Luhut Minta Indonesia Tak Ikut Memusuhi Iran: Jangan Ikut-ikutan, Ingat Cadangan Energi Kita!
jonisetiawan March 06, 2026 06:07 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran di Indonesia. Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, mengingatkan agar Indonesia tidak ikut terseret dalam konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.

Menurut Luhut, memusuhi Iran tidak membawa keuntungan bagi Indonesia. Ia menilai langkah tersebut justru berpotensi merugikan kepentingan nasional.

“Kita jangan ikut-ikut memusuhi mereka. Tidak ada gunanya,” ujar Luhut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Kamis (5/3/2026).

Baca juga: Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik Meski Iran-AS Sedang Perang! Prabowo Larang BBM Langka

Indonesia Harus Konsisten sebagai Negara Non-Blok

Luhut menegaskan bahwa posisi Indonesia sebagai negara non-blok harus dijaga secara konsisten. Dalam situasi geopolitik yang kompleks, pemerintah harus sangat berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan luar negeri.

Ia menilai kebijakan politik internasional tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ekonomi nasional, terutama terkait ketahanan energi.

“Ini berkaitan langsung dengan ekonomi kita,” kata Luhut.

Indonesia, menurutnya, masih bergantung pada impor energi. Karena itu, perkembangan konflik di Timur Tengah dapat memberi dampak langsung terhadap stabilitas pasokan minyak dan gas.

Istri Luhut genap berusia 75 tahun dan sebagai suami yang sayang istri dan keluarga, Luhut menceritakan pertemuan pertama mereka saat di bangku Gereja.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, mengingatkan Indonesia agar tidak ikut memusuhi Iran. (Instagram @luhut.pandjaitan)

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Energi Dunia

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Selat tersebut merupakan jalur strategis pengiriman minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran sendiri.

Jika jalur ini terganggu, harga energi global berpotensi melonjak tajam dan berdampak langsung pada negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

“Berapa banyak cadangan energi kita? Gas dan minyak kita sangat dipengaruhi Selat Hormuz,” ujar Luhut.

Baca juga: Prabowo Tulis Sendiri Surat Duka untuk Iran Usai Ali Khamenei Gugur Terkena Serangan Militer!

Iran Dinilai Tidak Mudah Menyerah

Selain faktor ekonomi, Luhut juga menyoroti karakter sejarah bangsa Iran yang menurutnya sangat kuat dalam menghadapi tekanan eksternal.

Ia menyebut Iran sebagai bangsa yang memiliki sejarah panjang dan tidak pernah dijajah selama ribuan tahun.

Karena itu, meski beberapa pemimpin Iran terbunuh dan kekuatan militernya mengalami tekanan, negara tersebut dinilai tidak akan mudah menyerah.

“Perang ini tidak akan selesai dalam empat minggu atau satu bulan. Tidak ada tanda-tanda mereka melemah,” kata Luhut.

Ajak Publik Tidak Bersikap Ekstrem

Di tengah situasi global yang semakin tegang, Luhut mengajak masyarakat Indonesia tidak bersikap ekstrem dengan memihak salah satu kubu dalam konflik.

Sebaliknya, ia meminta publik mendukung langkah pemerintah untuk menjaga stabilitas nasional, termasuk dalam aspek energi, pangan, dan keamanan dalam negeri.

Konflik Memanas Setelah Khamenei Tewas

Perang di Timur Tengah memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan gugur dalam serangan militer gabungan Israel dan Amerika Serikat pada akhir Februari 2026.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke berbagai pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, hingga Yordania.

Tak lama setelah itu, Iran juga menutup Selat Hormuz pada 28 Februari 2026—langkah yang langsung mengguncang pasar energi global.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.