik Nomma adalah cuaca hujan.

“Kalau hujan, pengunjung pasti berkurang. Kami hanya bisa mengikuti aturan kampus dan mengalir saja,” ujar Yayat.

Yayat bersama Annisa kini bertekad mengembangkan varian kopi baru, dengan fokus pada kopi susu sebagai identitas Nomma. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.