Iran Klaim Kendali Selat Hormuz, Situasi Ini Disebut Bisa Jadi Jebakan bagi Donald Trump
Muliadi Gani March 06, 2026 12:54 PM

 

PROHABA.CO - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran disebut tengah menyiapkan strategi militer di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.

Situasi ini dinilai berpotensi menjadi “jebakan strategis” bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sebagaimana dilaporkan media Inggris The Telegraph.

Di tengah perang yang disebut telah melemahkan sebagian besar kekuatan konvensional Teheran, pemerintah Iran justru memanfaatkan posisi geografisnya untuk menekan Washington.

Kondisi ini membuat Gedung Putih menghadapi dilema besar: bertindak dengan risiko terseret konflik berkepanjangan, atau tidak bertindak dan membiarkan perdagangan energi global terganggu.

Iran Klaim Kendali Selat Hormuz

Garda Revolusi Iran pada Rabu (4/3/2026) mengklaim memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz.

Jalur laut sempit ini memiliki lebar sekitar 24 mil pada titik tersempitnya dan menjadi penghubung utama antara Teluk Persia dengan pasar energi global.

Selat Hormuz memiliki peran vital dalam perdagangan energi dunia. Jalur ini merupakan satu-satunya rute ekspor minyak dan gas dari beberapa negara produsen utama seperti Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, pesisir timur Arab Saudi, serta sebagian besar Uni Emirat Arab.

Diperkirakan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut setiap harinya.

Iran sebelumnya juga mengeluarkan ancaman keras terhadap kapal-kapal yang berani melintasi selat tersebut.

Pemerintah Teheran bahkan bersumpah akan “membakar” kapal yang melintas jika konflik terus berlanjut.

Ancaman rudal dan drone terhadap kapal komersial membuat jalur pelayaran tersebut praktis mengalami penutupan tidak resmi.

Perusahaan asuransi maritim dilaporkan menaikkan premi hingga 100 persen, bahkan beberapa di antaranya mencabut perlindungan asuransi bagi kapal yang ingin melewati wilayah itu.

Akibatnya, lalu lintas tanker minyak dilaporkan turun drastis hingga sekitar 90 persen sejak serangan terhadap Iran dimulai.

Baca juga: Trump Murka, Spanyol Tolak Terlibat Dalam Perang Melawan Iran Meski Diancam Putus Hubungan Dagang

Tawaran Pengawalan AS dan Risiko Eskalasi

Sebagai respons atas situasi ini, Presiden Donald Trump menawarkan skema perlindungan bagi kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Pemerintah Amerika Serikat bahkan berjanji menyediakan paket asuransi pemerintah serta pengawalan dari angkatan laut AS.

Namun langkah tersebut dinilai memiliki risiko besar.

Pakar Timur Tengah dari University of St Gallen, Andreas Bohm, mengatakan bahwa pengawalan militer memang dapat mengurangi risiko serangan terhadap kapal dagang.

Namun langkah itu juga bisa membuat pasukan Amerika menjadi target yang lebih mudah bagi Iran.

Menurutnya, kapal perang AS yang berada lebih dekat dengan wilayah Iran akan lebih rentan diserang menggunakan rudal jarak pendek.

Bohm menilai, bahkan satu insiden kecil dapat menimbulkan dampak politik besar bagi Donald Trump.

Misalnya jika sebuah kapal Amerika terkena serangan dan memerlukan operasi penyelamatan besar, hal itu dapat menjadi pukulan serius bagi citra politiknya di dalam negeri.

Selama ini, operasi militer Amerika terhadap Iran sebagian besar dilakukan dari udara dan dari pangkalan yang jauh dari wilayah konflik.

Namun jika kapal perang AS harus mengawal hingga sekitar 80 tanker minyak per hari, maka armada tersebut akan berada jauh lebih dekat dengan sisa kekuatan militer Iran.

Baca juga: Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ini Sosoknya

Ancaman Kapal Selam dan Proksi Iran

Meskipun pengeboman selama beberapa hari dilaporkan telah menghancurkan sebagian kekuatan laut Iran, ancaman militer dari negara tersebut belum sepenuhnya hilang.

Iran diperkirakan masih memiliki sekitar 17 kapal selam yang bermarkas di kota pelabuhan Bandar Abbas yang berada di dekat Selat Hormuz.

