TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pemprov Jambi menyebut hasil pertemuan antara pihaknya dengan Masyarakat Rimba pada Rabu (11/2/2026) kemarin masih dalam proses internal.
Sebab, pihaknya memiliki wadah pertemuan intens dengan pihak terkait untuk memberikan solusi terbaik dalam mengatasi permasahan masyarakat rimba.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jambi, Sudirman, mengatakan penyelesaian masalah itu tidak boleh parsial, sebab membutuhkan waktu yang panjang.
"Ruang hidup mereka (Masyarakat Rimba) ini kan harus tetap diberikan, sementara kondisi hutan sudah tidak ada,” katanya.
Dia menuturkan, regulasi terkait hal tersebut tidak hanya sebatas di Provinsi Jambi.
Hal itu disebabkan rata-rata masyarakat rimba hidup di Taman Nasional. Sehingga, ada keterkaitan dengan pemerintah pusat.
“Taman Nasional kan bukan domain Pemprov, bukan domain kabupaten juga. Tapi sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah se-kabupaten,” tuturnya.
Sudirman menjelaskan, masyarakat rimba masih memiliki tradisi mlangun.
Dalam tradisi itu, masyarakat rimba akan pindah ke lokasi lain jika ada keluarga nya yang meninggal.
“Itu kalau bisa, harus juga dikoordinir. Melangun
Baca juga: Daftar Wilayah di Jambi yang Berpotensi Hujan 5–11 Maret 2026
Baca juga: ATM dan M-banking Bank Jambi Gangguan, ASN Batang Hari Diimbau Tenang, Gaji Tetap Masuk
nya tuh dalam wilayah adat mereka saja. Walaupun tradisi mlangun enggak bisa dihentikan, tapi paling tidak berada dalam wilayah adat saja,” jelasnya.
“Jangan keluar dari wilayah Jambi. Kalau memang bisa, itu kan harus dibicarakan secara intens dengan para tumenggung-tumenggungnya,” lanjutnya.
Terkait usulan pendirian lembaga adat khusus bagi masyarakat rimba, Sudirman mempersilahkan para masyarakat rimba untuk membahas di internal mereka.
Menurutnya, hal itu penting sehingga harus dibicarakan.
“Menurut saya silakan mereka sendiri rembukan dulu, sesama mereka rembuk. Wilayah adatnya yang di mana? Itu wilayah adat juga penting sebetulnya untuk tidak mereka itu terus berpindah-berpindah,” ujarnya.
“Seperti apa sih sebetulnya keinginannya? Karena itu juga harus didengar. Yang didengar itu bukan hanya teman-teman, tapi generasi-generasi berikutnya. Ini yang kita terus bisa Jadi prosesnya panjang tapi komunikasi terus berjalan,” pungkasnya. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)