Industri Penerbangan-Pariwisata Terpukul Konflik Timur Tengah
GH News March 05, 2026 11:09 AM
Jakarta -

Eskalasi konflik di Timur Tengah yang disebabkan serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran memicu gelombang pembatalan penerbangan dan tur internasional. Industri penerbangan dan pariwisata pun tertekan hebat dalam hitungan hari.

Sejak beberapa hari terakhir, lebih dari 20.000 penerbangan dibatalkan. Kini pemerintah dan maskapai berupaya keras memulangkan wisatawan yang terjebak di kawasan tersebut.

Bandara utama di wilayah Teluk, termasuk Dubai yang merupakan bandara internasional tersibuk di dunia, masih ditutup atau dibatasi pada hari keempat, menyebabkan puluhan ribu penumpang terdampar.

Mengutip , Kamis (5/3/2026), data dari Flightradar24 menunjukkan bahwa sekitar 21.300 penerbangan dibatalkan di tujuh bandara utama, termasuk Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, sejak dimulainya pemogokan.

Kekacauan tersebut tidak hanya mengganggu perjalanan bisnis dan wisata di kawasan yang berkembang pesat, tetapi juga mempersempit jalur penerbangan jarak jauh antara Eropa dan Asia. Maskapai penerbangan global kini kesulitan untuk mengalihkan rute dan menjaga operasional tetap berjalan lancar.

Maskapai penerbangan di wilayah Teluk seperti Emirates, flydubai, dan Etihad, mulai mengoperasikan sejumlah penerbangan terbatas sejak Senin. Penerbangan tersebut sebagian besar ditujukan untuk memulangkan penumpang yang terjebak.

"Ini bisa dibilang penutupan terbesar yang pernah kita lihat sejak pandemi COVID-19," kata CEO PC Agency, Paul Charles.

Ia juga menambahkan bahwa selain gangguan pada penumpang, dampak pada kargo diperkirakan mencapai miliaran dolar.

Adapun, UEA melaporkan bahwa 60 penerbangan telah lepas landas melalui koridor udara darurat khusus, dan lebih dari 80 penerbangan akan dioperasikan pada fase selanjutnya.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS mendesak warganya untuk segera meninggalkan lebih dari selusin negara di kawasan tersebut, termasuk Iran, Israel, Qatar, Bahrain, Mesir, dan negara-negara Teluk lainnya.

Namun, dengan wilayah udara yang ditutup atau dibatasi, banyak yang merasa kebingungan.

"Mereka bilang, 'Keluar', tapi bagaimana kami bisa keluar kalau wilayah udara ditutup?," ujar Odies Turner, seorang koki yang terjebak di Doha, Qatar.

Departemen Luar Negeri AS juga mengamankan penerbangan militer dan sewaan untuk mengevakuasi warganya dari Timur Tengah, setelah menghubungi hampir 3.000 orang. Beberapa anggota parlemen AS mengkritik pemerintah yang terlambat mengeluarkan peringatan ini.

Harga Tiket Melonjak dan Pariwisata Terdampak

Seiring dengan pembatalan penerbangan, permintaan untuk penerbangan alternatif juga meningkat tajam. Pemesanan tiket, terutama untuk rute seperti Hong Kong-London, melonjak. Analis memperkirakan bahwa jika konflik ini berlanjut, sektor pariwisata Timur Tengah bisa kehilangan miliaran dolar.

Seorang turis asal Prancis yang terjebak di Thailand, Tatiana Leclerc, mengungkapkan kehabisan akal untuk pembatalan penerbangan yang terjadi. Karena semua hal yang biasa dilakukan di rumah kini terhambat dengan situasi yang terjadi.

"Kami tidak bisa pulang, tidak bisa kembali bekerja, dan anak-anak tidak bisa kembali ke sekolah karena penerbangan kami lewat Timur Tengah," kata Tatiana.

Menurut seorang konsultan pariwisata internasional, Anita Mendiratta, menyebut gangguan pada jalur penerbangan utama ini memberikan tekanan besar pada maskapai.

"Ketika koridor udara utama terblokir, penerbangan harus mengalihkan rute, yang berarti melewati wilayah berisiko seperti Rusia atau Pakistan," ujar Anita.

Muhammad Lugas Pribady
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.