TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG – Dalam sepekan, Eggmpire Token bersama Yayasan Equator Bumi Lestari dan Eggcologic menggelar rangkaian aksi nyata yang menyatukan kepedulian lingkungan dengan ketahanan pangan masyarakat.
Kolaborasi ini berhasil menanam 3.000 pohon dan menyalurkan 11.840 butir telur kepada warga terdampak bencana serta keluarga kurang mampu di Jawa Barat.
Founder Yayasan Equator Bumi Lestari sekaligus inisiator Eggmpire Token, Julius Robinson, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar simbolis, melainkan bagian dari gerakan berkelanjutan.
“Kami ingin mendorong aksi lingkungan berbasis komunitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya saat penanaman 1.000 pohon di Taman Air Bojongsoang, Kabupaten Bandung (4/3/2026).
Penanaman pohon dilakukan di berbagai titik, termasuk Desa Pasirlangu, Bandung Barat, yang baru saja dilanda longsor.
Upaya ini diharapkan memperkuat struktur tanah, mengurangi risiko longsor susulan, serta memulihkan ekosistem.
Julius menekankan, “Penanaman di wilayah rawan bencana adalah strategi penting menghadapi dampak perubahan iklim.”
Tak hanya di daratan, aksi juga menyentuh kawasan pesisir.
Sebanyak 1.000 pohon mangrove ditanam di Muara Gembong, Bekasi, untuk menahan abrasi pantai sekaligus menjaga habitat biota pesisir.
Konten kreator sekaligus penyanyi Amanda Mutia, yang aktif dalam gerakan lingkungan sejak lima tahun lalu, turut hadir.
“Mangrove bukan hanya pelindung alami pantai, tapi juga penyerap karbon yang efektif,” ungkapnya.
Baca juga: Penanaman 1.400 Mangrove Perkuat Restorasi Pesisir di Mempawah, Kalimantan Barat
Selain aksi hijau, kolaborasi ini menyalurkan 740 kilogram telur ke masyarakat terdampak bencana dan keluarga kurang mampu.
Bantuan ini menjadi dukungan nyata terhadap pemenuhan gizi dan penguatan ketahanan pangan lokal.
Rangkaian kegiatan ini selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya penanganan perubahan iklim (SDG 13), kehidupan di darat (SDG 15), perlindungan ekosistem pesisir (SDG 14), serta tanpa kelaparan (SDG 2).
Julius berharap gerakan kolektif ini terus konsisten.
"Kami ingin membuktikan bahwa teknologi dan komunitas bisa berjalan beriringan untuk menjaga bumi sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat," pungkasnya.