Kata Polisi Soal Mahasiswa Undip Dirundung, Ayah Korban : Anak Saya Takut ke Luar Rumah
Refly Permana March 05, 2026 09:27 PM

 

SRIPOKU.COM - Polrestabes Semarang meningkatkan status kasus pengeroyokan terhadap mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) berinisial A ke tahap penyidikan. 

Polisi menyebut jumlah terlapor ada sekitar 20 orang. 

Kasatreskrim Polrestabes Semarang, Andika Dharma Sena mengatakan, laporan atas kasus ini sudah diterima pada 16 November 2025 lalu atau satu hari setelah peristiwa pengeroyokan yang dialami oleh A.

Namun, polisi memerlukan waktu untuk mengungkap identitas para terlapor. 

Baca juga: 3 Tahun Aisyah Mengubur Mimpinya, Anak Yatim Piatu Korban Perundungan Akhirnya Kembali Bersekolah

Sebab, korban melaporkan seluruh terduga pelaku dengan nama inisial. 

“Untuk status perkara sendiri ini sudah kita naikkan ke tahap penyidikan. Tentunya penyidik di sini perlu mendapatkan nama sesuai dengan KTP karena ini diperlukan untuk proses pemanggilan dan lain sebagainya. Dan ini sudah kita dapatkan semua,” ungkap Andika di Mapolrestabes Semarang, Kamis (5/3/2026).

Ayah korban, Bagus (50), mengatakan anaknya tak hanya mengalami luka, tetapi juga trauma.

Karenanya, setelah kejadian tersebut dia tak lagi berangkat kuliah. 

Alasannya, selain kondisi kesehatan yang belum pulih, para pelaku pengeroyokan juga masih bebas berkeliaran sehingga korban takut kalau bertemu di lingkungan kampus. 

Menurut Ari, perbuatan para pelaku sangat di luar batas kemanusiaan. 

Baca juga: Heboh Perundungan di Mahasiswa Undip Semarang, Ahmad Sahroni : Kampus Bisa Saja Dievaluasi

Anaknya awalnya dipancing untuk datang ke kos di daerah Bulusan Tembalang. 

"Selanjutnya anak saya disiksa, mulai dari dipukul, disudut rokok, ditusuk jarum, dipukul pakai sabuk, digunduli hingga alis dipotong tak beraturan, bahkan Endo juga diludahi," ungkapnya.

"Saat ini untuk memulihkan kondisi anak saya, teman-teman semasa sekolahnya saya minta menemani dan memotivasi. Beberapa kali juga diajak main keluar, sekadar cari udara," kata Bagus.

Meski sudah masa pemulihan, kata Bagus, anaknya masih menahan sakit.

Di antaranya gegar otak, hidung patah dan setiap hari seperti pilek, serta mata mengalami gangguan karena tidak bisa terkena cahaya. 

Ia menuturkan, setelah kejadian tersebut tidak ada terduga pelaku atau pihak kampus Undip yang mendatangi rumahnya. 

"Tidak ada yang klarifikasi atau menjelaskan, saya hanya berharap keadilan untuk anak saya. Dia sudah menanggung kesakitan yang amat parah," ujarnya. 

Dikatakan, pengeroyokan berawal dari dugaan pelecehan seksual yang dituduhkan kepada anaknya. 

"Tapi itu tidak terbukti dan anak saya menyangkalnya hingga kemudian disiksa," kata Bagus. 

Bagus juga berharap penyidik Polrestabes Semarang bertindak profesional dan cepat dalam menangani kasus yang dilaporkannya. 

"Saya hanya ingin anak saya kuliah dan lulus, agar masa depannya lebih cerah tidak seperti bapaknya yang jual nasi goreng," ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.