Data BPS: Riau Alami Inflasi 5,30 Persen pada Februari, Tertinggi di Kabupaten Tembilahan
Sesri March 05, 2026 01:29 PM

TRIBUN PEKANBARU.COM, PEKANBARU - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat inflasi secara tahunan (year on year/y-on-y) di Provinsi Riau pada Februari 2026 sebesar 5,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,06.

Kepala BPS Riau, Asep Riyadh, dalam rilis yang dimuat di laman resmi BPS Riau pada Kamis (5/3/2026), menyebutkan inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan dengan angka 7,32 persen dan IHK sebesar 113,24.

Sementara itu inflasi terendah terjadi di Kabupaten Kampar, dimana terjadi inflasi y-on-y sebesar 5,14 persen dengan IHK sebesar 112,90.

Secara month to month (m-to-m) pada Februari 2026 Provinsi Riau mengalami inflasi sebesar 0,32 persen, dan secara year to date (y-to-d) Provinsi Riau mengalami deflasi sebesar 0,12 persen. 

Sedangkan jika dibandingkan bulan Januari 2026, juga mengalami kenaikan. Pada periode Januari 2026  terjadi inflasi sebesar 4,43 persen. 

Inflasi adalah kondisi di mana harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.

Contoh sederhananya, jika sebelumnya membeli satu cup kopi seharga Rp15.000, tapi hari ini dengan uang yang sama hanya bisa mendapatkan setengah cup atau harus membayar Rp18.000. 

Baca juga: Ramadhan 2026 menjadi Tantangan Ketahanan Pangan dan Inflasi di Provinsi Riau

Penyebab Inflasi

Inflasi tidak muncul begitu saja. Biasanya ada tiga pemicu utama yang saling berkaitan:

- Tarikan Permintaan (Demand-Pull Inflation): Terjadi ketika permintaan masyarakat terhadap barang sangat tinggi, namun stok barang tidak mencukupi. Ibarat berebut barang yang jumlahnya terbatas, harga pun otomatis naik.

- Dorongan Biaya (Cost-Push Inflation): Terjadi karena biaya produksi naik. Misalnya, harga BBM atau bahan baku melonjak, sehingga perusahaan terpaksa menaikkan harga jual agar tidak rugi.

- Jumlah Uang Beredar: Jika pemerintah mencetak terlalu banyak uang, nilai uang tersebut justru menjadi lebih rendah karena keberadaannya tidak lagi "langka".

Dampak Inflasi: Baik atau Buruk?

Inflasi sering dianggap sebagai "hantu" ekonomi, padahal sebenarnya ia punya dua sisi:

1. Dampak Negatif (Jika terlalu tinggi)

- Daya Beli Menurun: Masyarakat kecil akan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok karena harga yang tidak terjangkau.

- Tabungan Tergerus: Bunga tabungan di bank seringkali kalah besar dibandingkan laju kenaikan harga (inflasi).

- Ketidakpastian Ekonomi: Pengusaha ragu untuk berinvestasi karena harga bahan baku yang tidak stabil.

2. Dampak Positif (Jika terkendali)

- Mendorong Produksi: Inflasi yang ringan (biasanya di kisaran 2-3 persen) menandakan ekonomi bertumbuh karena daya beli masyarakat kuat.

- Insentif bagi Pengusaha: Kenaikan harga yang wajar memotivasi produsen untuk meningkatkan produksi dan memperluas lapangan kerja.

 (Tribun Pekanbaru/Budi Rahmat)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.