Beberapa maskapai internasional mulai melanjutkan penerbangan dari Uni Emirat Arab secara bertahap. Mereka lega telah keluar dari Timur Tengah.
Jadwal penerbangan yang terbatas ini telah berlangsung selama beberapa hari di beberapa pusat penerbangan tersibuk di dunia. Gangguan ini telah meluas jauh melampaui zona konflik, menjebak wisatawan, pelancong bisnis, pekerja migran, dan peziarah agama di berbagai benua dan mengganggu perjalanan global yang sangat bergantung pada bandara-bandara di Teluk.
Maskapai penerbangan jarak jauh Etihad Airways, FlyDubai dan Emirates, yang berbasis di Abu Dhabi dan Dubai, mengatakan akan mengoperasikan penerbangan terbatas dari negara tersebut. Lalu lintas udara sempat ditangguhkan pada hari Sabtu dan sistem pertahanan telah mencegat rudal dan drone Iran.
Pemerintah Dubai mendesak penumpang untuk pergi ke bandara hanya jika dihubungi langsung, memperingatkan bahwa operasi masih terbatas. Menurut situs pelacakan penerbangan FlightAware, lebih dari 90% penerbangan terjadwal dari Dubai dan lebih dari setengah penerbangan yang dijadwalkan berangkat dari Abu Dhabi masih dibatalkan.
Setidaknya 16 penerbangan Etihad meninggalkan Abu Dhabi untuk mengevakuasi penumpang yang terlantar selama tiga jam pada hari Senin. Menurut layanan pelacakan Flightradar24, penerbangan itu menuju Islamabad, Paris, Amsterdam, Mumbai, Moskow, dan London.
Namun, situs web maskapai tersebut menyatakan bahwa semua penerbangan komersial terjadwal regulernya tetap ditangguhkan hingga Rabu sore, seperti dikutip dari Jumat (6/3/2026).
Emirates mengatakan pelanggan dengan pemesanan sebelumnya akan mendapatkan prioritas untuk kursi di penerbangan terbatas yang direncanakan akan dioperasikan mulai Senin malam. Sementara FlyDubai akan mengoperasikan empat penerbangan yang berangkat dari kota tersebut dan lima pesawat lain yang tiba pada hari Senin.
Maskapai itu memperingatkan bahwa jadwal dapat berubah dengan cepat seiring perkembangan situasi.
Leela Rao, seorang mahasiswa hukum berusia 29 tahun di Universitas Georgetown di Washington D.C., berhasil naik salah satu penerbangan Etihad pada hari Senin setelah mendarat di Abu Dhabi pada hari Sabtu.
Ia mengetahui tentang serangan udara tersebut saat menunggu penerbangan lanjutan dan menghabiskan waktu berjam-jam di bandara dengan mengikuti berita terkini, mendengar ledakan, dan menerima peringatan untuk berlindung di tempat sebelum maskapai mengatur penginapan hotel di Dubai.
"Saya merasa sangat, sangat, sangat bersyukur," kata Rao melalui pesan teks setelah tiba di Delhi tepat waktu untuk pernikahan seorang teman.
"Semua orang bertepuk tangan saat kami mendarat," tambahnya.
Bandara Internasional Dubai, Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi, dan Bandara Internasional Hamad di Doha, Qatar adalah pusat utama perjalanan antara Eropa, Afrika, dan Asia. Ketiganya terkena dampak langsung serangan Iran selama akhir pekan.
Orang-orang yang berencana untuk pergi ke atau dari wilayah tersebut terjebak selama berhari-hari. Bahkan mereka yang transit, tanpa tahu apa-apa harus menunggu dengan keadaan mencekam.
Wisatawan Kanada, Raymond Grewal, dan istrinya sedang dalam perjalanan pulang dari bulan madu di Maladewa ketika serangan udara AS-Israel di Iran menjebak mereka di Dubai dalam perjalanan kembali ke Vancouver.
"Anda tidak punya waktu untuk memprosesnya. Saat itu, memang menakutkan. Tapi Anda hanya mencoba mencari tahu apa yang terbaik untuk dilakukan, berlindung ketika mereka menyuruh, memantau berita, mencoba mendapatkan informasi," kenangnya.
Air Canada mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka membatalkan penerbangan antara Kanada dan Israel serta Dubai hingga 22 Maret.
Maskapai penerbangan lain di wilayah tersebut tetap menghentikan penerbangan. Qatar Airways mengatakan penerbangannya masih ditangguhkan, dengan pembaruan selanjutnya diperkirakan pada hari Selasa. Yordania mengumumkan penutupan sebagian wilayah udaranya pada hari Senin.
Indonesia mencatat lebih dari 58.000 warganya terjebak di Arab Saudi. Mereka adalah jamaah yang mengunjungi tempat-tempat suci Islam di Mekah dan Madinah selama Ramadan.
"Ini telah menjadi masalah kemanusiaan dan logistik yang mendesak," kata Ichsan Marsha, juru bicara Kementerian Haji dan Umrah Indonesia.
Ia berkoordinasi dengan otoritas Saudi, maskapai penerbangan, dan operator perjalanan Indonesia untuk mengatur rute alternatif atau penjadwalan ulang penerbangan. Ribuan wisatawan juga terdampar di pulau wisata Bali, Indonesia, karena pembatalan penerbangan internasional.
Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan sekitar 30.000 wisatawan Jerman terdampar di kapal pesiar, hotel, atau bandara yang ditutup di Timur Tengah. Pemerintah berencana mengirim pesawat ke Oman dan Arab Saudi untuk mengevakuasi wisatawan yang sakit, anak-anak, dan ibu hamil, sambil bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk membantu yang lain.
Republik Ceko mengatakan akan mengirim beberapa pesawat ke Mesir, Yordania, dan Oman untuk membawa pulang warga negaranya dari Israel dan negara-negara sekitarnya.
Lebih dari 102.000 warga Inggris yang telah mendaftarkan kehadiran mereka di wilayah tersebut. pemerintah Inggris sedang menjajaki berbagai opsi untuk membawa warganya keluar dari Timur Tengah.







