TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan Israel-Amerika Serikat (AS) mengguncang Iran.
Rakyat kehilangan sosok pemimpin yang selama lebih dari tiga dekade dianggap sebagai figur ayah bangsa.
Tangisan dan doa mengalir, sementara duka bercampur dengan semangat perlawanan.
Dendam membalas serangan tragis itu membara di tengah rasa kehilangan.
“Memang Ali Khamenei dikenal sebagai sosok penyayang lembut. Beliau figur ayah bagi rakyat Iran,” kata Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS) di Iran, Ismail Amin, dalam program Ngobrol Virtual (Ngovi) Live di YouTube Tribun-Timur.com, Kamis (5/3/2026).
Baca juga: Jamaah Umrah Sulsel Lebaran di Mekkah, Iran Tutup Selat Hormuz
Ayatollah Ali Khamenei dikenal dekat dengan rakyat.
Ia sering mengajak berbagai elemen masyarakat berkumpul berdiskusi, lintas profesi dan usia.
“Ketika diumumkan syahid, warga Iran menangis dan berkata saya sudah yatim. Semua, dari ibu-ibu, bapak-bapak, lansia, remaja, hingga pemuda merasa kehilangan,” ucap Ismail.
Ismail pernah ikut dalam pertemuan masyarakat dengan Ayatollah Ali Khamenei.
Saat beliau masuk ruangan, masyarakat bersorak, ingin mendekat, menyapa, bahkan menangis.
“Itu ekspresi bukan dibuat-buat. Menunjukkan beliau betul-betul pemimpin yang dicintai rakyatnya,” katanya.
Kepribadian sederhana dan selalu mementingkan rakyat membuat cinta itu tumbuh alami.
Ismail mengisahkan, Ayatollah Ali Khamenei pernah diminta pengamanan untuk dibuatkan bunker bawah tanah.
Namun beliau menolak.
“Beliau bertanya apakah warga Teheran dibuatkan bunker? Dijawab tidak. Kalau rakyat tidak dibuatkan, saya juga tidak mau,” kata Ismail.
Pernah pula diminta mengamankan diri keluar Teheran.
Namun jawabannya tetap memikirkan rakyat.
“Beliau katakan keluarkan semua warga Teheran dulu, baru saya keluar,” ucap Ismail.
Kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei inilah yang begitu diingat rakyat Iran.
Wafatnya pemimpin tertinggi Iran ini menjadi duka mendalam seluruh warga. (*)