TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Pengamat Pertahanan Dr. Connie Rahakundini Bakrie menilai rentetan serangan balasan Iran ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat (AS) dan objek sipil di Timur Tengah sebagai strategi cerdas yang dirancang secara presisi.
Bukan sekadar aksi militer biasa, Teheran dianggap sengaja menyasar negara-negara sekutu AS di Teluk Arab untuk memberikan efek kejut ekonomi yang masif (economic shock).
Strategi ini terbukti efektif mengguncang wilayah yang selama ini menjadi pusat ekonomi dunia, termasuk Dubai di Uni Emirat Arab (UEA).
Connie menyoroti bagaimana Iran berhasil membalikkan logika perang modern dengan prinsip efektivitas biaya (cost-effective).
Dengan modal kecil, Iran mampu memaksa AS mengeluarkan biaya pertahanan yang tidak masuk akal.
Lebih lanjut, Connie menjelaskan bahwa negara-negara seperti UEA, Kuwait, dan Bahrain melakukan blunder besar.
Hal ini terjadi karena mereka mengizinkan Amerika Serikat mendeploy alutsista tempurnya dari wilayah mereka untuk menyerang Ibu Kota Teheran.
Akibat strategi by design dari Iran tersebut, Dubai yang tadinya merupakan surga ekonomi kini mengalami guncangan luar biasa.
Ketidakpastian keamanan membuat banyak orang mulai melakukan eksodus atau keluar dari Dubai.
"Dia (Iran) mau bikin lawan itu capek secara ekonomi. Harga minyak di Selat Hormuz bahkan melonjak tajam hingga 20 persen dalam hitungan hari," jelas Connie.
Baca juga: AS-Israel Gempur Iran, Jimly Desak Prabowo Tangguhkan BoP: Jangan Mau Diadu Domba!
Di akhir analisisnya, Connie mempertanyakan daya tahan (endurance) industri pertahanan Amerika Serikat.
Menurutnya, AS akan kesulitan memproduksi alutsista dengan kecepatan yang sama dengan konsumsi peluru dan rudal di medan tempur, terutama setelah stok mereka terkuras untuk membantu Ukraina.
"Amerika itu endurance industri pertahannya sanggup enggak secepat itu mengisi? Dia bantuin Ukraina saja sudah habis-habisan dan posisinya kalah," tandas Connie.