TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Hidup dalam kamp pengungsian yang jauh dari kata layak, ratusan bahkan ribuan warga pengungsi dari Rohingya menjalani ramadhan dengan kondisi yang sederhana dan jauh dari kecukupan.
Apalagi ditengah kebijakan lembaga PBB International Organization for Migration (IOM) atau Organisasi Internasional untuk Migrasi yang mengurangi nilai jatah hadiah mereka.
Seorang perwakilan warga Rohingya di Pekanbaru, Ershad, kembali menyampaikan pesan terbuka kepada Pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia terkait kondisi ratusan pengungsi Rohingya yang saat ini tinggal di Kota Pekanbaru, Pekanbaru.
Ia menegaskan mereka adalah penyintas genosida dari Myanmar yang mencari perlindungan dan keselamatan.
Ershad menyampaikan rasa terima kasih atas sikap kemanusiaan Indonesia yang telah menerima dan memberikan tempat tinggal sementara bagi para pengungsi Rohingya.
Menurutnya, keselamatan yang mereka rasakan di Indonesia merupakan anugerah besar setelah mengalami kekerasan dan pengusiran di negara asal.
Ia juga menegaskan, para pengungsi tidak berniat menetap secara permanen di Indonesia. Keberadaan mereka disebut hanya sementara, sembari menunggu solusi jangka panjang dari komunitas internasional terkait masa depan etnis Rohingya.
Baca juga: Mahasiswa Unri Asal Rohingya Ungkap Dugaan 200 Warganya Jadi Korban Perdagangan Manusia di Dumai
Baca juga: Warga Rohingya Meninggal Dunia di Pekanbaru, Diduga Stres Berat Akibat Ketidakpastian Bantuan
Namun, kondisi kehidupan para pengungsi di Pekanbaru saat ini disebut semakin memprihatinkan. Sekitar 800 pengungsi Rohingya tinggal di rumah-rumah sewa, dan banyak keluarga kesulitan membayar biaya sewa serta memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
"Sebagian besar dari kami bersedia dan siap bekerja. Kami mencari pekerjaan apa pun seperti konstruksi, pembersihan, pengangkutan material, atau pekerjaan buruh lainnya. Sayangnya, karena kami adalah pengungsi, sangat sulit bagi kami untuk menemukan peluang,"ujar Ershad.
Ia menjelaskan, di Indonesia para pengungsi memang tidak diperbolehkan bekerja atau menjalankan usaha secara formal.
Kondisi ini membuat mereka sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan yang jumlahnya semakin terbatas akibat kendala pendanaan.
Selama bulan suci Ramadan, situasi itu semakin terasa berat. Ershad menyebut ada keluarga Rohingya yang berbuka puasa dengan makanan seadanya.
Ia pun dengan hormat memohon dukungan, baik berupa peluang pekerjaan sementara, bantuan, maupun bimbingan yang dapat membantu komunitas mereka bertahan.
Ershad mengingatkan bahwa tanpa dukungan, banyak keluarga berisiko kehilangan tempat tinggal dalam beberapa bulan ke depan dan terancam menjadi tunawisma.
"Kami dengan rendah hati memohon pengertian dan bantuan Anda selama masa sulit ini. Kami adalah Muslim, kami adalah keluarga, dan di atas segalanya kami adalah manusia yang ingin hidup bermartabat. Terima kasih Indonesia atas kebaikan dan perlindunganmu. Tolong jangan lupakan Rohingya,"ujarnya.
( Tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution)