Renungan Harian Katolik
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
KEKAYAAN MATERI BUKANLAH DOSA NAMUN GAGAL PEDULI DAN BERBAGI DENGAN SESAMA YANG MISKIN DAN MENDERITA
(Yer. 17:5-10; Mzm. 1:1-2.3 4.6; Luk. 16:19-31)
"Anakku ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita." (Luk. 16:25)
Sumber rahmat dalam hidup adalah mengandalkan Tuhan dan bertobat. Sumber matapetaka dan penderitaan abadi adalah egois, tidak peduli dan sukar berbagi dengan sesama yang susah dan menderita.
Kisah orang kaya dan Lazarus yang miskin mengajarkan kebajikan-kebajikan yang indah dalam hidup bersama. Ada tendensi yang kuat bahwa manusia itu memiliki sikap eksklusif yang ekstrim dalam hidupnya.
Hal ini tampak dalam terbentuknya kelompok-kelompok sosial tertentu dalam hidup bersama.
Ada kelas-kelas dalam strata hidup sosial: kelas atas, menengah dan bawah. Ada kelompok elit, ada pula kelompok akar rumput. Ada ikatan profesi, ada juga kelompok terlantar, dll.
Menjadi orang kaya dan hidup dalam kelompok ikatan tertentu pada dasarnya tidak berdosa. Menutup diri dan ekstrim dengan/dalam kelompok sendiri inilah yang mencelakakan. Sikap inklusif mesti ada dalam sanubari insan beriman.
Menjadi orang kaya tidak berdosa. Banyak orang kaya yang dermawan, terbuka, peduli pada masalah-masalah ekstrim kemanusiaan seperti memerangi kemiskinan struktural, kejahatan tragis yang menimpa manusia seperti human trafficking, pengrusakan lingkungan hidup, korupsi dan perang.
Sikap hidup egois, tertutup, tidak peduli, dan tidak berbagi dengan orang-orang miskin yang susah dan menderita akan mendatangkan penderitaan abadi.
Penderitaan si kaya dalam kisah Injil bukan karena ia kaya lalu hidup menderita di alam baka, bukan itu, melainkan ia gagal berbela rasa, gagal peduli dan gagal berbagi dengan sesamanya yang miskin dan sangat menderita. Ia menggenggam erat egoismenya dan mata hatinya pun menjadi buta untuk memandang dengan belas kasih sesamanya.
Hidup berlimpah ruah dalam materi mesti berimbang dengan kepedulian, solidaritas dan terlibat.
Kaya tanpa peduli dan maju dalam karya kasih terhadap sesama yang miskin, menderita dan tersisih, hidup jadi sia-sia. Impian hidup yang penuh makna dan sukacita kelak, hanya terjaring melalui ungkapan tulus belas kasih bagi mereka yang sengaja terabaikan dan terlupakan dalam hidup bersama kita.
Orang miskin hidup dalam rahmat besar bukan karena kemiskinan yang membelenggu hidup mereka, melainkan dalam ketakberdayaan hidup itu, mereka selalu mengandalkan Tuhan, harapan mereka tetap hidup menuju hidup yang penuh hiburan dalam Allah.
Pertobatan hanya terjadi dalam hidup sekarang ini. Pertobatan sejati memurnikan mata hati dalam memandang sesama yang sedang susah dan menderita, lalu menggerakkan kita untuk menolong tanpa pamrih.
Nabi Yeremia mengajarkan bahwa hidup mesti berakar pada sumber yang benar. Hal ini sangat penting dalam menentukan nasib hidup manusia ke depan. Mengandalkan Tuhan adalah cara sunyi hidup dalam iman yang tepat.
Dunia terus menggoda untuk mengharapkannya walau hidup terpaksa berakhir dalam kehampaan.
Dalam Tuhan ada harapan dan berkat kudus-Nya terus menaungi hidup sepanjang masa. Yeremia menegaskan, "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan." (Yer. 17:7).
Mengandalkan Tuhan memampukan kita untuk peduli dan terlibat dalam hidup sesama yang menderita dan bersama-sama bertumbuh menuju keabadian hidup yang penuh sukacita.
Pemazmur menanggapi dalam madah agungnya, "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan kaum pencemooh; tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan, dan siang malam merenungkannya." (Mzm. 1:1-2).
Sabda Tuhan menjadi kompas rohani yang mengarahkan kita menuju hidup yang penuh sukacita dalam Allah, melalui pertobatan yang terus menerus untuk hanya mengandalkan Dia dan berbelas kasih untuk bisa berbagi dengan sesama yang sangat membutuhkannya.
Tuhan itu baik dan penuh kuasa. Dalam karya agung-Nya kejahatan takkan dibiarkan menyelibap. Berkat kebaikann-Nya yang tak terbatas itu, Allah membiarkan Diri-Nya menjadi kekayaan rohani untuk dimiliki oleh siapa pun yang percaya kepada-Nya melalui Putra-Nya Yesus Kristus. Mari dengan iman yang subur dan semangat rohani yang tak lelah, kita terus berpacu merebut harta abadi itu melalui pertobatan dan cara hidup: berbagi, peduli - terlibat, hidup bersatu, basudara, selalu rukun dan damai.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Kamis/Pekan II Prapaskah/,A/II, 050326)