TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Nama Pemimpin Tertinggi Iran definitif pengganti Ayatollah Ali Khamenei belum juga diumumkan.
Jelang sepekan pasca wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, kursi Pimpinan Tertinggi Iran definitif belum ditentukan.
Ayatollah Alireza Arafi sementara ini ditunjuk sebagai pengganti Ayatollah Ali Khamenei.
Dirinya menjabat sebagai Pimpinan Tertinggi Iran selama Majlis-e Khobregan menyeleksi calon pemimpin baru,
Mekanisme pemilihan berada di tangan Majlis-e Khobregan.
Majlis-e Khobregan merupakan badan deliberatif memiliki kewenangan dalam memilih, mengawasi dan memberhentikan Pimpinan Tertinggi.
Majlis-e Khobregan terdiri dari 88 ulama.
Masyarakat Iran disebut Ismail, sudah begitu percaya dengan Majlis-e Khobregan.
"Memang ada klasifikasi tertentu dan itu sangat ketat. Ini kan sistem Iran Wali Faqih, memang seorang faqih, seorang ulama yang tau hukum islam, mengetahui geopolitik, perkara keamanan dan ekonomi (bisa jadi pemimpin tertinggi),"
Sistem pemerintahan Iran memang cukup unik.
Sistem ini dikenal sebagai Wilāyat al-Faqīh (Kepemimpinan Ulama), seorang ulama dengan kualifikasi tertinggi dalam hukum Islam memegang kekuasaan tertinggi negara.
"Istilahnya berat karena diatas Presiden. Kalau presiden minimal S2, nah ini lebih berat lagi. Karena memegang wewenang perang atau tidak. Ini bukan masalah sederhana. Kalau itu ditetapkan majelis,masyarakat pasti menerima," lanjutnya.
Hingga kini belum diumumkan nama definitif pengganti Ayatollah Ali Khamenei.
Publik meyakini sudah ada nama yang disepakati dalam Majlis-e Khorbagan.
Namun nama tersebut belum diumumkan ke publik, karena berkaitan dengan keamanan.
"Iya kan faktor keamanan, kita tau hamas itu dua kali pergantian pimpinan dibunuh, setelah itu tidak diumumkan siapa pengganti. Bukan tidak ada, di internal mereka pasti ada tapi tidak diketahui. Ini masih kondisi perang jadi pertimbangan Utama keamanan dulu," ulasnya.
Menurut konstitusi Iran, ada perbedaan antara pimpinan tertinggi dan presiden negara.
Presiden merupakan kepala eksekutif yang dipilih melalui pemungutan suara langsung dari rakyat Iran.
Sedangkan Pemimpin Tertinggi Iran adalah kepala negara dengan kekuasaan tertinggi pada politik, agama militer. Kekuasaannya diatas Presiden.
Secara kewenangan, dijelaskan kepala negara sebagai pengayom dan pelindung negara.
Sementara Presiden bersifat teknis mengatur jalannya pemerintahan.
"Kepala negara berwenang beliau itu pengayom, pelindung, yang mengambil keputusan terakhir,menyelesaikan perselisihan diantara Lembaga negara. Istilahnya ya figur sama yang sosok betul-betul dihormati dan dimuliakan," ujar Ismail Amin.
"Presiden secara teknis menguasai pemerintahan,pegang kerja teknis, Kelola ekonomi, pelayanan masyarakat, hubungan negara lain," sambungnya.
Pemimpin tertinggi punya kekuasaan dan kewenangan lebih besar.
Termasuk dalam mengendalikan kekuatan militer. Pimpinan Tertinggi berhak memilih panglima militer.