Penemuan Anak Panah Beracun di Negara Ini, Tertua di Dunia?
GH News March 05, 2026 10:10 PM
Jakarta -

Berburu dengan menggunakan racun pada anak panah sebagai senjata, sudah dilakukan ribuan tahun lalu. Baru-baru ini ilmuwan menemukan jejak penggunaan anak panah beracun dari 60.000 tahun lalu.

Dalam studi yang terbit di jurnal Science Advances pada 7 Januari 2026, peneliti mengungkap bahwa manusia purba telah memanfaatkan racun alami lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Bukti anak panah ini menjadikannya yang tertua di dunia untuk sementara ini.

"Ini adalah bukti langsung tertua bahwa manusia menggunakan racun panah," jelas Marlize Lombard, seorang arkeolog di Universitas Johannesburg dan salah satu penulis studi tersebut, dikutip dari Populer Science.

Awal Mula Racun Alami Digunakan untuk Berburu

Para paleoarkeolog menemukan anak panah beracun kuarsa berusia 60.000 tahun di Gua Batu Umhlatazana di Provinsi KwaZulu-Natal, Afrika Selatan. Lokasi tersebut menyimpan banyak artefak dari zaman batu termasuk, bukti awal pembuatan api.

Hasil analisis kimia pada residu organik mata panah tersebut menunjukkan senyawa buphandrine dan epibuphanisine. Kedua senyawa itu sama seperti kandungan dalam bawang beracun atau gifbol (). Racun tersebut masih digunakan para penduduk asli wilayah tersebut untuk berburu.

Uniknya, tim peneliti menemukan senyawa yang sama pada mata anak panah koleksi museum di Swedia abad ke-18.

"Sangat menarik bahwa orang-orang memiliki pemahaman yang mendalam dan sudah lama tentang penggunaan tumbuhan," ujar Sven Isaksson, penulis utama studi dan arkeolog dari Universitas Stockholm.

Bukti Pemikiran Maju Manusia Purba

Selama ini, teori tentang penggunaan racun zaman purba hanya berdasarkan bukti kimia tidak langsung. Dengan para peneliti menetapkan temuan ini sebagai bukti langsung tertua penggunaan racun pada mata anak panah.

"Ini menunjukkan bahwa nenek moyang kita di Afrika bagian selatan tidak hanya menciptakan busur dan panah jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya, tetapi juga memahami cara menggunakan kimia alam untuk meningkatkan efisiensi berburu," kata Lombard.

Setelah mempelajari struktur zat kimia buphandrine dan epibuphanisine, para peneliti menyimpulkan bahwa zat-zat tersebut dapat bertahan lama di tanah dalam keadaan stabil.

Menurut arkeolog di Universitas Linnaeus Swedia yang juga penulis studi, Anders Högberg, racun pada panah menandai tingkat perencanaan, keterampilan dan pemikiran logis para manusia Zaman Batu.

"Ini adalah tanda yang jelas dari pemikiran tingkat lanjut pada manusia purba," tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.