Ramadan di Masjid Jami Tua Palopo, Zakat Terkumpul Hingga Rp100 Juta
Sukmawati Ibrahim March 06, 2026 02:05 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, PALOPO – Suasana Ramadan selalu menghadirkan kehangatan tersendiri di Masjid Jami Tua Palopo, Jalan Andi Machulau, Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

Masjid bersejarah yang berada di jantung Kota Palopo ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat.

Baik pada bulan suci Ramadan maupun di luar Ramadan, berbagai kegiatan rutin digelar hampir setiap malam.

Jemaah dari berbagai kalangan datang mengikuti rangkaian ibadah yang telah menjadi tradisi turun-temurun di masjid tersebut.

Imam Masjid Jami Tua Palopo, Radhi Nur, mengatakan selama Ramadan aktivitas keagamaan di masjid berlangsung cukup padat.

“Setiap malam ada kegiatan bersama jemaah. Biasanya diisi ceramah agama, kemudian pada malam-malam lainnya kami melaksanakan tadarus Al-Qur’an bersama,” kata Radhi saat ditemui di Masjid Jami Tua Palopo, Jumat (6/3/2026).

Selain ceramah dan tadarus, kegiatan kebersamaan jemaah juga digelar pada malam Rabu dan malam Kamis.

Sementara pada malam Jumat, masyarakat berkumpul mengikuti tradisi bersanji, yakni pembacaan syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang telah lama menjadi bagian dari budaya keagamaan masyarakat setempat.

Menurut Radhi, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga mempererat hubungan antarjemaah di lingkungan masjid.

“Jemaah bisa berkumpul, bersilaturahmi, sekaligus memperkuat kebersamaan dalam beribadah,” ujarnya.

Selain kegiatan keagamaan, Masjid Jami Tua Palopo juga menjalankan sejumlah layanan sosial bagi masyarakat.

Salah satunya penyediaan mobil pengantaran jenazah yang hingga kini masih aktif digunakan warga.

Radhi menjelaskan masyarakat yang membutuhkan layanan tersebut cukup datang menemui pengurus masjid.

“Kalau ada masyarakat yang membutuhkan, cukup datang ke pengurus masjid atau kepada imam. Mobilnya bisa langsung digunakan dan tidak dipungut biaya,” jelasnya.

Layanan tersebut menjadi bentuk kepedulian sosial pengurus masjid kepada masyarakat, khususnya bagi keluarga yang sedang berduka.

Di sisi lain, pengelolaan zakat di Masjid Jami Tua Palopo juga menjadi perhatian tersendiri.

Setiap tahun dana zakat yang terkumpul di masjid ini terbilang cukup besar.

Radhi menyebut jumlah zakat yang masuk biasanya berkisar Rp90 juta hingga lebih dari Rp100 juta.

“Kadang paling sedikit sekitar Rp90 juta dan bisa lebih dari Rp100 juta. Itu tergantung jumlah masyarakat yang menunaikan zakat di sini. Dana tersebut kemudian disalurkan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan di sekitar wilayah Palopo dan sekitarnya,” tuturnya.

Menariknya, para muzakki yang menunaikan zakat di Masjid Jami Tua Palopo tidak hanya berasal dari Kota Palopo.

Sebagian di antaranya datang dari luar daerah seperti Pinrang, Sidrap, hingga Sengkang di Kabupaten Wajo.

Menurut Radhi, hal tersebut tidak lepas dari kepercayaan masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Banyak yang datang karena informasi dari orang tua atau leluhur mereka. Mereka percaya Masjid Jami Tua Palopo memiliki nilai sejarah yang kuat sebagai salah satu tempat penyebaran Islam di Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah Tana Luwu,” jelasnya.

Tingginya partisipasi masyarakat dalam menunaikan zakat di masjid ini juga diakui pengurus Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Palopo.

Wakil Ketua I Baznas Kota Palopo, Sumarsono, mengatakan Masjid Jami Tua Palopo menjadi unit pengumpul zakat (UPZ) dengan pengumpulan zakat tertinggi di Kota Palopo.

“Untuk zakat, UPZ yang paling tinggi pertama itu ada di Masjid Jami Tua Palopo,” ungkap Sumarsono sembari memperlihatkan data di laptopnya.

Ia menjelaskan tingginya pengumpulan zakat di masjid tersebut tidak terlepas dari posisi Masjid Jami Tua sebagai ikon religius Kota Palopo.

“Masyarakat masih sangat mensakralkan Masjid Jami Tua sebagai tempat yang memiliki nilai spiritual tinggi untuk menunaikan zakat. Karena itu pengumpulannya menjadi yang tertinggi,” jelasnya.

Pada 2025, Baznas Kota Palopo bahkan memberikan piagam penghargaan kepada pengurus Masjid Jami Tua atas capaian tersebut.

Menurut Sumarsono, pengumpulan infak rumah tangga muslim di masjid ini mencapai sekitar Rp32 juta, tertinggi dibandingkan masjid lainnya di Kota Palopo.

Sementara peringkat kedua ditempati Masjid Jabal Nur Perumnas Palopo dengan pengumpulan sekitar Rp17 juta.

Posisi ketiga ditempati Masjid Nurus Saada di Kelurahan Songka dengan pengumpulan sekitar Rp14 juta.

“Ini khusus infak rumah tangga muslim, bukan zakat fitrah,” imbuhnya.

Di tengah perkembangan Kota Palopo yang semakin modern, Masjid Jami Tua tetap berdiri sebagai pusat spiritual masyarakat.

Ramadan menjadi momentum ketika tradisi ibadah, kebersamaan jemaah, serta kepedulian sosial kembali terasa kuat di dalamnya.

Bagi masyarakat Palopo, masjid ini bukan sekadar tempat salat, tetapi juga ruang yang menjaga warisan sejarah dan spiritualitas Islam dari generasi ke generasi. (*)

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Andi Bunayya Nandini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.