Sejauh ini, militer AS disebut baru berhasil melumpuhkan satu kapal selam Iran, yakni kapal selam kelas Fateh berbobot sekitar 500 ton yang dilengkapi setidaknya empat tabung torpedo berdiameter 533 mm.

Kapal selam tersebut dianggap sebagai salah satu aset operasional paling penting milik Iran.

Selain kapal selam, Iran juga masih menempatkan peluncur rudal jarak pendek serta drone di sepanjang garis pantai selatan negara itu.

Ancaman tambahan juga datang dari kelompok bersenjata Houthi yang berbasis di Yaman.

Kelompok tersebut dikenal sebagai salah satu proksi Iran yang paling aktif dalam konflik regional.

Menurut Andreas Bohm, Houthi kemungkinan tidak akan terlibat langsung di Selat Hormuz.

Namun mereka dapat membuka front baru di wilayah Laut Merah untuk menambah tekanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.

Ia menilai strategi Iran kemungkinan bertujuan menciptakan konflik jangka panjang yang dapat melemahkan dukungan publik Amerika terhadap perang.

Operasi Militer yang Mahal dan Rumit

Pakar Timur Tengah dari Royal United Services Institute, Dan Marks, menilai bahwa operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz bukanlah solusi yang mudah.

Menurutnya, mengatur konvoi kapal membutuhkan banyak aset angkatan laut dan dapat mengikat sumber daya militer dalam jangka panjang.

Selain itu, operasi tersebut juga memerlukan biaya yang sangat besar.

Marks menambahkan bahwa belum tentu perusahaan pelayaran bersedia mengambil risiko meskipun mendapat pengawalan militer.

Ia mencontohkan pengalaman krisis di Laut Merah pada periode 2023–2024.

Saat itu, koalisi militer Inggris dan Amerika Serikat memang mampu mencegah serangan terhadap kapal strategis, tetapi hal tersebut tetap tidak cukup untuk meyakinkan perusahaan pelayaran agar kembali menggunakan jalur tersebut secara normal.

Menurutnya, risiko terbesar adalah jika satu rudal berhasil lolos dari sistem pertahanan dan menghantam kapal konvoi.

Satu insiden saja dapat menewaskan awak kapal dan langsung mengguncang kepercayaan industri pelayaran global.

Baca juga: Stasiun CIA Amerika Serikat di Riyadh Diserang Drone, Diduga dari Iran

Dampak Besar pada Pasar Energi Dunia

Ketegangan di Selat Hormuz juga mulai berdampak pada pasar energi global.

Harga minyak dunia dilaporkan melonjak dari sekitar 70 dolar AS per barel menjadi 81 dolar AS. Di Inggris, harga bensin meningkat hampir 2,5 pence per liter sejak akhir pekan, sementara harga solar naik lebih dari 3 pence.

Pasar gas Eropa juga mengalami lonjakan signifikan. Harga gas melonjak lebih dari 50 persen, dari sekitar 31 euro per megawatt-jam menjadi 48 euro.

Analis dari Cornwall Insights bahkan memperkirakan bahwa batas harga energi di Inggris dapat meningkat hingga 160 pound atau sekitar 10 persen pada bulan Juli mendatang.

Dampak lain juga mulai terlihat pada sektor energi di Timur Tengah. Qatar dilaporkan menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah adanya serangan Iran.

Sementara itu, fasilitas minyak di kilang Ras Tanura di Arab Saudi disebut dua kali diserang drone Iran sehingga memaksa penghentian produksi sementara.

Di sisi lain, industri pelayaran internasional kini mempertimbangkan untuk menetapkan Selat Hormuz sebagai “area operasi militer”.

Jika status tersebut diberlakukan, awak kapal berhak menolak berlayar melewati jalur tersebut, sementara perusahaan pelayaran wajib memberikan bonus besar kepada kru jika mereka tetap menjalankan pelayaran.

Seorang sumber yang terlibat dalam pertemuan darurat industri maritim mengatakan bahwa situasi ini dapat menjadi hambatan besar bagi pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Menurutnya, banyak pemilik kapal yang enggan mengambil risiko melintasi jalur tersebut karena tidak yakin bahwa pengawalan militer dapat menjamin keamanan dari serangan rudal atau drone.

Baca juga: Kapal Selam AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Lepas Pantai Sri Lanka, 87 Orang Tewas

Baca juga: Mossad Gelar Operasi False Flag demi Seret Arab Saudi ke Dalam Konflik, Iran Bantah  Serang Aramco

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.