Timur Tengah Membara, Pariwisata Diprediksi Kehilangan Rp 7,8 Kuadriliun
GH News March 05, 2026 09:10 PM
Dubai -

Konflik yang kini memanas di Timur Tengah membuat dampak besar bagi pariwisata di kawasan Teluk. Diproyeksikan Rp 7,8 kuadriliun lenyap.

Eskalasi konflik AS-Israel dan Iran telah menjerumuskan industri pariwisata di Timur Tengah dan Teluk ke dalam kekacauan. Negara-negara mulai mengeluarkan travel warning untuk menjauhi negara-negara wisata seperti UEA, Qatar dan Israel, seperti dikutip dari pada Kamis (5/3/2026).

Para pelancong yang saat ini berada di pusat pariwisata seperti Dubai dan Doha berupaya untuk pulang dengan sejumlah penerbangan penyelamatan terbatas yang sekarang beroperasi. Bagi industri pariwisata di Timur Tengah, dampak yang diproyeksikan akan sangat parah.

Ibrahim Khaled, kepala pemasaran untuk Middle East Travel Alliance, sebuah perusahaan B2B yang bekerja sama dengan operator tur internasional dan agen perjalanan di kawasan tersebut mengkonformasi hal itu.

"Kami telah melihat pertumbuhan pengunjung yang stabil dari tahun ke tahun, terutama dengan semua investasi pariwisata baru yang terjadi di seluruh wilayah, katanya.

Pertumbuhan Arab Saudi sangat cepat sejak mereka membuka diri untuk pariwisata rekreasi pada tahun 2019. Ini jelas merupakan destinasi yang paling menarik dan menjanjikan bagi pariwisata.

Namun, perang antara Iran dan Israel telah menghentikan pertumbuhan itu. Apalagi, Iran mengarahkan serangan ke Dubai, UEA.

"Pembatalan liburan telah terjadi, khususnya destinasi yang masuk dalam daftar larangan terbang atau travel warning," ujarnya.

Sebuah laporan baru oleh Tourism Economics telah merilis proyeksi dampak perang terhadap pariwisata regional, yang sesuai dengan pandangan aliansi perjalanan tersebut.

"Kami memperkirakan kedatangan wisatawan ke Timur Tengah dapat menurun 11%-27% dari tahun ke tahun pada tahun 2026 karena konflik tersebut, dibandingkan dengan perkiraan Desember kami yang memproyeksikan pertumbuhan 13%," kata Direktur Peramalan Global Helen McDermott dan Ekonom Senior Jessie Smith.

Artinya ada penurunan pengunjung internasional sebesar 23-38 juta dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Kerugian ini bukan hanya jutaan dollar, tapi lebih dari itu.

"Kerugian pengeluaran wisatawan sebesar €29 miliar-€48 miliar (Rp 7,8 kuadriliun). Ini termasuk dampak sentimen yang diperkirakan akan berlanjut di luar periode konflik langsung," ungkapnya.

Tourism Economics memproyeksikan bahwa negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) akan mengalami kerugian terbesar dalam hal volume.

"Karena mereka adalah destinasi terbesar di kawasan ini yang sebelumnya bergantung pada persepsi keamanan dan stabilitas," kata McDermott dan Smith.

UEA dan Arab Saudi sangat rentan karena volume pengunjung internasional yang besar dan ketergantungan yang tinggi pada konektivitas udara.

Transportasi udara lebih signifikan terpengaruh oleh sentimen yang lebih buruk daripada pilihan transportasi darat, kata kelompok tersebut dalam laporannya.

Sebagai perbandingan, Qatar dan Bahrain mencatat kedatangan melalui darat sebesar 32% dan 74% dari total kedatangan, sehingga secara proporsional dampaknya lebih kecil.

"Mengingat serangan balasan yang meluas oleh Iran selama akhir pekan, efek sentimen kemungkinan akan lebih luas menyebar di seluruh negara-negara GCC," kata laporan tersebut.

Tourism Economics juga menyoroti peran Timur Tengah sebagai pusat transit global, dengan bandara-bandaranya menyumbang sekitar 14% dari aktivitas transit internasional.

Hal ini pasti akan menyebabkan dampak berantai di luar kawasan tersebut, menurut kelompok tersebut. Gangguan saat ini akan memengaruhi arus perjalanan, yang biasanya transit melalui pusat-pusat Timur Tengah, termasuk rute utama antara Eropa dan kawasan Asia-Pasifik.

Bonauli
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.