Wisata Religi Sragen : Kisah Masjid Butuh yang Didirikan Ayah Joko Tingkir, Petilasan Sunan Kalijogo
Hanang Yuwono March 06, 2026 11:13 AM

 

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Di Dukuh Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, berdiri sebuah masjid bersejarah yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Masjid ini dikenal sebagai Masjid Butuh, salah satu masjid tertua di wilayah Sragen, yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di daerah tersebut.

Sejarah Pendirian Masjid Butuh

Masjid Butuh didirikan oleh Ki Ageng Butuh, yang juga dikenal dengan nama Ki Ageng Pengging II.

Ia merupakan ayah dari Raden Joko Tingkir, yang kelak menjadi Raja Pajang.

Baca juga: Asal-usul Masjid Alit Jatinom Klaten : Dibangun Ki Ageng Gribig pada Abad ke-17

Setelah menjabat sebagai Adipati Pengging II di Boyolali, Ki Ageng Butuh memutuskan untuk meninggalkan kerajaan dan mencari kedamaian.

Ia menempuh perjalanan menyusuri Sungai Bengawan Solo, hingga akhirnya menetap di hutan yang telah dihuni beberapa penduduk.

Di lokasi itulah Ki Ageng Butuh membangun tempat tinggal sekaligus sebuah masjid untuk beribadah dan menyebarkan ajaran Islam.

Kayu-kayu besar yang menjadi tiang penyangga masjid didatangkan dari daratan lain melalui Sungai Bengawan Solo.

Baca juga: Sejarah Gua Maria Sendang Ratu Kenya : Wisata Religi di Wonogiri yang Punya Kisah Menyeramkan

Arsitektur dan Keunikan Bangunan

Masjid Butuh memiliki arsitektur tradisional Jawa dengan inspirasi dari Masjid Agung Demak, meski diperkirakan dibangun setelah masjid tersebut, sekitar abad ke-16.

Bangunan utama masjid berbentuk tajuk dengan kubah di bagian atas, sedangkan serambinya berbentuk limasan.

Tiang Penyangga Utama

Masjid ini memiliki empat soko guru (tiang utama) berbentuk persegi dengan ukuran sisi 30 cm dan tinggi 6 meter, yang disangga oleh 12 pilar tambahan berukuran 25 cm x 4 meter.

Pilar-pilar tersebut saling terhubung, membentuk struktur yang kokoh hingga kini.

Mimbar Bersejarah

Di bagian utara masjid, terdapat mimbar kayu jati dengan ukiran Arab khas Jawa, yang dilengkapi tulisan Arab bertahun 1852 M.

Menurut Takmir Masjid Butuh, Muhammad Aziz, angka ini menandai tahun pembuatan mimbar sebagai hadiah dari Keraton Surakarta pada masa pemerintahan Paku Buwono VII, meski diperkirakan masjid itu sendiri jauh lebih tua dari angka tersebut.

Baca juga: Asal-usul Deles Indah yang Kini jadi Wisata Hits di Klaten, Namanya Konon Diambil dari Daendels

Peran Masjid Butuh dalam Penyebaran Islam

Masjid Butuh bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat syiar Islam di wilayah Sragen.

Ki Ageng Butuh dijadikan panutan oleh masyarakat setempat, sehingga Islam berkembang pesat di daerah tersebut.

Kompleks masjid semula mirip dengan tata letak Keraton Solo, terdiri dari tempat tinggal raja (Ki Ageng Butuh), masjid, dan lapangan luas untuk kegiatan warga.

Selain itu, masjid juga menjadi saksi perjalanan para tokoh penting dalam sejarah Islam Jawa.

Konon, Sunan Kalijaga pernah mengajarkan agama Islam di masjid ini.

Kompleks Masjid dan Lahan Sekitar

Masjid Butuh berdiri di lahan berukuran 42 meter x 28 meter (1.176 m⊃2;), yang merupakan bagian dari lahan milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat seluas 4.225 m⊃2;.

Kompleks ini mencakup:

  • Permakaman umum: 1.673,5 m⊃2;
  • Permakaman khusus kerabat Ki Ageng Butuh: 380 m⊃2;
  • Area parkir dan perumahan juru kunci: 995,5 m⊃2;

Bangunan utama tetap mempertahankan keaslian arsitektur kayu jati, sementara serambi masjid dibangun dengan tembok sebagai pelindung.

Masjid Butuh Sebagai Pusat Aktivitas Sosial

Hingga kini, Masjid Butuh tetap digunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat. Tradisi yang masih berlangsung antara lain:

  • Pengajian rutin
  • Kenduren
  • Bersih desa

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi simbol sejarah dan identitas masyarakat Dukuh Butuh.

Titik Awal Sejarah Islam di Sragen

Masjid Butuh berada dekat dengan makam Ki Ageng Butuh dan petilasan Raden Joko Tingkir (Sultan Hadi Wijaya), yang diyakini sebagai tokoh pendiri Sragen

 Lokasinya yang strategis di tepi Sungai Bengawan Solo juga menunjukkan peran penting masjid ini dalam kegiatan perdagangan dan transportasi melalui sungai pada masa lalu.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.