Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Tanaman sorgum yang mulai dikembangkan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kini mendapat perhatian dari pemerintah pusat.
Hasil panen sorgum dari daerah ini bahkan dikaji untuk dijadikan sumber benih guna mendukung perluasan areal tanam hingga ribuan hektare di berbagai wilayah Indonesia.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian menilai benih hasil pengembangan sorgum di Cirebon memiliki potensi besar untuk mendukung program perluasan komoditas tersebut secara nasional.
Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Gunawan, mengatakan benih dari hasil panen sorgum di Cirebon berpeluang dimanfaatkan untuk memperluas pengembangan tanaman tersebut di sejumlah daerah.
Baca juga: Panen Sorgum di Cirebon, Wagub Jabar Ungkap Strategi Pertanian Hadapi Kemarau Panjang
“Benih yang dihasilkan dari kegiatan pengembangan di Cirebon berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung perluasan areal tanam sorgum. Ini benih nanti yang dihasilkan memang akan kita jadikan sebagai benih untuk pengembangan sorgum,” ujar Gunawan saat diwawancarai media di Cirebon, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan pemerintah menargetkan pengembangan produksi sorgum di Indonesia mencapai area seluas 2.500 hektare pada tahun 2026, sehingga membutuhkan pasokan benih yang cukup dari para penangkar maupun produsen dalam negeri.
Menurutnya, keterlibatan sektor industri juga menjadi faktor penting dalam memperkuat ekosistem agribisnis sorgum di Tanah Air.
Gunawan menilai kerja sama antara industri dengan pemerintah daerah menjadi langkah positif, terutama dalam mendorong pengembangan teknologi di sektor hilirisasi komoditas tersebut.
“Kami menyambut baik dengan PTDI sebagai entitas yang akan masuk dalam pengembangan agribisnis, khususnya dalam pengelolaan hilirisasi,” katanya.
Ia menuturkan sorgum memiliki potensi besar karena hasil produksinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan pangan hingga energi alternatif.
“Sorgum ini kekuatannya bagaimana kita bisa menampung produksinya untuk proses selanjutnya, baik pangan, biofuel, maupun biomassa,” jelas Gunawan.
Menurutnya, pengembangan sorgum di Indonesia selama ini masih belum optimal, salah satunya karena industri hilir yang belum berkembang secara maksimal untuk menyerap hasil produksi petani.
Namun dengan keterlibatan industri dalam pengolahan biji maupun batang sorgum, peluang pengembangan komoditas tersebut dinilai semakin terbuka.
Selain itu, tanaman sorgum juga memiliki keunggulan karena dapat tumbuh di lahan marginal atau lahan dengan tingkat kesuburan rendah.
“Daerah-daerah yang memang unsur haranya sudah cukup tipis, ini bisa menggunakan tanaman sorgum sebagai salah satu alternatif budidaya ke depan,” ujarnya.
Sebelumnya, tanaman sorgum mulai menunjukkan potensinya sebagai komoditas pangan alternatif di Jawa Barat. Di Kabupaten Cirebon, lahan seluas 1,5 hektar yang ditanami sorgum berhasil dipanen setelah tiga bulan masa tanam.
Bahkan tanaman ini disebut dapat dipanen hingga tiga kali dalam satu kali penanaman.
Hal tersebut diungkapkan Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, saat meninjau sekaligus mengikuti kegiatan panen tanaman sorgum di Satuan Pelayanan UPTD Balai Benih Padi dan Palawija, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon.
“Iya, selain untuk ketahanan pangan, nilai ekonomisnya juga cukup tinggi. Sorgum yang saat ini kita panen seluas 1,5 hektar, kita tanam tiga bulan yang lalu dan sekarang bisa kita panen. Dalam satu kali tanam ini bisa tiga kali panen,” ujar Erwan.
