SURYA.co.id, SURABAYA - BPBD Provinsi Jawa Timur meningkatkan kesiapsiagaan di tengah cuaca ekstrem.
Selain menyiagakan personel, maraknya kejadian bencana pada musim cuaca ekstrem saat ini juga direspons BPBD Jatim dengan memperkuat peralatan Early Warning System (EWS).
Kalaksa BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menegaskan EWS saat ini telah tersebar di berbagai daerah di Jatim.
Dalam sepekan ini, kegiatan pengecekan EWS dimulai dari Kabupaten Banyuwangi, tepatnya EWS sirine tsunami di Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan Kec. Pesanggaran.
Selain itu pengecekan EWS juga dilakukan di Kabupaten Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek hingga ke Pacitan.
Baca juga: Penanganan Longsor di Jalur Nasional Trenggalek-Ponorogo Capai 45 Persen, BPBD Butuh Satu Hari Lagi
“Rencananya, ada 71 EWS yang meliputi EWS banjir di 27 titik, EWS longsor di 27 titik dan sirine tsunami di 17 titik, akan dilakukan pengecekan. Pengecekan ini penting untuk memastikan kondisi fisik dan fungsinya bagi peringatan dini masyarakat sekitar,” tegas Gatot, Kamis (5/3/2026).
Lebih lanjut Gatot menyebutkan fungsi EWS sangat krusial. Salah satunya sebagaimana yang ada di Desa Klungkung Kec. Sukorambi, Kab. Jember.
Keberadaan EWS sangat membantu dalam memberikan peringatan dini terjadinya bencana banjir.
Sebab, di sana ada
Baca juga: BYD, Wuling dan Chery Pimpin Penjualan Mobil Listrik Paling Banyak di Januari–April 2025
“Kebetulan warga desa di sana masih banyak yang sering mandi di sungai, meski mereka sudah punya kamar mandi di rumah. Mereka sering menerima peringatan dini dari alarm yang berbunyi saat air mulai naik,” terangnya.
Manfaat lain keberadaan EWS juga seperti yang ada di Desa Kandangan Kec. Pesanggaran Banyuwangi yang memiliki EWS longsor.
Adanya EWS yang berlokasi di kaki bukit Kelopo Kembar, menurutnya, bisa menjadi upaya deteksi dini bagi warga sekitar saat akan terjadi longsor.
“Suara alarmnya cukup keras, terdengar hingga di perempatan jalan desa yang jaraknya lebih dari satu kilometer. Sehingga bisa menjadi peringatan warga agar segera melakukan evakuasi,” tegasnya.
Gatot menegaskan, sepanjang cuaca ekstrem yang terjadi di Jatim saat ini, pihaknya terus meminta dukungan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kewaspadaannya, utamanya yang ada di daerah kawasan rawan bencana, baik banjir, longsor maupun tsunami.
“Selain masyarakat yang harus meningkatkan kewaspadaannya, peralatan EWS juga kami chek kondisinya dan personel BPBD juga kami tingkatkan kesiagaannya,” terangnya.
Ia pun berharap, sepanjang cuaca ekstrem yang masih berlangsung saat ini, masyarakat, relawan dan personel BPBD di kabupaten/kota bisa terus berkolaborasi meningkatkan kesiapsiagaannya guna mengurangi risiko bencana yang mungkin terjadi.
“Sebetulnya, perkembangan EWS di Jatim ini bisa kami pantau lewat dashboard di kantor. Namun, pengecekan langsung ke lapangan juga perlu dilakukan, agar kami bisa mengetahui kondisi riil EWS di lokasi, supaya bisa menjadi alat deteksi dini bagi masyarakat sekitar jika terjadi bencana,” pungkasnya.