TRIBUNGORONTALO.COM – Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Gorontalo Provinsi Gorontalo memastikan kondisi jemaah umrah asal Gorontalo di Arab Saudi tetap aman dan dapat menjalankan ibadah seperti biasa.
Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Gorontalo, Mansur Basir, menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada jemaah asal Gorontalo yang terdampak langsung oleh gangguan penerbangan di Timur Tengah. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara pada Kamis (5/3/2026).
Menurut Mansur, pelaksanaan ibadah umrah di Kota Makkah maupun Madinah secara umum berjalan lancar.
"Pelaksanaan ibadah umrah baik di Madinah maupun Mekkah terpantau lancar tanpa kendala berarti. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya," ujarnya.
Terkait informasi penumpukan jemaah di Bandara Jeddah beberapa hari terakhir, Mansur menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh pembatalan sejumlah rute penerbangan menuju negara asal jemaah.
"Memang ada informasi penumpukan di Bandara Jeddah karena beberapa rute penerbangan (cancel flight) ke negara asal dibatalkan," jelasnya.
Baca juga: Makanan Tak Layak Konsumsi, Satu SPPG di Kota Gorontalo Ditutup Sementara
Berdasarkan data Siskopatuh (Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus), saat ini terdapat sekitar 53 ribu jemaah Indonesia di Arab Saudi.
Sebagian kecil di antaranya sempat tertahan akibat pembatalan tersebut. Namun, Mansur memastikan tidak ada warga Gorontalo yang terdampak.
"Hasil koordinasi kami dengan sejumlah biro perjalanan (travel) di Gorontalo, Alhamdulillah, tidak ada jemaah kita yang tertahan di Jeddah," tambahnya.
Beberapa jemaah sempat berinisiatif pindah ke kawasan Aziziyah, Mekkah, untuk memperpanjang masa tinggal di hotel yang berada di luar pusat kota setelah mengetahui jadwal penerbangan mereka dibatalkan.
Mansur menegaskan bahwa penambahan masa tinggal merupakan tanggung jawab pihak travel sesuai kesepakatan. "Jika ada penambahan hari, itu menjadi tanggung jawab travel berdasarkan kesepakatan dengan jemaah," tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pembatalan penerbangan akibat situasi keamanan dapat dikategorikan sebagai keadaan kahar (force majeure). Dalam situasi ini, penyelesaian biasanya diserahkan pada kesepakatan antara maskapai, travel, dan jemaah.
Menyikapi eskalasi situasi di Timur Tengah, Mansur menyampaikan imbauan dari Wakil Menteri Agama RI agar calon jemaah mempertimbangkan untuk menjadwal ulang (reschedule) keberangkatan mereka.
"Berbeda dengan haji yang waktunya tetap, umrah bisa dilaksanakan kapan saja. Jadi, penjadwalan ulang sangat memungkinkan," kata Mansur.
Secara pribadi, ia juga mendukung imbauan tersebut demi keselamatan jemaah, meski keputusan akhir tetap ada di tangan jemaah dan pihak travel.
Mansur meyakinkan bahwa Mekkah dan Madinah tetap aman. Ia menjelaskan bahwa jarak antara Kota Riyadh (Ibu Kota Arab Saudi) yang terdampak konflik dengan Kota Mekkah sangat jauh, yakni sekitar 867 kilometer.
Gangguan perjalanan umumnya hanya terjadi pada penerbangan yang melakukan transit di negara-negara terdampak seperti Dubai, Kuwait, atau Qatar.
"Jemaah Gorontalo mayoritas menggunakan penerbangan langsung (direct flight) seperti Garuda, Lion, atau Saudia menuju Jakarta, Surabaya, atau Makassar, sehingga dampaknya relatif kecil," pungkasnya. (*)