Baca juga: Panen Sorgum 1,5 Hektare di Cirebon, Wagub Ungkap Potensi Besarnya: Sekali Tanam Bisa Panen 3 Kali
Ia menjelaskan sorgum merupakan tanaman multifungsi karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan.
“Sorgum adalah tanaman yang multifungsi. Bijinya bisa digunakan sebagai bahan pangan, batangnya bisa dijadikan bioetanol dan biomassa, sedangkan daunnya bisa dijadikan pakan ternak. Jadi banyak sekali fungsinya,” ucapnya.
Erwan juga menyampaikan apresiasi kepada PT Dirgantara Indonesia yang turut berkontribusi dalam pengembangan teknologi budidaya sorgum di Jawa Barat.
“Saya ucapkan terima kasih kepada PTDI yang terus mengembangkan teknologi tanaman sorgum di Jawa Barat ini,” katanya.
Ia menyebutkan dari lahan seluas 1,5 hektar tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 10 hingga 15 ton batang sorgum serta sekitar 30 ton biji sorgum.
Selain itu, hasil panen juga berpotensi menghasilkan bibit yang cukup untuk pengembangan lahan yang jauh lebih luas.
“Bibitnya bahkan bisa mencakup lahan hingga 150 hektar,” ujarnya.
Ke depan, pengembangan sorgum di Jawa Barat akan terus diperluas dengan melibatkan berbagai pihak, salah satunya melalui kerja sama antara pemilik lahan dan PT Dirgantara Indonesia.
“Alhamdulillah hari ini sudah ada MoU antara Pak Haji Ummuh Muchtar sebagai pemilik lahan dengan PTDI. Kita kembangkan nanti di daerah Sumedang sekitar 30 sampai 40 hektaran,” ucap Erwan.
Ia menambahkan pemerintah daerah akan terus memetakan wilayah lain yang berpotensi untuk pengembangan tanaman sorgum di berbagai daerah di Jawa Barat.
“Kita akan lihat lagi lahan-lahan mana yang berpotensi untuk kita kembangkan sorgum ini di Jawa Barat. Tidak hanya di sekitar Jawa Barat bagian timur laut ini, tetapi bisa juga dikembangkan di seluruh Jawa Barat,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Gita Amperiawan, mengatakan pihaknya ingin berkontribusi dalam meningkatkan nilai tambah komoditas sorgum melalui penerapan teknologi pengolahan.
“Tujuan PTDI ini adalah untuk menginjeksi teknologi di dalam pengolahan sorgum selanjutnya untuk memberikan nilai tambah,” ujar Gita.
Menurutnya, pengembangan tersebut tidak hanya fokus pada penanaman, tetapi juga pada proses pengolahan hasil panen agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas.
“Pemikiran PTDI tentunya adalah bagaimana kita mengolah sorgum untuk siap digunakan sebagai bahan bakar biomassa karena harus ada proses pengolahan. Sama seperti bagaimana sorgum ini dibuat menjadi bulir, menjadi tepung, atau menjadi varian produk yang lain,” katanya.
Ia juga menyebutkan pengembangan teknologi tersebut melibatkan mitra internasional melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.
“Partner PTDI dari China pun, melalui program CSR PTDI, komit untuk berkontribusi mencoba mengeksplor teknologi China dalam masalah food processing bagi program di Jawa Barat,” ujarnya.
Pantauan di lokasi, kegiatan panen dilakukan secara simbolis oleh sejumlah pejabat dengan memotong batang sorgum menggunakan gunting tanaman di tengah hamparan kebun yang rimbun.
Tanaman sorgum yang tingginya mencapai sekitar dua meter tampak siap panen dengan malai berwarna krem kecokelatan.
Beberapa malai sorgum bahkan terlihat dibungkus plastik transparan untuk menjaga kualitas bijinya dari hama maupun kelembapan.
Seusai panen simbolis, para pejabat dan tamu undangan juga berfoto bersama sambil memegang malai sorgum sebagai simbol keberhasilan panen komoditas pangan alternatif tersebut.