Kaprodi KPI UIN Saizu Ingatkan Bahaya Flexing saat Bukber di Bulan Ramadan
abduh imanulhaq March 05, 2026 09:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO- Tradisi buka puasa bersama atau bukber menjadi salah satu momen yang paling dinantikan umat Muslim saat Bulan Suci Ramadan.

Selain menjadi ajang berbagi kebahagiaan, kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi.

Namun, di tengah perkembangan zaman dan pengaruh media sosial, makna bukber dinilai mulai bergeser.

Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Dr. Uus Uswatusolisah mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan esensi utama dari kegiatan buka bersama. 

Yaitu memperkuat silaturahmi dan memperbaiki kualitas spiritual selama bulan Ramadan.

Menurutnya, buka bersama pada dasarnya merupakan tradisi positif yang dapat mempertemukan kembali keluarga, sahabat, maupun rekan yang jarang bertemu. 

“Buka bersama itu hal yang sangat baik karena menjadi ajang silaturahmi. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan komunikasi langsung, bertemu, berjabat tangan, bahkan berpelukan. Itu memberikan efek positif bagi hubungan sosial,” ujarnya dalam program Nastar Fakultas Dakwah.

Namun demikian, ia menyoroti fenomena yang belakangan kerap terjadi, di mana sebagian orang menjadikan bukber sebagai ajang pamer gaya hidup atau flexing.

Dr. Uus menjelaskan bahwa niat menjadi faktor paling penting dalam setiap aktivitas, termasuk kegiatan buka bersama.

Dia mengingatkan bahwa jika niat seseorang hanya untuk pamer, mencari pengakuan, atau menunjukkan status sosial, maka hal tersebut dapat mengurangi nilai ibadah puasa. 

“Segala amal itu tergantung niatnya. Jika buka bersama dilakukan dengan niat yang tidak tulus, misalnya untuk pamer pakaian, tempat mewah, atau ingin dilihat orang lain, maka itu bisa merusak pahala puasa,” jelasnya.

Dia juga menyinggung fenomena flexing yang sering terlihat dari cara seseorang menampilkan identitas diri melalui pakaian, aksesoris, atau barang yang digunakan.

Menurutnya, dorongan untuk dipuji dan dikagumi merupakan naluri manusia, tetapi harus dikendalikan agar tidak berubah menjadi sikap riya.

Dalam ajaran Islam, riya atau melakukan sesuatu agar dilihat orang lain termasuk perbuatan yang sangat diwaspadai.

Bahkan, Rasulullah menyebutnya sebagai bentuk “syirik kecil”.

“Ketika motivasi hidup kita selalu karena orang lain, maka hidup kita akan terpenjara. Kita menjadi tidak bebas dan bergantung pada penilaian orang lain. Di situ tidak akan ada ketenangan,” katanya.

Selain soal niat, Dr. Uus juga menyoroti pengaruh media sosial dalam membentuk pola pikir generasi muda.

Ia menilai media sosial ibarat pedang bermata dua yang dapat memberikan manfaat sekaligus dampak negatif.

Banyak konten di media sosial yang menampilkan gaya hidup mewah atau momen tertentu yang memicu keinginan orang lain untuk mengikuti tren tersebut.

“Manusia itu mudah terpengaruh. Jika sering melihat konten flexing di media sosial, lama-lama bisa ikut terdorong melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih selektif dalam menyerap informasi di media sosial dan tidak menelan mentah-mentah semua yang terlihat di layar.

 Menurutnya, tidak semua yang diposting di media sosial mencerminkan kondisi sebenarnya. Banyak hal yang hanya merupakan pencitraan atau bagian dari “topeng sosial”.

Sebagai panduan, Dr. Uus mengajak umat Muslim meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW yang dikenal sederhana namun tetap menjaga kebersihan dan kerapian.

Ia menegaskan bahwa kesederhanaan bukan berarti tampil seadanya tanpa memperhatikan penampilan.

Rasulullah justru dikenal selalu menjaga kebersihan, kerapian, dan wangi dalam setiap kesempatan.

“Kuncinya sederhana, tidak berlebihan, dan tidak memaksakan diri. Tetapi tetap rapi, bersih, dan wangi. Itu yang dicontohkan Rasulullah,” tuturnya.

Menurutnya, kenyamanan diri juga menjadi faktor penting dalam berpenampilan.

Ketika seseorang merasa nyaman dengan dirinya sendiri, orang lain pun akan merasa nyaman melihatnya.

Terkait kebiasaan mendokumentasikan kegiatan buka bersama dan membagikannya di media sosial, Dr. Uus menilai hal tersebut tidak sepenuhnya salah.

Namun, ia menekankan pentingnya mempertimbangkan manfaat dan dampaknya.

Sebelum memposting sesuatu, seseorang sebaiknya berpikir dua kali tentang tujuan dan dampak dari unggahan tersebut.

“Pertama, apakah postingan itu bermanfaat atau tidak. Kedua, apakah akan menimbulkan konflik atau rasa iri. Ketiga, apakah mempertimbangkan kondisi sosial orang lain,” jelasnya.

Dia menyarankan agar unggahan di media sosial lebih menonjolkan pesan positif, seperti semangat silaturahmi, kebersamaan, atau nilai spiritual yang didapat dari kegiatan tersebut.

Misalnya, dengan menuliskan narasi yang mengajak orang lain untuk mempererat persaudaraan atau meningkatkan kualitas ibadah.

“Postinglah dengan narasi yang membangun kesadaran, bukan yang memicu pamer atau membuat orang lain merasa rendah diri,” katanya.

Dia menegaskan bahwa bulan Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki diri, baik secara spiritual maupun sosial.

Ia mengibaratkan Ramadan sebagai “bengkel spiritual” bagi umat Muslim.

Seseorang yang memasuki bulan Ramadan diharapkan keluar dari bulan tersebut dalam kondisi yang lebih baik.

“Ramadan adalah kesempatan untuk transformasi diri. Kita masuk Ramadan untuk memperbaiki diri dan keluar dari Ramadan menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk memaknai kegiatan buka bersama secara lebih bijak, dengan menempatkan nilai silaturahmi, kesederhanaan, dan keikhlasan sebagai tujuan utama. (***)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.